Palm Oil

4/21/2011

 

Pengantar

Pemerintah Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap masalah palm oil yang menjadi salah satu isu penting di Australia, khususnya terkait dengan rencana pengesahan Food Standards Amendment (Truth of Labelling Palm Oil) Bill 2009 oleh Parlemen Australia. Isu palm oil menjadi pembahasan yang mengemuka di Australia apabila ditinjau dari banyaknya jumlah submisi yang masuk dari berbagai pemangku kepentingan di Australia, antara lain dari Perwakilan asing, anggota Parlemen, tokoh masyarakat, akademisi, serta masyarakat madani.

 

Dalam kerja sama RI – Australia dalam bidang ekspor palm oil, setiap tahunnya Indonesia mengekspor rata-rata sebanyak 10.066 ton palm oil ke Australia. Walaupun Australia bukan negara tujuan ekspor terbesar Indonesia seperti halnya ke negara lain, namun Indonesia telah memegang sebesar 34% dari world market share dari hasil produksi minyak tumbuhan, termasuk palm oil. Industri palm oil juga telah menghidupi 5 juta masyarakat Indonesia, sebagaimana industri peternakan telah menghidupi 1.5 juta masyarakat Australia.

 

Pembahasan lebih dalam mengenai perkembangan industri palm oil di Indonesia telah dilakukan melalui Roundtable Meeting on Palm Oil di Sydney, Australia, pada tanggal 27 Juli 2010 silam, antara Delegasi Advokasi Palm Oil Indonesia dengan para pihak yang terkait dengan masalah palm oil di Australia, yaitu Departemen Pertanian Australia, Australian New Zealand Food Authority, Departemen Kesehatan Australia dan Australian Food and Grocery Council. Pada kesempatan pertemuan dimaksud, industri palm oil dibahas secara komprehensif dari berbagai aspek, baik dari segi kesehatan, sustainability maupun dampaknya terhadap pengrusakan lingkungan. Hal ini ditujukan dengan harapan agar dapat meng-counter isu-isu negatif mengenai industri palm oil Indonesia di Australia.


Aspek Kesehatan
Bila ditinjau dari segi kesehatan, isu yang banyak diangkat adalah mengenai kandungan pestisida, kandungan heavy metal dan kandungan asam lemak jenuh (saturated fatty acid) yang dapat meningkatkan kolesterol. Hal yang perlu mendapatkan penjelasan yaitu bahwa penggunaan pestisida merupakan alternatif terakhir karena industri palm oil di Indonesia sudah menggunakan biological control untuk mengatasi hama caterpillar yang mengganggu tanaman palm oil, sehingga kemungkinan tercemar pestisida sangatlah kecil. Pada penelitian yang dilakukan atas contoh palm oil, dapat dibuktikan bahwa kandungan pestisida sangat jauh di bawah batas aman. Demikian pula halnya dengan kandungan heavy metal dalam palm oil. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, kandungan heavy metal juga sangat jauh di bawah batas aman untuk dikonsumsi.

 

Adapun mengenai palm oil dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh, perlu diketahui bahwa palm oil mengandung asam lemak jenuh (saturated fatty acid) dan asam lemak tak jenuh (mono unsaturated fatty acid) yang berimbang. Oleh karena itu, meskipun jumlah saturated fatty acid-nya cukup tinggi, palm oil tidak meningkatkan kolesterol, karena jumlah mono unsaturated fatty acid-nya juga cukup tinggi. Di samping itu, produk-produk makanan yang mengandung palm oil juga bebas dari lemak jenis trans (trans fat) yang bersifat menurunkan kolesterol HDL (high density lipoprotein atau kolesterol baik).

 

Palm oil merupakan alternatif yang lebih baik untuk membuat produk yang memerlukan lemak yang solid dengan stabilitas oksidasi yang baik dibandingkan vegetable oil yang mengandung trans fat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, saturated fat tidak mempunyai pengaruh dalam meningkatkan resiko penyakit cardiovascular. Mono dan Polyunsaturated fat yang terkandung dalam palm oil bahkan dapat menurunkan resiko penyakit jantung, sedangkan trans fat yang dikandung oleh beberapa vegetable oil lainnya dapat meningkatkan resiko penyakit jantung.
 
Aspek Lingkungan
Dari aspek sustainability, terdapat klaim dari berbagai pihak bahwa palm oil tidaklah sustainable. Namun dalam kenyataannya, palm oil lebih sedikit menggunakan lahan untuk menghasilkan minyak dan energi dibandingkan tanaman pangan lainnya yang menghasilkan minyak. Hingga saat ini, sebanyak 40 perusahaan Indonesia telah menjadi anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Bahkan, beberapa perusahaan di antaranya telah menjadi anggota semenjak pertama kali RSPO dibentuk tahun 2003. Indonesia juga akan menerapkan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) System. Sistem ini telah berhasil untuk memverifikasi bahwa palm oil merupakan industri yang sustainable.

 

Indonesia telah menghasilkan sustainable palm oil sejak tahun sebagaimana permintaan dari berbagai pihak, tetapi beberapa perusahaan baru akan membeli sustainable palm oil mulai tahun 2014 sehingga ada kekosongan konsumen sustainable palm oil selama enam tahun. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar tersebut kurang serius dalam menggunakan sustainable palm oil.

 

Sampai saat ini belum ada satu lembaga resmi yang bisa memberikan sertifikasi yang dapat diterima oleh semua negara. Masing-masing negara mempunyai kriteria sendiri, sehingga sangat menyulitkan. Meskipun demikian, sejak tahun 2008, Indonesia telah memproduksi sustainable palm oil. Saat ini Indonesia sudah memproduksi 2.5 juta ton sustainable palm oil. Permasalahan yang muncul terletak pada pihak-pihak yang menuntut agar Indonesia menciptakan sustainable palm oil belum akan membeli sustainable palm oil yang diproduksi dengan biaya sangat mahal sampai tahun 2014.

 

Perlindungan Orang Utan
Mengenai perusakan habitat orang utan akibat industri palm oil, terdapat persepsi yang keliru terhadap berbagai informasi yang beredar di masyarakat Australia. Orang utan hanya hidup di Aceh dan Kalimantan Tengah, sementara lahan untuk pengolahan palm oil terdapat di berbagai wilayah di Indonesia yang tidak mempunyai habitat orang utan. Di samping itu, Pemerintah Indonesia juga telah melakukan konservasi terhadap eksistensi orang utan, dan pelaku industri palm oil juga terlibat dalam upaya konservasi tersebut, terutama dengan memberikan pendanaan. Berbagai kerja sama antara pihak terkait telah dilakukan dengan cara penyediaan dana dan lahan bagi mereka untuk keperluan konservasi orang utan.

 

Saat ini terdapat sekitar 55.200 ekor orang utan yang tersebar di Sumatera (6.500 ekor), Kalimantan (37.900 ekor) dan Sabah dan Sarawak (10.800 ekor). Media global berkampanye bahwa industri palm oil membahayakan habitat orang utan, tetapi pada kenyataannya berkurangnya habitat orang utan lebih disebabkan karena pemukiman. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga secara aktif melakukan program-program untuk melindungi orang utan.

 

Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, palm oil merupakan bahan makanan yang aman dikonsumsi dan dapat dianggap sebagai bahan makanan yang sehat. Selain itu, industri palm oil Indonesia adalah sebuah bagian dari perekonomian Indonesia yang sustainable, berdampak positif bagi masyarakat Indonesia, tidak merusak kesehatan, dan tidak mengorbankan flora dan fauna asli dari habitatnya karena industri ini.