Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 
Skip Navigation Links
Beranda
Tentang Perwakilan
Berita dan Agenda
Profil Negara dan Kerjasama
Galeri
Visa dan Konsuler
Arsip

Working Hours for Consular Services : 09.00 – 13.00 (Monday – Friday), for any urgent inquiries please send an e-mail message to kbri.visa@gmail.com      |       

PidatoSiaran PersPublikasiLembar InformasiChildren In Conflict With The LawPalm OilKeketuaan Indonesia untuk ASEAN 2011Sensus Sapi dan Kerbau Menuju Swasembada Daging Sapi dan Kerbau pada 2014Akte Kelahiran Gratis untuk Semua Anak Indonesia

Lembar Informasi

Australia Stop Ekspor, Peluang RI Optimalkan Sapi Lokal

Kamis, 09 Juni 2011

JAKARTA, Seputar-Indonesia.com  – Pemerintah tidak mengkhawatirkan keputusan Pemerintah Australia menghentikan ekspor sapi untuk Indonesia. Sebaliknya, pemerintah akan memanfaatkan momentum tersebut untuk menciptakan swasembada daging sapi dari dalam negeri.

Pemerintah juga menjamin stok daging sapi untuk kebutuhan dalam negeri masih aman, termasuk saat puasa dan Lebaran nanti. ”Saya akan melakukan koordinasi dengan Mentan (Menteri Pertanian) untuk mencapai hal tersebut. Ini tugas berat Mentan dan kasus pelarangan ekspor sapi dari Australia menjadi pemicu yang bagus, ” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta kemarin.

Menteri Pertanian Suswono juga menandaskan penghentian ekspor sapi Australia menjadi momentum bagi para eksportir agar lebih memanfaatkan sapi lokal. Apalagi selama ini peternak sapi di Jawa Tengah dan Jawa Timur sering memberi masukan agar pemerintah menghentikan impor sapi.

Para peternak, lanjutnya, bahkan menuding pemerintah terlalu mengandalkan sapi impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga harga sapi di kedua daerah itu anjlok hingga di bawah Rp22.000/kg bobot hidup. ”Kekurangan daging bisa saja diatasi dengan menambah volume impor dari negara lain seperti Amerika dan Selandia Baru. Namun,sedapat mungkin kekurangan ini bisa ditutup dari dalam negeri.

Untuk itu kita akan terus optimalkan produksi sapi dalam negeri,”tandasnya. Kemarin, Pemerintah Australia menghentikan semua ekspor ternak hidup ke Indonesia selama enam bulan.Penghentian sementara ekspor sapi bakalan ke Indonesia itu menyusul adanya indikasi tata cara penyembelihan sapi di sejumlah rumah potong hewan (RPH) di Indonesia yang dianggap tidak memenuhi standar kesejahteraan hewan.

Isu ini mencuat setelah televisi ABC merilis laporan bertajuk Four Corners yang menampilkan tata cara penyembelihan sapi di Indonesia. Sejumlah pihak melayangkan protes dan meminta Pemerintah Australia menghentikan ekspor sapi ke Indonesia. Menteri Pertanian Australia Joe Ludwig menegaskan, Australia tidak akan mengekspor ternak ke Indonesia sebelum ada jaminan perlindungan hewan dari Indonesia.

Menurut dia, waktu penghentian ekspor selama enam bulan penting dengan pertimbangan industri peternakan di Australia bisa memanfaatkan waktu dalam memastikan rantai pasokan produk ternaknya. Ludwig meyakini industri peternakan Australia akan kembali pulih sebelum masa penghentian berakhir dalam enam bulan ke depan. ”Kerja sama dengan Indonesia ini sangat penting dan harus diteruskan,” tambahnya.

Indonesia merupakan negara tujuan ekspor ternak Australia dengan pangsa pasar mencapai 60% atau sekitar 500.000 ekor per tahun. Adapun nilai perdagangan ternak ke Indonesia selama ini mencapai 318 juta dolar Australia (USD340 juta) atau sekitar Rp2,7 triliun per tahun. Berdasarkan data perusahaan riset peternakan Meat & Livestock Australia Ltd,hingga Juni tahun lalu, ekspor hewan ternak Australia ke Indonesia sebanyak 873.573 ekor hewan senilai 698,2 juta (Rp6,35 triliun).

Ekspor tersebut dikirim melalui pelabuhan Darwin, Wyndham,Broome,dan Townsville dengan tujuan utama ke Jakarta, Medan, dan Bandar Lampung. Namun keputusan Pemerintah Australia itu mendapat protes dari kalangan peternak. Presiden Asosiasi Peternakan Wilayah Utara Australia Rohan Sullivan menilai penghentian sementara ekspor akan menghancurkan industri dan berdampak negatif pada keluarga peternak.

Menurut dia, penghentian ekspor ternak ke Indonesia akan menyebabkan kerugian karena para produsen sudah mengeluarkan miliaran dolar Australia untuk investasi infrastruktur, pelatihan guna meningkatkan kemampuan beternak. ”Ini (penghentian) tidak akan menolong industri peternakan.Kebijakan ini hanya akan membuka pintu impor Indonesia dari negara lain yang tidak mengadopsi standar peternakan seperti kami,”ujar Sullivan.

Stok Daging Sapi Aman

Pemerintah optimistis penghentian sementara ekspor sapi bakalan ke Indonesia oleh Pemerintah Australia tidak akan berdampak signifikan terhadap harga daging sapi di dalam negeri. Pasalnya, stok daging sapi nasional masih mencukupi kebutuhan hingga September mendatang.

”Tidak ada ancaman gejolak harga karena stok dalam negeri kita masih mencukupi,” ujar Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu di Jakarta kemarin. Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengungkapkan, kuota impor sapi asal Australia tahun ini 600.000 ekor dan yang sudah terealisasi sebanyak 123.500 ekor (per 31 Mei 2011).

Menurut Bayu, saat ini stok sapi bakalan asal Australia yang sudah ada di Indonesia sebanyak total 150.000 ekor,yakni hasil impor Januari– Mei2011sebanyak123.500ekor dan sisanya 26.500 ekor merupakan carry over atau stok akhir lalu. ”Dengan jumlah tersebut, pemerintah menjamin ketersediaan stok daging sapi aman hingga September mendatang, termasuk untuk keperluan puasa dan Lebaran,”jelasnya. linda s/yanto kusdiantono/bernadette lilia nova


Bantuan Hukum bagi WNI di Australia


Visa & Consular Services


TENDER WINNER ANNOUNCEMENT


Trade Expo


Buku Pedoman Penempatan di KBRI Canberra


Orangutan Outreach


Education Attache


Sensus WNI di ACT & Sekitarnya


Sensus Sapi dan Kerbau Menuju Swasembada Daging Sapi dan Kerbau pada 2014


IPHRC-OIC


Akte Kelahiran Gratis untuk Semua Anak Indonesia


Palm Oil


Children in Conflict with the Law

running2MEDIA ADVISORY FOR AMM RETREAT
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Syarat dan Ketentuan