Skip Ribbon Commands
Skip to main content

KBRI Buenos Aires

:

Lembar Informasi: KONDISI PEREKONOMIAN ARGENTINA JANUARI S/SD JUNI 2011

Title

KONDISI PEREKONOMIAN  ARGENTINA JANUARI S/SD JUNI 2011

Body

KONDISI PEREKONOMIAN  ARGENTINA JANUARI S/D JUNI 2011

(english and spanish version are still under construction/la versión en inglés y español estíán siendo realizada próximamente)

 

 

A. Pertumbuhan ekonomi Argentina mencapai 9,2% selama kuartal terakhir tahun 2010 dibandingkan periode yang sama tahun 2009

 

Konsumsi swasta yang mengalami kenaikan 11,5% selama kuartal terakhir tahun 2010, ekspor yang tinggi ke Negara tetangga Brasil dan kenaikan harga ekspor komiditi pertanian memicu membaiknya pertumbuhan ekonomi Argentina. Pesatnya pertumbuhan ekonomi ini diharapkan dapat diulangi dalam tahun 2011, namun pertumbuhan tersebut terhalang dengan tingginya angka inflasi dalam negeri Argentina, yang dapat merusak daya beli masyarakat. Nilai investasi di Argentina mengalami peningkatan sebesar 24% dari GDP selama tahun 2011, hal ini diperkirakan dapat membantu menciptakan lapangan kerja domestik.

 

Consumer Price Index (CPI) mengalami kenaikan 1% selama bulan Februari 2011, demikian dilaporkan oleh institusi statistic nasional ,INDEC. CPI menunjukkan kenaikan sebesar 15,5% selama bulan Februari 2011 dibandingkan bulan Januari 2011. Menurut perhitungan INDEC, CPI tahun 2010 adalah 11%.

 

Basic food basket bagi setiap keluarga Argentina adalah sekitar 1212 peso Argentina atau ekuivalent USD$ 350. Setiap keluarga memerlukan pendapatan sebesar 2219,40 peso setiap bulan supaya berada di atas garis kemiskinan. Pendapatan ini sudah mengalami kenaikan sebesar 2,7% selama bulan Februari 2011 dan setiap tahunnya mengalami kenaikan 20,9% ( sesuai studi konsultan swasta FIEL).

 

B.  Pendapatan dari ekspor Argentina mengalami kenaikan dalam tahun 2010

 

Argentina memperoleh sekitar 17,3 miliar dolar AS dari penjualan kedelai dan produk turunannya selama tahun 2010. Pendapatan ini merupakan 25,4% dari total ekspor Argentina. Sementara pada tahun 2009, ekspor kedelai merupakan 23,3 % dari total ekspor. Pendapatan kedua terbesar adalah dari ekspor kendaraan bermotor (mobil) yang mencapai 8,6 miliar dolar AS. Penjualan minyak dan gas pada tahun 2010 mencapai 5,4 miliar dolar AS (7,9% total ekspor), mengalami penurunan dari tahun 2006, yaitu 14,4% dari total ekspor Argentina. Berikut ini peringkat pemasukan dari ekspor Argentina : pertambangan emas 3%, petrokimia 2,5%, baja 2,3%, nikel 2,2%, gandum 2%, dan daging juga 2%.

 

 

C. Produk sektor industri Argentina mengalami kenaikan sebesar 8,8% selama tahun 2010

 

Produksi sektor industri Argentina mencapai total rekor pertumbuhannya selama tahun 2010, yaitu pada bulan November 2010 mengalami kenaikan sebesar 8,8% dibandingkan periode November 2008 s/d November 2009, demikian laporan sebuah perusahaan konsultan ekonomi swasta FIEL pada akhir Desember 2010.  Peningkatan ini dipicu oleh tingginya output produk manufaktur mobil, baja dan mineral non metalik serta tekstile. Laporan pemerintah Argentina menyebutkan angka pertumbuhan 12% selama satu tahun 2010 yang lalu. Sektor industry mengalami kenaikan sebesar 9,7% selama 11 bulan tahun 2010, sedangkan komposisi pertumbuhan sektor industry adalah sebagai berikut: kenaikan produksi metal utama sebesar 90,2%, tekstile 90,1%,  badan mobil sebesar 88,8%, petrokimia 87% dan mobil utuh sebesar 84,2%.

 

Penjualan mobil di pasar dalam negeri mengalami kenaikan 43%pada tahun 2010 dibandingkan tahun 2009, pengjualan ini termasuk produk mobil impor dan produksi dalam negeri.  Sementara itu ekspor mobil ke pasar Brasil, mitra dagang utamanya, mengalami kenaikan sekitar 447 ribu unit, atau 38,9% dalam tahun 2010 dibandingkan tahun 2009.

 

 

D. Kondisi pasar saham domestik Argentina

 

Pemerintah Argentina menerbitkan sejumlah saham baru senilai 772,3 juta peso atau sekitar 187,7 juta dolar AS untuk meningkatkan nilai saham pemerintah, demikian diumumkan secara resmi oleh pemerintah pada tanggal 11 Maret 2011, Saham semacam ini merupakan yang pertama kali diterbitkan, karena sejak krisis ekonomi domestik 2001’2002, Argentina belum memasuki pasar keuangan internasional.

 

Krisis utang pemerintah AS bulan Juli 2011 telah membawa tekanan pula pada pasar saham domestik Argentina, yang mengalami penurunan 11% selama kurun waktu terakhir bulan Juli 2011, hal ini menyebabkan Bank Sentral Argentina melepas sekiat 240 juta dolar AS ke pasar nasionalnya untuk mengintervensi nilai tukar peso Argentina terhadap dolar AS, beberapa waktu yang lalu Bank Sentral juga telah mengucurkan sekitar 500 juta dolar AS untuk mengintervensi pasar financial dalam negeri.

 

 

E. Angka pengangguran di Argentina mencapai 7,3% selama tahun 2010

 

Hampir sekitar 1,8 juta penduduk Argentina berada dalam kondisi tidak memiliki pekerjaan sampai dengan akhir tahun 2010, demikian laporan institusi statistic nasional Argentina, INDEC, pada saat melaporkan persentase angka pengangguran di Argentina, angka ini mengalami penurunan dibanding tahun 2009, yaitu 8,4%.

 

Menurut institusi statistic nasional Argentina ,INDEC, angka kemiskinan di Argentina tahun 2010 mencapai 9,9%, mengalami penurunan sekitar 3,3% dibandingkan tahun 2009, yaitu 13,2%.  Kawasan paling utama Negara Argentina menderita tingkat kemiskinan paling tinggi, yaitu 18,5%, kemduian di sebelah barat daya yaitu sekitar 11,8%. Sementara di daerah Cuyo dan provinsi Buenos Aires angka ini mencapai sekitar 9,7%. Kota termiskin di Argentina adalah Ibukota provinsi Missiones, Posada. Tingkat kemiskinan mencapai 20,7%, sementara di kota Resistencia mencapai 19,4% dan Corrientes mencapai 19%. Sebaliknya di Rio Galegos, ibukota provinsi Santa Cruz, tingkat kehidupan paling tinggi, dimana tingkat kemiskinan hanya 0,9%.

 

 

F.Inflasi di Argentina cukup tinggi dalam tahun 2010

 

Inflasi tinggi, diperkirakan sebesar 25% dalam tahun 2010, memicu peningkatan permintaan masyarakat akan uang tunai peso Argentina, pada pertengahan bulan Desember 2010 sampai dengan akhir bulan Desember 2010, kekurangan uang kerta pecahan 100 peso di anjungan tunai mandiri bank-bank Argentina yang memicu protes masyarakat di seluruh Argentina. Oleh karena itu pemerintah Argentina merencanakan untuk mengimpor uang kertas pecahan 100 peso dari Brasil lagi untuk memenuhi permintaan masyarakat.

 

G.Regulasi non automatic import  license untuk menghambat impor Argentina

 

Pemerintah Argentina menambah item bagi produk impor untuk memasuki pasar Argentina, regulasi yang dimulai sejak Februari 2009 ini pada bulan Februari 2011 telah ditambahi lagi dengan produk metalurgi, elektronik, tekstile, suku cadang mobil, sepeda dan suku cadang sepeda. Menteri Industri Argentina, menyatakan bahwa dalam REsolusi no 45 tahun 2011 dikeluarkan untuk melindungi produk nasional di dalam pasar dalam negeri.

Menteri Industri juga menyatakan bahwa setiap perusahaan Argentina diberikan ijin untuk mengimpor barang dengan nilai yang sama dengan nilai ekspornya, apabila hal ini tidak dilaksanakan maka perusahaan tersebut tidak dapat mengimpor produk dari luar negeri.

 

 

H. Neraca perdagangan RI-Argentina selama Januari s/d April 2011.

 

Volume total impor Argentina dari Januari s/d April 2011 mencapai sejumlah 65.471.885 USD$, sedangkan impor Indonesia dari Argetina mencapai 433.861.388 USD$.

 

Volume perdagangan Argentina Indonesia tahun 2009 mencapai US$ 1,055.15 juta ;

 

NERACA PERDAGANGAN INDONESIA-ARGENTINA

( Juta US$ )

Tahun

Ekspor

Impor

Saldo

Volume

%

2004

83.19

330

-246.81

413.19

223.41

2005

119.35

378.73

-259.38

498.08

20.55

2006

164.18

362.8

-198.62

526.98

5.80

2007

179.77

452.70

-272.92

632.47

20.02

2008*

79.13

144.28

-65.15

223.41

18.33

2009

94,5

657,23

-563

751,73

39.98

Sumber: BPS-Statistik Indonesia

(Diproses oleh Pusat Data – Departemen Perdagangan RI)

*Data sampai dengan Mei 2008 (sumber Infojust Argentina)

  

Produk utama ekspor Indonesia ke Argentina antara lain adalah karet alam,benang filamen sintetik, kain berbuluh, dirajut atau dikait, printer, benang dari serat stapel sintetik, sel primer dan baterai primer, kain tenun dari benang filamen sintetik, nanas kalengan, plastik karet dan furniture. Sedangkan produk impor utama Indonesia dari Argentina adalah bungkil, ampas padat hasil ekstraksi minyak kacang kedelai, kacang kedelai, pecah atau utuh, biji jagung.

 

Di bawah ini kami akan menyampaikan data-data mengenai produk dan komoditi yang diimpor dari Indonesia , yang menduduki peringkat 15 besar, (data dari Januari s/d Juni 2011) , yaitu :

 

No

ITEMS

FoB price in USD$

1

Petroleum oils obtaines from bituminous mineral and other

73.413.727,08

2

Technically specified rubbers

5.642.602,12

3

Parties for the apparatus  of part or other

2.370.318,06

4

Yarns c/torsion=a sovueltas p/meter, polyester

1.071.580,20

5

Textured yarns of polyester

994.839,82

6

Spinning artificial fiber, simple

779.712,01

7

Staple fibers dicontinuas, simple

509.770,04

8

Yarn of polyester fiber discontinues and simple

448.795,70

9

Gimped yarn, strip of heading 5404 and 5405

417.950,79

10

Insecticidas

398.348,76

11

Pineapples, prepared or conserved

304.970,00

12

Yarn o/c discontinues, polyester plus fiber/cotton

219.900, 00

13

Musical instrument, amplifier, electric & others

201.569,72

14

Yarn/polyester staple fibers, multiple

199.683,78

15

Access part and gearboxes for cars

198.055,68

Catatan : produk komoditi di atas adalah dari sekitar 100 item yang diimpor dari Indonesia dan termasuk dalam 15 komoditi terbanyak yg masuk ke pasar Argentina selama Januari s/d Juni 2011.

 

Produk Indonesia lain yang berpotensi untuk memasuki pasaran Argentina selain produk yang telah disebut diatas adalah : foot wear, buah kering, sepeda, produk kertas, suku cadang mobil dan  motor, aksesoris mobil dan motor, baju, jaket, celana, bahan tekstil, bahan jeans, dekorasi rumah, elektronik rumah tangga, lampu dan lain-lain.

 

Setelah pada tahun 2007 mencatat pertumbuhan 8,7% dan tahun 2008 6,8%, menurut Biro Statistik Argentina (INDEC) tahun 2009 ekonomi Argentina tumbuh sebesar 0.5%. Penurunan ini tentunya tidak lepas dari pengaruh krisis ekonomi global yang juga dirasakan oleh negara-negara di kawasan Amerika Latin.

 

Krisis ekonomi global telah menyebabkan penurunan ekspor Argentina secara signifikan baik karena penurunan permintaan dunia maupun penurunan harga komoditas di pasar internasional. Dibandingkan tahun 2008, ekspor Argentina pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar 20,4% yaitu sejumlah US$ 55,75 milyar sementara tahun 2008 tercatat sebesar US$ 70,02 milyar.

 

Sektor pertanian masih merupakan sektor andalan ekspor Argentina dengan total ekspor pada tahun 2009 mencapai US$ 21,55 milyar diikuti dengan waste and waste from food of industrial-pellets sebesar US$ 8,78 milyar, fats and oils US$ 4,56 milyar dan daging US$ 2,34 milyar. Selain faktor eksternal, penurunan produksi sejumlah komoditas pertanian yang menjadi andalan ekspor Argentina akibat musim kemarau dan konflik berkepanjangan antara kelompok petani dan dengan pemerintah juga menjadi penyebab turunnya ekspor tahun ini.

 

Dalam upaya untuk mempertahankan surplus, pemerintah melakukan pengetatan impor antara lain melalui Resolusi 61 tahun 2009 mengenai non automatic license. Sepanjang tahun 2009, impor Argentina tercatat sebesar US$ 38,77 milyar atau menurun sebesar 32,48% jika dibandingkan tahun 2008. Dengan demikian, Argentina masih membukukan surplus perdagangan sebesar US$ 16,98 milyar yang mengalami peningkatan sebesar 34,80% jika dibandingkan tahun 2008 dengan surplus sebesar US$ 12,60 milyar.

 

Adapun negara-negara pemasok utama yakni Brazil, Amerika Serikat, China dan Jerman, sementara negara-negara tujuan ekspornya adalah Brazil, China, Chile dan Amerika Serikat. 

 

Untuk kawasan Asia, selain Cina yang mendominasi lebih dari 60% perdagangan Argentina dengan kawasan ini, mitra dagang utama Argentina lainnya adalah Jepang, Korea Selatan, India.  Sementara itu di antara negara-negara ASEAN, Indonesia merupakan partner ketiga terbesar. Posisi pertama dan kedua ditempati oleh Thailand dan Malaysia.

 

Pemerintah Argentina masih menghadapi masalah untuk bisa mendapatkan akses ke pasar kredit internasional setelah default hutang pada tahun 2001 sebesar kurang lebih US$ 95 milyar. Pemerintah Argentina hingga saat ini belum bersedia memberikan akses kepada IMF untuk mengevaluasi kondisi ekonominya. Menteri Ekonomi Argentina, Amado Boudou, yang menjabat sejak 8 Juli 2009 telah berupaya melakukan langkah-langkah pendekatan kepada IMF dan memperbaiki citra Argentina dimata kreditor. Sebagai catatan, Amado Boudou merupakan menteri ekonomi ketiga dalam 2 tahun pemerintahan Presiden Fernandez.

 

Selain itu, IMF juga telah menyampaikan concern-nya mengenai data biro Statistik Argentina (INDEC) yang dianggap tidak reliable. Sejak tahun 2007, INDEC dianggap telah melakukan manipulasi data-data perekonomian demi kepentingan politis pemerintah. Dalam penetapan tingkat inflasi INDEC menyebutkan angka inflasi berada pada tingkat 7-8% sementara pihak swasta menyebutkan angka 20-25% sebagaimana yang dirasakan oleh masyarakat. Angka inflasi INDEC senantiasa lebih rendah dari para pengamat ekonomi dikarenakan metode perhitungannya dimana apabila harga suatu barang mengalami kenaikan yang tinggi maka barang tersebut tidak dimasukkan dalam penentuan indeks harga karena dianggap masyarakat akan menghentikan konsumsi atas barang tersebut.

 

Meskipun bersikeras bahwa inflasi terjaga pada angka satu digit, namun pemerintah tetap berupaya untuk mengatasi kenaikan harga dengan menerapkan kebijakan antara lain kuota ekspor dan subsidi atas beberapa barang kebutuhan pokok masyarakat.  

 

Sepanjang tahun 2009, Bank Sentral Argentina telah berhasil mengumpulkan cadangan devisa sebesar US$ 47,97 milyar, meningkat sebesar 3,41% dibandingkan tahun 2008 yaitu sebesar US$ 46,39 milyar. 

 

Pada tahun 2009, pemerintah Argentina masih juga belum dapat menyelesaikan konflik dengan kelompok petani mengenai pajak ekspor sehingga terjadi beberapa kali pemogokan oleh petani namun tidak sampai menimbulkan kelangkaan bahan pangan sebagaimana yang terjadi pada tahun 2008.

 

HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA - ARGENTINA

 

Neraca perdagangan Indonesia-Argentina dalam lima tahun terakhir terus menunjukan peningkatan dengan surplus masih tetap berada di pihak Argentina. Pada tahun 2009 volume perdagangan kedua negara meningkat 39,98% menjadi US$ 1,05 milyar jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Angka ini merupakan volume tertinggi dalam perdagangan kedua negara dalam lima tahun terakhir.  Namun demikian, kenaikan volume perdagangan ini lebih didominasi oleh kenaikan ekspor Argentina ke Indonesia yang mencapai angka US$ 909,56 juta atau sekitar 77% jika dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu ekspor Indonesia ke Argentina justru mengalami penurunan sebesar 39% menjadi US$ 145,59 yang antara lain disebabkan oleh pembatasan impor oleh pemerintah Argentina.

 

Produk-produk ekspor utama Indonesia ke Argentina adalah karet, benang, generator, footwear, dan furniture. Adapun produk-produk impor Indonesia dari Argentina didominasi oleh komoditas pertanian seperti terigu dan kedelai, serta industri baja.

 

NERACA PERDAGANGAN INDONESIA-ARGENTINA

( dalam juta US$ )

Tahun

Ekspor Ke Argentina

Impor dari Argentina

Balance

Volume

%

2005

144.38

392.44

-248.06

536.82

 

2006

185.33

325.26

-139.93

510.59

-4.89%

2007

214.20

422.81

-208.61

637.01

24.76%

2008

239.10

514.69

-275.59

753.79

18.33%

2009

145.59

909.56

-763.97

1,055.15

39.98%

Source: Centre for International Economy (CEI)

 MRE Argentina and Mercosur Online

 

Dalam bidang industri baja, Perusahaan baja Argentina Tenaris S.A. telah melakukan ekspansi ke Indonesia dengan membeli lebih kurang 77,45% saham PT Seamless Pipe Indonesia Jaya dari grup Bakrie pada bulan April 2009. 

 

Kebijakan-kebijakan Pemerintah Argentina yang cenderung protektif antara lain under invoice, anti dumping dan safeguard measure telah berdampak pada terbatasnya akses pasar bagi produk-produk Indonesia. Resolusi 61 tahun 2009 mengenai non automatic license, meskipun tidak secara eksplisit membatasi impor, telah  menyebabkan pengusaha Argentina mengalami kesulitan untuk mengimpor furniture termasuk diantaranya dari Indonesia karena prosedur yang berbelit dan ketidakpastian pemberian ijin. Selain itu, sembilan eksportir tekstil Indonesia juga menghadapi investigasi dumping untuk produk benang.

 

TitleInEnglish

 

BodyInEnglish

 

TitleInLocal

 

BodyInLocal

 

NewsDateTime

8/17/2011 11:00 PM

Attachments

Created at 8/17/2011 10:31 PM by Admportal Buenos Aires
Last modified at 8/30/2011 4:28 AM by Admportal Buenos Aires