Profil Negara Moldova


A. UMUM

Nama Negara
​: Republik Moldova
Lokasi                                   ​: Eropa Timur (antara Romania & Ukraina)
Luas wilayah​: 33.846 km2
Ibukota                                 ​: Chisinau (Kode area telefon +373)
Pembagian Administratif​: 32 distrik, 3 munisipalitas, 3 otonom
Bentuk Negara​: Republik Parlementer
Bendera                                 ​: 3 bagian horizontal , Biru ; Kuning ; Merah & Lambang Moldova
Lagu Kebangsaan​: Limba Noastra (Bahasa Kami)
Hari Nasional 
​: 27 Agustus
Kepala Negara​: Presiden Nicolae Timofti
Kepala Pemerintahan​: Gheorge Brega
Ketua Parlemen​: Andrian Candu
Bergabung ke Uni Eropa​: Belum Bergabung
Agama                                  ​: Orthodoks (93,3%), Protestan (2%), Katholik (1,2%), atheis (3,5%)
Bahasa Nasional​: Bahasa Moldova
Mata Uang​: Leu Moldova (MDL)
Penduduk​: 3.560.340 (2011)
Income perkapita​: US$ 4,997,- (2014
Laju Inflasi
​: 5,0% (th. 2014)
Ekspor                                  ​: Tekstil, Produk Makanan, Mesin dan minuman Anggur
Impor                                   ​: Gas, Minyak, Batu Bara, Peralatan Mesin, Produk Kimia, Mobil


B. SEJARAH

           Termasuk bagian dari Rumania selama periode perang, Moldova bergabung ke Uni Soviet pada akhir Perang Dunia II. Meskipun negara telah merdeka dari Uni Soviet sejak tahun 1991, pasukan Rusia tetap berada di Moldova sebelah timur wilayah Sungai Nistru untuk mendukung wilayah separatis Transnistria, terdiri dari mayoritas penduduk Slavia (kebanyakan Ukraina dan Rusia) dengan etnis Moldova yang minoritas.

          Pada saat ekonomi Eropa terpuruk, Moldova menjadi negara pertama bekas Soviet yang memilih menjadi komunis. Vladimir Voronin, sebagai presiden pada tahun 2001. Voronin menjabat sebagai Presiden Moldova sampai ia mengundurkan diri pada September 2009.

          Empat partai oposisi Moldova kemudian membentuk koalisi baru yaitu Aliansi untuk Integrasi Eropa (AEI) yang bertindak sebagai pengatur koalisi Moldova selama beberapa tahun ke depan. Pada Mei 2013, dua dari pihak AEI asli dan kelompok pecahan dari koalisi berkuasa kembali membentuk aliansi ketiga yang disebut Pro-Koalisi Eropa. Pemerintah Moldova di musim panas 2014 menandatangani dan meratifikasi Perjanjian Asosiasi dengan Uni Eropa, dalam rangka memajukan prioritas kebijakan Koalisi integrasi Uni Eropa.

          Setelah pemilu legislatif terbaru negara itu pada bulan November 2014, tiga partai pro-Eropa yang masuk Parlemen memenangkan total 55 dari 101 kursi dan itu cukup untuk koalisi mayoritas. Sejak itu, pertikaian antara anggota koalisi telah menyebabkan kemandegan legislatif berkepanjangan dan ketidakstabilan politik, serta runtuhnya kedua pemerintah, semua diperintah oleh koalisi pro-Eropa berpusat di sekitar Partai Liberal Demokrat (PLDM) dan Partai Demokrat (PD).


C. EKONOMI

          Meskipun kemajuan baru-baru ini saja terjadi, Moldova tetap salah satu negara termiskin di Eropa. Dengan iklim yang moderat dan lahan pertanian yang baik, ekonomi Moldova sangat bergantung pada sektor pertanian, yang menghasilkan buah-buahan, sayuran, anggur, dan tembakau. Moldova juga tergantung pada pengiriman uang tahunan sekitar $ 1.6 miliar dari sekitar satu juta orang Moldova yang bekerja di Eropa, Rusia, dan negara-negara bekas Soviet lainnya. Dengan beberapa sumber energi alam, Moldova mengimpor hampir semua pasokan energi dari Rusia dan Ukraina. Moldova masih bergantung pada energi Rusia yang ditegaskan oleh utang sebanyak $ 5 miliar dengan pemasok gas alam Rusia Gazprom, sebagian besar hasil dari konsumsi gas alam tak terbarukan terletak di wilayah separatis Transnistria. Pada bulan Agustus tahun 2013, pekerjaan dimulai pada pipa baru antara Moldova dan Rumania yang akhirnya bisa memecah monopoli Rusia pada pasokan gas Moldova.

          Tujuan pemerintah berintegrasi dengan Uni Eropa telah menghasilkan beberapa kemajuan yang berorientasi pasar. Moldova mengalami perbaikan pertumbuhan ekonomi seperti yang diharapkan pada tahun 2014 disebabkan peningkatan produksi pertanian, kebijakan ekonomi yang diadopsi oleh pemerintah Moldova sejak 2009, dan penerimaan preferensi perdagangan Uni Eropa.

          Moldova menandatangani Perjanjian bisnis secara dalam dan Komperhensif Perdagangan Bebas dengan Uni Eropa selama musim gugur 2014, yang menghubungkan produk Moldova ke pasar terbesar di dunia. Namun, pertumbuhan terhambat oleh harga tinggi untuk gas alam Rusia, larangan impor Rusia pada anggur Moldova, peningkatan pengawasan asing produk pertanian Moldova, dan utang eksternal Moldova yang besar. Dalam jangka panjang, ekonomi Moldova tetap rentan terhadap ketidakpastian politik, kapasitas administratif yang lemah, kepentingan birokrasi pribadi, korupsi, harga bahan bakar yang lebih tinggi, tekanan Rusia, dan rezim separatis ilegal di wilayah Transnistria Moldova