Perdagangan RI - UE

Mendag: Ekspor Produk Kayu Indonesia Langsung Masuk Jalur Hijau di Eropa

​Menteri Perdagangan (Mendag) Thomas Lembong mengemukakan, kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Kantor Uni Eropa, di Brussels, Belgia, pekan lalu, mendapat kejutan yang sangat positif. "Tahap perundingan CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang namanya scoping ternyata bisa selesai pada saat Pak Presiden berkunjung di Brussel, ini suatu kejutan yang luar biasa," kata Mendag kepada wartawan usai Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (25/4) petang.

Mendag menuturkan, sebetulnya scoping ini sudah dimulai antara Indonesia dengan Uni Eropa di tahun 2010, dan dalam 4 tahun tidak selesai-selesai. Namun,  berkat kepemimpinan yang luar biasa dari Presiden Jokowi dan Wakil Presiden, dukungan yang luar biasa dari para Menko, scoping CEPA Indonesia-Uni Eropa itu bisa selesai dalam 4 bulan.

"Pihak Uni Eropa juga sangat terkejut, tapi menanggapi dengan sangat antusias, sangat positif. Ini saya pribadi merasa merupakan sebuah perkembangan, bahkan boleh dibilang sedikit  historis," ungkap Mendag.

Terkait pada kerja sama vokasi kejuruan, Mendag menjelaskan, proses negosiasi CEPA Indonesia-Uni Eropa ini diperkirakan  akan butuh waktu 2-2,5 tahun. Namun ia meyakinkan, bahwa kedua belah pihak mengharapkanquickwin, yaitu kerja sama di bidang kejuruan. "Jadi sudah diputuskan akan segera dilakukan rakor-rakor gabungan para Menko, khususnya Menko Ekonomi dan Menko PMK untuk mengkonkretkan akademi-akademi, lembaga-lembaga pelatihan, sistem-sistem sertifikasi untuk kejuruan," papar Mendag.

Sertifikasi
Dalam kesempatan itu Mendag Thomas Lembong juga menyampaikan, selain itu pihak Uni Eropa menyambut sangat antusias langkah pemerintah Indonesia memberlakukan sistem SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu), yang diberlakukan sebelum berangkat.

"Ini adalah yang pertama di dunia, pertama untuk di Uni Eropa dan mereka menyambut dengan antusias dengan SVLK ini. Ekspor produk kayu kita ke Uni Eropa bisa langsung masuk jalur hijau, tidak lagi melalui proses inspeksi kontainer, dan lain sebagainya," papar Mendag.

Sementara terkait sawit, menurut Mendag, Jerman, Inggris, Belanda,  maupun Uni Eropa menyambut baik ajakan pemerintah RI untuk berkoordinasi dan bekerja sama melawan kampanye hitam atau diskriminatif terhadap ekspor kita di bidang sawit.

"Kami melaporkan kemajuan-kemajuan dalam bidang lingkungan hidup, pelestarian gambut, dan pihak Uni Eropa menyambut sangat gembira wacana yang dilontarkan Pak Presiden sebelum berangkat ke Uni Eropa yaitu moratorium sawit," jelas Mendag seraya menegaskan, ada cukup banyak kemajuan yang cukup menggembirakan dalam dialog antara Indonesia dengan pihak Uni Eropa soal perdagangan sawit itu. 

(Sekneg)