Economic

​a.     Profil Ekonomi Belgia

Belgia menganut sistem ekonomi pasar bebas. Neraca perdagangan Belgia surplus rata-rata sekitar USD 20 miliar dalam 10 tahun terakhir.

Belgia mencetak angka pertumbuhan ekonomi 1,34% pada tahun 2015. Pemerintah Belgia berkomitmen untuk memotong defisit anggaran di sektor publik sejalan dengan kebijakan Uni Eropa, serta menargetkan pertumbuhan sebesar 1,4% untuk tahun 2016.

Perdagangan internasional secara tradisional merupakan kontributor penting terhadap pertumbuhan GDP Belgia. Lebih dari dua per tiga GDP Belgia bersumber dari perdagangan internasional, salah satu yang tertinggi di kalangan negara Uni Eropa dari segi persentase. Sektor industri terkonsentrasi di kawasan Flanders di utara Belgia, yang merupakan daerah padat penduduk. Belgia tidak memiliki banyak bahan mentah sehingga pasokan bahan mentah bergantung pada impor.

Pada tahun 2015, tingkat pengangguran di Belgia mencapai 8,5% (tertinggi dalam 10 tahun terakhir). Pemerintah  Belgia menetapkan target untuk menurunkan tingkat pengangguran menjadi  8,1% pada tahun 2016.

​Data Perdagangan RI-Belgia

* (sumber: Kementerian  Perdagangan RI)

 

 

2015

Total Perdagangan: USD 1,67 miliar

Ekspor: USD 1,11 miliar

Impor: USD 559 juta

Neraca: Surplus RI USD 554 juta 

  2014

Total Perdagangan: USD 1,80 miliar

Ekspor: USD 1,22 miliar

Impor: USD 585 juta

Neraca: Surplus RI USD 632 juta

  2013

Total Perdagangan:USD 1,90 miliar

Ekspor:USD 1,26 miliar

Impor: USD 643 juta

Neraca: Surplus RI USD 617 juta

2012

Total Perdagangan: USD 1,93 miliar

Ekspor: USD 1,30 miliar

Impor: USD 628 juta

Neraca: Surplus RI USD 669 juta

Realisasi Investasi Langsung (FDI) Belgia ke Indonesia 

* (sumber: BKPM)

2015 : USD 7,4 juta, 72 proyek2014 : USD 13,6 juta, 21 proyek
2013 : USD 60,3 juta, 35 proyek2012 : USD 23,9 juta, 16 proyek                              

Ekspor Utama RI ke Belgia (2014)

* (sumber: BPS RI)

Alas kaki (28,1%), pakaian (15,2%),  mebel (4,5%),  perekam suara (3,2%),  benang sintetis (2,9%), ban (2,7%), kopi (2,7%), kayu triplek (2,2%), daun tembakau (1,7%), kertas (1,5%), lampu (1,3%), jeroan (1,1%), cat sintetis (1,0%)

Impor Utama RI dari Belgia (2014)

* (sumber: BPS RI)

Produk kimia organosulfur (11,1%), konsentrat susu (9,1%), kompresor angin (4,8%), kertas daur ulang (3,1%), darah/bahan baku vaksin (2,9%), produk kimia nitrogen heterosiklik (2,8%), pupuk kimia (2,8%), mentega (2,8%), truk (2,6%), obat-obatan (2,3%), cokelat (2,3%), pati gandum (1,4%)

Wisatawan Belgia ke Indonesia

* (sumber: BPS RI)

28.084 orang (2014)

28.329 orang (2013)

24.129 orang (2012)

Jumlah WNI di Belgia

* (sumber: KBRI Brussel)

1.634 orang (Maret 2016)

Jumlah Mahasiswa RI di Belgia

* (sumber:  KBRI Brussel)

538 (2015)
Forum Bilateral RI-Belgia-

b.     Perkembangan Kerjasama Ekonomi Indonesia dan Belgia

Neraca perdagangan kedua negara dalam 5 tahun terakhir selalu menunjukkan surplus untuk Indonesia. Total nilai perdagangan bilateral tahun 2014 sebesar USD 1,80 miliar, dengan surplus USD 632 bagi Indonesia. Sementara itu, total perdagangan pada tahun 2015 sebesar USD 1,67 miliar dengan surplus USD 554 juta.

Komoditas ekspor unggulan Indonesia ke Belgia (2014) adalah: alas kaki (28,1%), pakaian (15,2%),  mebel (4,5%),  perekam suara (3,2%),  benang sintetis (2,9%), ban (2,7%), kopi (2,7%), kayu triplek (2,2%), daun tembakau (1,7%), kertas (1,5%), lampu (1,3%), jeroan (1,1%), cat sintetis (1,0%).

Sementara, Indonesia mengimpor dari Belgia (2014): produk kimia organosulfur (11,1%), konsentrat susu (9,1%), kompresor angin (4,8%), kertas daur ulang (3,1%), darah/bahan baku vaksin (2,9%), produk kimia nitrogen heterosiklik (2,8%), pupuk kimia (2,8%), mentega (2,8%), truk (2,6%), obat-obatan (2,3%), cokelat (2,3%), pati gandum (1,4%).

Dalam bidang perpajakan, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belgia telah menandatangani Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B), ditandatangani pada tanggal 17 November 1973 di Brussel. Perjanjian tersebut dinegosiasikan ulang dan ditandatangani kembali pada tanggal 16 September 1997, kemudian mulai diberlakukan tanggal 1 Januari 2002.

Indonesia secara reguler berpartisipasi di acara tahunan European Seafood Exposition yang diselenggarakan di Parc des Expositions, Brussel. Keikutsertaan Indonesia pada acara ini dimaksudkan untuk meningkatkan volume ekspor produk hasil laut Indonesia ke Belgia.

Meskipun bukan merupakan importir utama, minyak kelapa sawit/CPO merupakan salah satu isu yang mengemuka dalam perdagangan RI – Belgia. Dalam rangka meng-counter kampanye negatif terhadap CPO Indonesia, Pemri dalam berbagai kesempatan menyelenggarakan kontra kampanye negatif kelapa sawit. Pemri telah mengajukan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai voluntary scheme di Uni Eropa, dan sedang dalam proses pembahasan. Tiga asosiasi perusahaan Eropa terkait kelapa sawit berkantor pusat di Belgia, yaitu Fediol (asosiasi produsen minyak nabati), Coabisco (federasi produsen coklat dan biskuit), dan Imace(asosiasi margarine Eropa).

c.     Investasi di Belgia

Investasi Belgia, di luar sektor migas dan keuangan, tahun 2015 sebesar USD 7,4 juta, mengalami penurunan selama 3 tahun terakhir.

Sektor investasi terbesar Belgia di Indonesia adalah perkebunan, baja, farmasi, garmen dan tekstil, pergudangan, transportasi dan telekomunikasi. Perusahaan terbesar Belgia di Indonesia antara lain Solvay (bahan kimia), SIPEF (perkebunan), Bekaert (industri baja), dan Delhaize/Superindo (retail supermarket).

*****