GUBERNUR JENDERAL TAPLEY SEATON KAGUMI BATIK INDONESIA

​"Indonesia adalah negara demokrasi besar di dunia dan memiliki salah satu warisan seni budaya yaitu Batik sangat dikagumi oleh dunia," demikian disampaikan oleh Gubernur Jenderal Federasi Saint Christopher (St. Kitts) dan Nevis, Y.M. Sir Samuel Weymouth Tapley Seaton, pada saat menerima surat-surat kepercayaan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Federasi St. Kitts dan Nevis di Government House, Basseterre, St. Kitts, 23 Mei 2017. Duta Besar Priyo Iswanto didampingi oleh Pejabat KBRI Bogota, Achmad Djatmiko.

 

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Jenderal juga menyampaikan salam hangat kepada Presiden RI, Joko Widodo, beserta seluruh rakyat Indonesia dari segenap rakyat dan pemerintah St. Kitts dan Nevis. "Pemerintah Saint Kitts dan Nevis menyambut baik kedatangan Duta Besar Priyo Iswanto dan mengharapkan peningkatan kerja sama di masa datang," demikian tambah Gubernur Jenderal.

 

Dalam tanggapannya, Duta Besar Priyo Iswanto menyampaikan bahwa Indonesia memandang penting St. Kitts dan Nevis dirinya akan terus berupaya mendekatkan kedua bangsa melalui interaksi people to people contact yang dapat dikembangkan melalui kerjasama ekonomi, seni dan budaya. "Bersamaan dengan kedatangan kami di St. Kitts dan Nevis,  kami hadirkan seorang pelatih batik dari Indonesia guna melaksanakan Batik Workshop sebagai bagian dari vocational training yang diharapkan oleh Pemerintah St. Kitts dan Nevis," demikian disampaikan oleh Duta Besar Priyo Iswanto.

 

Kesempatan penyerahan Surat-surat Kepercayaan juga dimanfaatkan oleh Duta Besar Iswanto untuk menggelar kegiatan Batik Workshop yang berlangsung selama dua hari, masing-masing di kota Basseterre, 24 Mei 2017, dan di kota Nevis, 25 Mei 2017. Workshop tersebut dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat kreatif St. Kitts dan Nevis sejumlah 60 orang dan diselenggarakan bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri St. Kitts dan Nevis serta Batik House Indonesia yang mengirim Ibu Venny Alamsyah sebagai ahli batik dan pemimpin workshop tersebut.

 

Secara terpisah, pada hari yang sama Dubes RI Bogota melakukan kunjungan kehormatan kepada Menteri Luar Negeri St. Kitts dan Nevis, Y.M. Mark Brantley, di Government Headquarters, Basseterre, St. Kitts. Dalam kunjungannya tersebut, kedua pihak membahas potensi dan peluang kerja sama antara kedua negara, salah satunya di bidang perubahan iklim, people to people contact, kerja sama antar kamar dagang dan industri kedua negara, pendidikan dan pelatihan, serta kerja sama di fora internasional. "Perubahan iklim merupakan existential threat dan dipandang secara serius bukan hanya bagi St. Kitts dan Nevis, tetapi juga bagi hampir seluruh negara di kawasan Karibia," demikian disampaikan oleh Menlu Brantley terkait salah satu isu kerja sama bilateral Indonesia-St. Kitts dan Nevis yang dapat dijalankan. "Pemri sudah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas karbon sebesar 29% pada tahun 2030 atau 41% dengan bantuan internasional," demikian tanggapan Duta Besar Priyo Iswanto.

 

Terkait hubungan bilateral, Menlu Brantley "mengapresiasi respon cepat Pemerintah RI atas permohonan pelatihan batik oleh Pemerintah St. Kitts dan Nevis, hal ini merupakan indikasi terhadap kualitas hubungan kedua negara yang sangat baik." Selain itu, Dubes RI Bogota menyampaikan bahwa salah satu area peningkatan hubungan bilateral adalah pertukaran beasiswa dan cendekiawan sebagai bagian dari penguatan people to people contact. "Masyarakat kedua negara memiliki advantage dari penggunaan bahasa Inggris karena masyarakat St. Kitts dan Nevis adalah penutur asli bahasa Inggris yang merupakan bahasa asing utama di Indonesia," demikian ditambahkan oleh Duta Besar Priyo Iswanto.

 

Dalam rangka peningkatan kerja sama ekonomi, Duta Besar Priyo Iswanto telah melakukan pertemuan dengan Presiden Kamar Dagang dan Industri St. Kitts dan Nevis, Mr. Jose Rosa, di kantor KADIN St. Kitts dan Nevis, Basseterre. Pada pertemuan tersebut, Duta Besar Priyo Iswanto mengundang pengusaha St. Kitts dan Nevis untuk menjajaki peluang bisnis dengan Indonesia dengan menghadiri pameran Trade Expo Indonesia, bulan Oktober 2017. Selain itu, pertemuan menyepakati untuk mengusulkan Memorandum of Understanding antar KADIN kedua negara untuk meningkatkan kontak bisnis antara Indonesia dan St. Kitts dan Nevis.

 

Hubungan diplomatik Indonesia – St. Kitts dan Nevis dimulai secara resmi pada tanggal 30 Januari tahun 2014 dengan ditandatanganinya Komunike Bersama Pembukaan Hubungan Diplomatik di New York, Amerika Serikat. Dari segi hubungan ekonomi, data BPS RI mencatat total perdagangan kedua negara mencapai USD 966 ribu pada tahun 2016, yang didominasi oleh ekspor Indonesia. Trend perdagangan kedua negara mengalami peningkatan yang cukup tinggi yakni 34,16% sejak tahun 2012. Produk ekspor Indonesia antara lain: kendaraan bermotor beserta suku cadangnya, mebel dan produk furnitur lainnya, busana wanita dan aksesoris pakaian lainnya. Peluang produk Indonesia yang dapat dipasarkan di St. Kitts dan Nevis antara lain: investasi industri perhotelan dan pariwisata, industri spa dan perawatan tubuh, mebel dan perabotan untuk perhotelan dan rumah tinggal, pesawat terbang sebagai moda transportasi jarak pendek antar pulau, dan busana batik pantai yang cocok dengan iklim tropis di kawasan Karibia.(sumber: KBRI Bogota)