HUBUNGAN DIPLOMATIK INDONESIA - KOLOMBIA

Hubungan diplomatik RI - Kolombia secara resmi dimulai sejak tanggal 15 September 1980 melalui penandatanganan Joint Communique di Jenewa oleh Watap RI, Atmono Suryo dan Duta Besar Kolombia untuk Roma, Mr. Jaramillo. Perwakilan RI di Bogota dibuka berdasarkan pada Keppres Nomor 15 Tahun 1989 dan Kepmen Nomor SK-004/OR/89/01, seiring dengan kedatangan Duta Besar RI pertama, Dubes Trenggono pada tanggal 26 Mei 1989.

Selama kurun waktu antara peresmian hubungan  diplomatik dengan pembukaan KBRI, hubungan diplomatik kedua  negara dilaksanakan oleh perwakilan RI di Brazilia D.F., yang pada saat itu menangani hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Brazil, Kolombia dan Peru. Sementara itu Kolombia telah membuka kedutaannya di Jakarta sejak tahun 1983, meskipun pada tahun 2003 terpaksa ditutup sementara dengan alasan efisiensi dan pengetatan anggaran.

KBRI Bogota dibuka sejak tahun 1989 dan telah dipimpin oleh 8 (delapan) Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh, sebagai berikut:

Dubes LBBP RI Trengono (1989 - 1992)

Dubes LBBP RI Agusni Sastradireja (1993 - 1996)

Dubes LBBP RI Samsi Abdullah (1996 - 1999)

Dubes LBBP RI Wasal M. Falah (1999 - 2002)

Dubes LBBP RI Setianto Poedjowarsito (2003-2005)

Dubes LBBP RI Michael Menufandu (Mei 2008-Agustus 2011)

Dubes LBBP RI Trie Edi Mulyani (Desember 2012-Januari 2017)

Dubes LBBP RI Priyo Iswanto (April 2017-sekarang)


​Duta Besar Priyo Iswanto diambil sumpah jabatannya oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 13 Maret 2017 sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Republik Kolombia, merangkap Antigua dan Barbuda serta Saint Christopher dan Nevis, berkedudukan di Bogota, D.C.

Pada tanggal 8 Mei 2017, Duta Besar Priyo Iswanto menyerahkan surat-surat kepercayaan sebagai Dubes LBBP RI untuk Republik Kolombia kepada Presiden Juan Manuel Santos di Istana Kepresidenan Palacio Nariño, Bogota.

Pada tanggal 23 Mei 2017, Duta Besar Priyo Iswanto menyerahkan surat-surat kepercayaan sebagai Dubes LBBP RI (non residen) untuk Federasi Saint Christopher dan Nevis kepada Gubernur Jenderal Sir Samuel Weymouth Tapley Seaton di Government House, Basseterre, St. Kitts.

Pada tanggal 16 Juni 2017, Duta Besar Priyo Iswanto menyerahkan surat-surat kepercayaan sebagai Dubes LBBP RI (non residen) untuk Antigua dan Barbuda kepada Wakil Gubernur Jenderal Sir Clare Roberts di Government House, St. John's, Antigua.

Hingga bulan Mei 2017, tercatat secara resmi 113 WNI di Kolombia termasuk seluruh perangkat dan keluarga KBRI Bogota (40 orang). Di luar perangkat dan keluarga KBRI sebagian besar dari WNI tersebut merupakan rohaniawan, pekerja profesional di bidang telekomunikasi, perminyakan dan industri jasa, dan WNI lainnya yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dari suami yang berkewarganegaraan asing.

Tidak seperti di negara besar lainnya, sampai saat ini tidak terdapat organisasi kemasyarakatan Indonesia di Kolombia, baik yang berlatarbelakang kedaerahan, keagamaan maupun profesi. Hal ini disebabkan karena masih rendahnya jumlah WNI di  Kolombia. Namun demikian, KBRI Bogota saat ini sedang menjajaki berbagai usaha untuk memprakarsai berdirinya berbagai organisasi bisnis, maupun organisasi kemasyarakatan dan kebudayaan antara Indonesia - Kolombia.

Walaupun di Kolombia belum terdapat organisasi kemasyarakatan Indonesia, namun masyarakat Indonesia yang ada di Kolombia senantiasa bertemu khususnya pada peringatan hari raya dan hari nasional Indonesia. Selain itu terdapat friends of Indonesia, yaitu komunitas masyarakat Kolombia yang berperan aktif dalam berbagai kegiatan KBRI dan masyarakat Indonesia.


 

PERKEMBANGAN HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA DAN KOLOMBIA

HUBUNGAN POLITIK

Hubungan kedua negara di bidang politik tetap terjalin baik, didasari sikap saling menghormati, kerjasama dan saling pengertian. Kerjasama ini dilakukan dalam bentuk pemberian dukungan timbal balik terhadap pencalonan wakil untuk menduduki kepemimpinan di lembaga dan organisasi internasional. Demikian halnya, saling kunjung antar pejabat tinggi kedua negara pun terlaksana dengan baik.

Pertemuan Bilateral RI-Kolombia tingkat Kepala Negara terakhir dilakukan pada tanggal 30 November 2015 di sela-sela COP21 Paris, Perancis. Sedangkan pertemuan bilateral tingkat Menteri terakhir dilakukan pada tanggal 6 Juli 2015 antara Menlu RI dengan Menlu Kolombia dalam rangka kunjungan Tim Perdamaian RI ke Kolombia.

Dalam kunjungan Menlu RI, Retno. L.P. Marsudi, bersama Tim Ahli Perdamaian RI (yang dipimpin oleh Bapak Hamid Awaluddin) ke Bogota pada tanggal 6 Juli 2015, antara lain dibahas kemungkinan dukungan Pemri dalam program paska konflik di Kolombia, khususnya dalam konteks Demobilization, Disarmament and Reintegration (DDR), termasuk dukungan dalam upaya Pemerintah Kolombia melakukan konversi lahan koka menjadi lahan pertanian lainnya (kelapa sawit, karet atau kakao). Tim dari Kolombia awalnya akan berkunjung ke Indonesia pada akhir 2015 guna melakukan tukar pengalaman dengan Tim Ahli Perdamaian RI, namun kunjungan ditunda karena permasalahan internal Kolombia.

Peningkatan hubungan bilateral terus diupayakan oleh KBRI di berbagai bidang. Sejalan dengan perkembangan globalisasi dan era teknologi, persepsi terhadap jarak geografis yang sebelumnya banyak dilihat sebagai kendala, kini diupayakan untuk diubah. Kedekatan tidak lagi harus dominan tergantung pada jarak fisik, tetapi ditentukan oleh kepentingan kedua belah pihak akibat tingginya intensitas hubungan di segala bidang.

Selama tahun 2015-2016 terdapat penandatanganan 3 MoU, antara lain: MoU Kerja Sama Pemberantasan Produksi dan Perdagangan Narkotika (circular, 1 dan 7 November 2016), MoU Kerja Sama bidang Pertanian Antara Kementerian Pertanian RI dan Kolombia (17 Februari 2015), dan MoU Kerjasama antara KADIN dengan CONFECAMARAS (15 April 2015).

Saat ini mekanisme dialog bilateral tertinggi di antara kedua negara adalah Joint Commission/Sidang Komisi Bersama (SKB) RI - Kolombia. Pertemuan pertama telah diselenggarakan tanggal 3 Mei 2013 di Bogota, Kolombia.  Forum tersebut dipandang penting dalam mengkoordinasikan berbagai kerja sama politik-hukum-keamanan-ekonomi-sosial-budaya dan berkontribusi dalam memajukan kemitraan strategis kedua negara. SKB ke-2 sedianya dijadwalkan di Indonesia pada tahun 2016 namun hingga kini Pemerintah Kolombia masih membahas secara internal pelaksanaan SKB ke-2 tersebut.

 

HUBUNGAN EKONOMI

Perdagangan bilateral antar Indonesia dan Kolombia menunjukan surplus yang cukup besar di sisi Indonesia. Namun demikian terdapat tendensi penurunan. Selama lima tahun terakhir, perdagangan bilateral didominasi oleh ekspor Indonesia, sedangkan impor Indonesia mengalami trend menurun sebesar -23,59% pada periode 2012-2016. Hal ini disebabkan antara lain oleh belum pulihnya perekonomian dunia dari krisis global, pelemahan nilai mata uang Kolombia terhadap dollar AS akibat penurunan harga minyak dunia, dan krisis internal Kolombia yang mempengaruhi sektor industri manufaktur.

Menurut data Badan Pusat Statistik RI, tercatat pada periode 2012-2016 trend pertumbuhan perdagangan menurun -7,60%. Pada tahun 2016 total perdagangan antara kedua negara mencapai US$ 133,19 juta dengan perincian ekspor Indonesia ke Kolombia sebesar US$ 124,97 juta dan impor sebesar US$ 8,21 juta. Pada periode Januari-Februari 2017 total nilai perdagangan menurun sebesar -3,46% bila dibandingkan periode yang sama pada tahun 2016.

Adapun produk Indonesia yang mempunyai telah masuk dan memiliki pasar cukup bagus di Kolombia antara lain produk tekstil, alas kaki, stainless steel, bahan kimia, produk karet dan turunannya, produk mebel, kerajinan dan dekorasi rumah, produk kelapa sawit dan turunannya, produk kertas dan atk, kaca dan keramik, bahan bangunan, alat elektronik, alat olahraga, produk plastik dan pembungkus lainnya, produk aksesoris2, buku anak-anak, produk buah dan sayuran segar serta dalam kemasan, alat pertambangan, produk pertanian, produk otomotif, suku cadang kendaraan bermotor dan lain sebagainya. Selain daripada itu produk perdagangan yang potensial untuk dikembangkan antara lain seafood dan udang, bumbu dan makanan asia, produk elektronik dan IT (smart phone dll), aksesoris kendaraan bermotor, kosmetik, spa, dan industri strategis.

Selain di bidang perdagangan, hubungan ekonomi Kolombia dan Indonesia juga relatif meningkat dalam bidang pariwisata. Menurut data statistik pengeluaran visa oleh KBRI Bogota tahun 2016 tercatat terdapat 1150 visa kunjungan ke Indonesia, jumlah tersebut meningkat cukup signifikan jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2015, pengeluaran visa mencapai 858. Sementara itu, di bidang peningkatan kapasitas juga terjadi peningkatan hubungan saling tawar program dan misi saling kunjung untuk mempelajari berbagai pengetahuan dan pengalaman antara lain dalam bidang gula tebu, karet, agro energi, manajemen resiko bencana, pembangunan paska-konflik, dan pariwisata.

 

HUBUNGAN SOSIAL BUDAYA

Untuk memperkenalkan budaya Indonesia, salah satu upaya Pemerintah Indonesia melalui KBRI adalah setiap tahunnya menawarkan beberapa beasiswa untuk belajar di Indonesia seperti Beasiswa Darmasiswa dan Beasiswa KNB. Selain itu, KBRI terus aktif menyelenggarakan event-event promosi di Kolombia bekerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat dan Universitas/Institut di Kolombia. Pemerintah Kolombia juga memberikan beasiswa setiap tahun kepada pemandu wisata Indonesia dan wartawan untuk belajar bahasa Spanyol di Kolombia dalam kerangka kerja sama FEALAC. Berbagai kerja sama lainnya seperti kunjungan teknis dari beberapa Universitas di Kolombia ke KBRI Bogota untuk mempelajari perkembangan Poleksosbud di Indonesia.

Di bidang kerja sama teknik, untuk meningkatkan pamor batik di dunia KBRI juga mengadakan Workshop Batik Making baik di Kolombia maupun di negara-negara akreditasi. Selain itu, Badan Kepresiden Kolombia untuk Kerja Sama Internasional (Agencia Presidencial de Cooperacion Internacional de Colombia-APC) bekerja sama dengan berbagai Kementerian, Kamar Dagang Bogota dan Institusi Pemerintah pada tahun 2016 telah mengundang 2 pengusaha muda binaan Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Provinsi DKI Jakarta dalam Seminar Kewirausahaan Muda dengan tujuan menyatukan para pengusaha muda yang ada di Kolombia untuk dapat saling berbagi pengalaman sukses dan memperluas jaringan diantara para peserta seminar. Kegiatan Exchange of Experiences antara kedua negara antara lain: di bidang Coral triangle yang dilaksanakan pada September 2016 di Kolombia; di bidang pengelolaan penanganan bencana yang dilaksanakan pada Agustus 2016 di Kolombia

Di bidang olahraga, Federasi Bulutangkis Kolombia pernah mengirim 4 atlit dan 1 pelatih bulutangkis untuk mengikuti pelatihan bulu tangkis di Semarang, Jawa Tengah, selama 6 minggu dari tanggal 10 September 2015 hingga pertengahan November 2015. Pelatihan dilaksanakan bekerjasama dengan Yayasan PT. Djarum Indonesia.



KETERANGAN DASAR KOLOMBIA

Umum

1. Nama Resmi Negara : Republica de Colombia​​​
​​​​2. Bentuk Negara : Republik
3. Sistem Pemerintahan​:  Presidensial
4. Kepala Negara       : Juan Manuel Santos Calderon (sejak 7 Agustus 2010)
5. Wakil Presiden​: Óscar Naranjo (sejak 29 Maret 2017)
​6. Menteri Luar Negeri​: Maria Angela Holguin
​7. Ketua Kongres​: Mauricio Lizcano Arango​​
8. Ketua Senat​​: ​Mauricio Lizcano Arango
9. Ketua Camara: ​Miguel Angel Pinto Hernandez
10. Dasar Negara: Konstitusi 1991 (disahkan 7 Juli 1991)
11. Hari Nasional       : 20 Juli (Merdeka 20 Juli 1810)
​12.Lagu Kebangsaan   ​:  O´Gloria Inmarcersible
13. Bendera Nasional : Tiga pita horisontal kuning (top, double-lebar), biru, dan merah.
14. Simbol Negara     ​:  Andean condor
15. Bahasa Nasional  ​:  Spanyol
​16. Ibukota​:  Bogotá Distrito Capital (Bogotá D.C.)
17. Sumber daya alam​:  Minyak bumi, gas alam, batu bara, bijih besi, nikel,                     
   emas, tembaga, zamrud dan tenaga air.​
18. GDP: $ 377.947 juta dolar (2014 p)
​19. Pertumbuhan GDP: 0,3% (3rd Trimester 2016) 
20. GDP Per kapita​: $ 7,130 dolar (2016)
21. GDP Industri​: Pertanian : 22.76%, Industri: -0,5%, (1st Trimester 2015)
  Jasa: 7,6%.
22. Tingkat Pengangguran​: 7,5% (2016).
23. Total Ekspor: $ 31,04 miliar dolar (2016).
24. Komoditas Ekspor ​: minyak bumi, batubara, zamrud, kopi, nikel.
​25. Mitra Ekspor ​: AS (27,6%), Panama (6,7%), China (6,3%), Spanyol (4,4%),

Belanda (4,2%), Ekuador (4%) (2016)

​26.  Total Impor

: $ 42,84 miliar dolar (2016).

27. Komoditas Impor : Peralatan industri, kendaraan, barang-barang konsumsi.
28. Mitra Impor: AS (28,7%), China (18,6%), Meksiko (7,1%), Jeman (4,2%), Brasil (3,9%), Perancis (3,5%) (2016)
​​29. Cadangan devisa

      dan emas

: $ 46,08 miliar dolar (2016).
30​.  Hutang Luar Negeri​: $110,9 miliar (2016)
31. Nilai tukar Mata Uang ​ : Peso Kolombia (COP) $ 2.800 per dolar AS (Juni 2017)​​

 

GEOGRAFI

Satu-satunya negara di kawasan benua Amerika Selatan yang memiliki garis pantai di laut Pasifik dan laut Karibia. Puncak tertinggi Pico Cristobal Colon 5.775 mdpl. Kolombia memiliki beberapa gunung berapi aktif seperti Galeras 4.276 mdpl yang terakhir erupsi tahun 2010.

Sumber daya alam Kolombia terdiri dari minyak bumi dan gas, batu bara, bijih besi, nikel, emas, tembaga, dan batu zamrud. 37,5% daratannya merupakan tanah pertanian, 54,4% merupakan hutan.

Perbatasan

Kolombia berbatasan dengan Laut Karibia di sebelah utara dan barat laut; Venezuela dan Brasil di timur; Peru dan Ekuador di selatan; serta Panama dan Laut Pasifik di barat.

Luas daerah

2.129.752 km persegi (dataran 1.141.748 km² dan lautan 988.000 km²)

Garis pantai

3.208 km (1.760 km Laut Karibia, Samudera Pasifik Utara 1.448 km)

Iklim

Kolombia beriklim tropis yang  terdiri dari 2 musim yakni musim hujan (Maret-Juni, September-November) dan musim kering (Desember-Maret, Juli-Agustus). Ibukota Bogota berada pada ketinggian 2.640 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata antara 9ºC hingga 19ºC.

 

PENDUDUK

Kolombia adalah negara terbesar ke-26 di dunia, dan negara ke-empat terbesar di Amerika Selatan (setelah Brasil, Argentina, dan Peru), dengan area lebih dari dua kali Perancis. Di Amerika Latin, negara ini juga negara ketiga untuk jumlah populasi setelah Brasil dan Meksiko. Kolombia juga merupakan kekuatan menengah dengan populasi kedua terbesar yang berbahasa Spanyol di dunia setelah Meksiko.

Dikenal karena kebudayaannya, dan juga merupakan pusat industri manufaktur terbesar di Amerika Selatan. Kolombia juga merupakan negara dengan keragaman etnik yang bervariasi di lintas Selatan, di mana ini merupakan hasil dari migrasi berskala besar pada abad ke-20. Dan sejak saat itu, negara ini mendapatkan penambahan jumlah populasi yang drastis.

Jumlah Penduduk: 49.214.694 juta (DANE, 2017)

Jumlah penduduk kota besar: Bogota 9.285.331, Medellin 3.731.447, Cali 2.869.909, Barranquilla 1.897.989, Bucaramanga 1.122.945 (2015)

Komposisi Penduduk: Mestizo 58%, putih 20%, 14% campuran, hitam 4%, campuran hitam-Amerindian 3%, Amerindian 1%

Agama: Katolik Roma 90%, lainnya 10%


POLITIK/PEMERINTAHAN

Kolombia merupakan negara kesatuan berbentuk republik berdasarkan Konstitusi 1991 yang menggantikan Konstitusi 1886. Konstitusi 1991 mengatur berbagai tugas dan fungsi pemerintah pusat dan daerah dan lembaga-lembaga negara beserta hak dan
kewajiban masing masing lembaga. Kolombia menganut sistem pemerintahan demokrasi dengan presiden sebagai kekuasaan tertinggi. Pembagian kekuasaan dalam Kolombia adalah eksekutif, legislatif dan yudikatif dengan lembaga kontrol dan lembaga pemilihan khusus. Presiden Kolombia adalah puncak eksekutif tertinggi di Kolombia, berperan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan dengan kekuasaan administratif, diikuti oleh Wakil Presiden dan Kementrian Kolombia.

Presiden terpilih untuk 4 tahun dan dapat terpilih kembali untuk 1 kali periode. Pemilihan Umum terakhir di Kolombia berlangsung pada tahun 2014. Pemilihan Presiden terakhir berlangsung dua kali 25 Mei dan 15 Juni 2014 yang menghasilkan Juan Manuel Santos (Social Party of National Unity atau U Party) sebagai pemenang dengan jumlah suara 7.816.986 (50,95%), sedangkan lawannya, Oscar Ivan Zuluaga (Democratic Center Party) mendapatkan 6.905.001 suara (45,00%). Pemilihan Presiden berikutnya direncanakan akan dilangsungkan pada semester pertama tahun 2018.

Kongres Kolombia merupakan bikameral: 102 Senators dan 166 Wakil Rakyat. Pemilihan legislatif terakhir berlangsung pada tanggal 9 Maret 2014 dengan perolehan suara wakil rakyat terbesar dimiliki oleh U Party dengan 16,05% / 39 kursi; Liberal Party dengan 14,13% / 37 kursi; Conservative Party dengan 13,17% / 27 kursi; Radical Change Party dengan 7,74% / 16 kursi; Democratic Centre Party dengan 9,47% / 12 kursi; lainnya 19 kursi.

Dari 166 kursi wakil rakyat di Kongres Kolombia, sebanyak 98 kursi (59%) merupakan pro pemerintah; 22 kursi (13,25%) merupakan oposisi; dan 46 kursi (27%) merupakan independen. Sedangkan dari 102 kursi Senators, hasil Pemilu 9 Maret 2014 memperoleh hasil 52 Senator dari partai pro pemerintah (U Party, Liberal Party, Cambio Radical, dan National Integration Party) 50 Senator lainnya dari partai oposisi (Democratic Center Party, Polo Democratico, Conservative Party, dan Green Party).

Kebijakan Politik Luar Negeri Kolombia saat ini bertumpu pada Aliansi Pasifik dan OEA (Organization of American States). Kolombia saat ini juga tengah berjuang untuk dapat diterima sebagai anggota OECD (dalam proses aksesi) dan tengah dalam upaya pendekatan ke APEC.

Pada level provinsi, pemerintahan dipegang oleh gubernur departemen, bupati untuk level kabupaten dan pejabat lokal untuk wilayah yang lebih kecil seperti corregidor untuk corregimientos/area pedesaan. Cabang legislatif di Kolombia adalah Kongres Nasional Kolombia yang membentuk majelis teratas Senat Kolombia dan Majelis Perwakilan Kolombia. Pada level provinsi dibentuk badan provinsi, dan badan kota untuk tingkat kabupaten. Kedua badan legislatif dan eksekutif berbagi kekuasaan sedang yudikatif merupakan badan independen. Cabang yudikatif berada di bawah sistem adversarial dengan bentuk Mahkamah Agung Kolombia yang merupakan badan tertinggi, dan berbagi tanggungjawab dengan Lembaga Negara, Lembaga Konstitusi, dan Lembaga Tinggi Pengadilan yang juga mempunyai lembaga sejenis di tingkat bawahnya.

Kolombia terbagi atas 32 departemen dan satu distrik kapital yang diperlakukan sebagai departemen. Terdapat 10 distrik untuk beberapa kota Kolombia termasuk Bogota, Barranquilla, Cartagena, Santa Marta, Tunja, Kukuta, Popayan, Buenaventura  Tumako dan Turbo. Kolombia terbagi atas daerah istimewa munisipaliti yang membentuk departemen, dengan satu kursi perwakilan. Kolombia juga terbagi atas corregimiento yang membentuk daerah istimewa. Tiap departemen mempunyai pemimpin lokal, dan diketuai oleh gubernur departemen, dan pejabatnya dipilh secara periodik 4 tahun sekali dalam pemilu daerah. Setiap munisipaliti juga memiliki ketuanya dengan badan tersendiri. Ketua untuk Corregimiento dipilih oleh pilkada atau pemimpin lokal.

Terkaitan politik dan keamanan dalam negeri, Kolombia memiliki konflik berkepanjangan dengan FARC (Fuerza Armada Revolucionaria de Colombia) sejak tahun 1960 dan telah memakan banyak korban serta kerugian yang besar terhadap perekonomian Kolombia. Meskipun demikian pemerintah Kolombia telah menandatangani perjanjian perdamaian dengan FARC pada tanggal 25 Agustus 2016. Perjanjian tersebut memuat pengakuan terhadap hak politik para mantan pejuang FARC, termasuk jaminan minimum kursi parlamen sampai 2022, jaminan reintegrasi sosial ke dalam masyarakat Kolombia tanpa keharusan menjalani hukuman pidana. Proses perdamaian dan rekonsiliasi masih terus berlanjut untuk mengimplementasikan kesepakatan dalam butir-butir perjanjian damai tersebut.


EKONOMI

Kolombia merupakan kekuatan ekonomi terbesar ke-4 di kawasan Amerika Latin setelah Brazil, Meksiko, dan Argentina. Kolombia memiliki potensi pasar yang besar dengan jumlah penduduk terbesar ketiga setelah Brasil dan Meksiko di kawasan Amerika Latin, dengan potensi unggulan di bidang migas, pertambangan dan pertanian. Sumber daya alam Kolombia terdiri dari minyak bumi; batu bara; bahan tambang seperti emas, batu zamrud yang mewakili 95% produksi dunia; hasil pertanian seperti kopi, bunga potong, tebu (gula); dan peternakan sapi.

Dibawah kepemimpinan Presiden Juan Manuel Santos perekonomian menunjukkan peningkatan beberapa tahun belakang ini. Pertumbuhan ekonomi yang kuat ini disertai dengan kecilnya persentase kenaikan utang publik dibanding negara-negara sekawasan lainnya. Penurunan kemiskinan multidimensional menurun secara substansial dari 30,4% pada tahun 2010 menjadi 17,8% pada tahun 2016. Dengan kata lain jika pada tahun 2010 jumlah warga miskin 13.719.000 pada tahun 2016 jumlah tersebut menjadi hanya 8.586.000. Upaya reformasi besar pemerintah (termasuk kerangka baru fiskal, dan pajak, dan pasar tenaga kerja reformasi penting, antara lain) juga telah memberi kontribusi pada situasi ekonomi dan sosial membaik. Kebijakan luar negeri Presiden Juan Manuel Santos Calderon difokuskan pada penguatan hubungan perdagangan luar negeri dan peningkatan investasi asing di dalam negeri. Kolombia secara konsisten menyuarakan kebijakan ekonominya dan melakukan promosi yang agresif terkait perjanjian perdagangan bebas dengan negara lain.

Kolombia bersama-sama dengan Chile, Peru, dan Meksiko tergabung dalam organisasi integrasi kawasan yang dinamakan Pacific Alliance sejak 6 Juni 2012. Keempat negara tersebut telah membentuk pasar bursa bersama Latin yang dikenal dengan nama Mila (Mercado Integrado Latino Americano) dengan jumlah perdagangan saham mencapai 40% nilai pasar Amerika Latin.  Keempat negara dalam satu blok tersebut memiliki tujuan untuk meningkatkan perdagangan serta investasi dengan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik. Pada awal tahun 2017, Presiden Juan Manuel Santos telah menyatakan political will negara-negara Aliansi Pasifik untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dengan ASEAN, yang diakui sebagai aktor kawasan utama dalam proses integrasi perdagangan di Asia Pasifik.

BBVA Research menyampaikan bahwa pada penutupan tahun 2016 pertumbuhan ekonomi Kolombia akan berada pada 2,2% dan inflasi pada level 6% mengikuti trend saat ini yang perlahan menurun. Sementara tahun 2017, BBVA Research memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kolombia secara perlahan meningkat sebesar 2,4%. Pada tahun 2016 meskipun mengalami inflasi yang relatif tinggi (5.75%) tetapi Kolombia menjadi satu-satunya negara Amerika Latin dengan pertumbuhan utang terendah pada tahun 2016 yaitu 1% dibandingkan dengan pertumbuhan utang Argentina (36,6%), Brasil (11%), Chile (21,9%), Ekuador (14,9%), Meksiko (10,3%) atau Peru (16,1 %).

Sepanjang 2017, pertumbuhan ekonomi Kolombia akan ditandai dengan perkembangan pesat di sektor pembangunan infrastruktur generasi ke-4 dan penurunan suku bunga sebesar 6% oleh Bank Sentral Kolombia. Program restrukturisasi perpajakan antara lain: peningkatan jaminan dalam berinvestasi, pengurangan tarif pajak, dan minimalisasi penghindaran pajak akan berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Kolombia di tahun 2017 setelah resesi perokonomian dunia pada tahun 2008 dan penurunan harga minyak secara drastis sela 2 tahun terakhir.

Meskipun rating Kolombia telah mencapai investment grade, tapi Kolombia masih sangat bergantung pada ekspor minyak yang harganya cukup fluktuatif. Kolombia merupakan eksportir minyak ketiga terbesar ke Amerika Serikat dari Amerika Latin setelah Venezuela dan Meksiko. Pembangunan ekonomi terhalang oleh infrastruktur yang belum memadai dan semakin melemah akibat efek perubahan iklim dan banjir pada tahun-tahun sebelumnya. Di samping itu, menurut Economic Commission for Latin America and the Caribbean (ECLAC) tingkat pengangguran Kolombia mencapai 9,5% pada trimester ke-2 tahun 2016. Masalah ketimpangan ekonomi, pengangguran, narkotika dan masalah infrastruktur tetap menjadi tantangan yang signifikan serta memerlukan penanganan yang baik untuk mempertahankan kondisi ekonomi Kolombia.