Sukses Pertunjukkan Perdana Teater Tari „Terima Kos“ di Zürich

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Melalui teater tari yang energik, diiringi perpaduan antara aliran musik Folklore dan Popkultur, sepuluh penari arahan Koreografer muda Indonesia, Jecko Siompo, berhasil membius 550 penonton di panggung utama Theater Spektakel, Seebühne Zürich, Kamis (19/8) malam. Selama satu jam, lima penari wanita asal Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan lima penari pria asal Papua mementaskan berbagai macam tari dan gerak, seperti tari tradisonal asal Papua Barat, gerakan Hip-Hop, Kung-Fu, street dance dan balet, dipandu alunan musik Yamko Rambe Yamko dan bunyi - bunyian alam, komputer, serta suara kebisingan kota. „Terima Kos“ mengajak penonton ke dalam perjalanan komik menuju rimba kota besar, yang dilihat dari kacamata kaum muda. Tepuk tangan panjang dan meriah dari penonton, yang sebagian besar merupakan warga Swiss, menutup pertunjukan perdana „Terima Kos“. Penyelenggara Festival Zürcher Theater Spektakel, Sandro Lunin, menyatakan pada KBRI Bern, bahwa tiket pertunjukkan teater „Terima Kos“ asal Indonesia tersebut sudah habis terjual jauh hari sebelum pementasan digelar. Ia menambahkan bahwa tema yang diangkat koreografer asal Papua, Jecko Siompo, mengenai kehidupan remaja perkotaan mampu membangkitkan minat penonton. „Terima Kos“ digelar selama tiga hari berturut – turut di panggung utama Seebühne, mulai Kamis (19/8) hingga Sabtu (21/8). Teater tari „Terima Kos“ asal Indonesia bersaing di urutan pertama dengan teater asal Jepang, Swiss/Belanda, Brasil dan Thailand dalam memperebutkan hadiah uang tunai senilai 30.000 Swiss frank (IDR 258.000.000) dari Zürcher Kantonal Bank (ZKB) untuk karya seni terbaik di pentas Theater Spektakel tahun 2010. „Terima Kos“ merupakan pentas teater asal Indonesia yang kedua di Zürcher Theater Spektakel. Sebelumnya, teater „the Iron Bed“ arahan Garin Nugroho, yang diangkat dari filmnya berjudul „Opera Jawa“, tampil pada Zürcher Theater Sepektakel tahun 2008.