Festival Film Indonesia pada Black Movie Film Festival, Jenewa

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Atas undangan panitia, KBRI Bern berkesempatan menghadiri festival film tersebut. Festival Film, yang secara resmi dibuka pada tanggal 12 Februari 2010 tersebut, menampilkan film – film independen, yang berasal dari Asia, Afrika dan Amerika Tengah, termasuk delapan film dari Indonesia. Adapun film – film Indonesia yang diputar pada Black Movie Festival adalah Eliana-Eliana (Riri Riza), Babi Terbang (Edwin), Fiksi (Mouly Surya), Perempuan Punya Cerita (F.T. Rony, Upi, N. Dinata, L.F. Susatyo), Berbagi Suami (Nia Dinata), Impian Kemarau (Ravi Bharwani), Di Bawah Pohon (Garin Nugroho), dan Pasir Berbisik (Nan Achnas).

 

Pada tanggal 16 Februari 2010, KBRI Bern diundang untuk menghadiri diskusi bersama/round table discussion dengan 2 (dua) sutradara Indonesia, yaitu Riri Riza dan Mouly Surya. Acara tersebut dibuka untuk umum dan dihadiri oleh sekitar 50 pengunjung, yang diantaranya merupakan pemerhati film, direktur perfilman, wartawan dan mahasiswa. Pada kesempatan tersebut, Riri Riza menjelaskan mengenai sejarah bangkitnya perfilman generasi muda Indonesia, yang diawali oleh 12 sutradara muda pada tahun 1998. Tujuan awal dari gerakan perfilman muda Indonesia adalah agar film Indonesia dapat diputar di Cinema 21 di Indonesia, atau bahkan dapat diputar di luar negeri, seperti film – film yang berasal dari Amerika dan Eropa. Selain itu, Riri Riza menjelaskan mengenai proses pembuatan film – film hasil karyanya, diantaranya: Eliana, Eliana, Kuldesak, Petualangan Sherina, Gie, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dsb. Film pertama karya Riri Riza, Eliana – Eliana, yang dirilis pada tahun 2002, dipilih sebagai salah satu film Indonesia yang diputar pada Black Movie Film Festival  2010. Selanjutnya, Mouly Surya, sutradara film Fiksi, menjelaskan mengenai awal perjalanan karirnya sebagai sutradara dan proses pembuatan film Fiksi, yang mendapatkan Penghargaan sebagai Film Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2008. Pada kesempatan tersebut, salah seorang peserta diskusi, menyampaikan penghargaan kepada sutradara Indonesia, yang mampu membuat film yang berkualitas dan sarat budaya.

 

Setiap tahun, Black Movie Film Festival senantiasa menampilkan satu atau dua film – film Indonesia. Pada Black Movie Film Festival tahun ini, film Indonesia menjadi fokus utama. Oleh karena itu, delapan film unggulan Indonesia diputar pada Black Movie Film Festival tahun ini. Dua sutradara film Indonesia juga turut diundang, untuk memberikan kesempatan kepada para pengunjung agar dapat berdiskusi langsung dengan para sutradara film. Selama di Swiss, kedua sutradara tersebut, mengadakan wawancara dengan berbagai kalangan media massa di Swiss, yang menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap film Indonesia.

 

Salah seorang pengamat film Indonesia, yang juga panitia Black Movie Film Festival, Mr. Bastian Meiresonne, mengadakan penelitian dan menyaksikan sebanyak 240 judul film Indonesia selama 3 bulan di Indonesia. Mr. Bastian berperan dalam memperkenalkan film Indonesia ke beberapa panitia festival film internasional di Swiss bagian Selatan dan Perancis. Lebih lanjut, Mr. Bastian mengatakan bahwa film Indonesia sangat menarik dan cukup populer di Swiss dan Perancis. Setiap tahun film Indonesia selalu ikut serta di beberapa festival film internasional di Swiss dan Perancis, seperti pada Black Movie Film Festival, Neuchatel Film Festival, Locarno Film Festival, Fribourg Film Festival, dsb.

 

Pada kesempatan tersebut, KBRI Bern menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Mr. Bastian yang telah membantu memperkenalkan film – film Indonesia di Swiss maupun Perancis. Selanjutnya, KBRI Bern akan melakukan kerjasama dengan Mr. Bastian untuk memonitor partisipasi film – film Indonesia pada festival film internasional, khususnya yang diadakan di Swiss (Sumber: KBRI Bern).