Serbia memiliki produk untuk export

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Muhammad Abduh Dalimunthe, Duta Besar Indonesia
Serbia memiliki produk untuk export
 
Perekonomian kedua negara adalah kompeten dan terdapat potensi untuk kerjasama. Indonesia adalah negara sedang berkembang, dimana perekonomiannya mayoritas berdasar pada bahan-bahan baku dan kekayaan tambang, sedangkan beberapa produk tertentu yang diimport oleh Indonesia telah saya temukan juga di Serbia, seperti produk-produk kimia, barang-barang tehnik dan peralatan medis. Menurut saya, produk-produk Serbia seperti itu memiliki pasarannya di Indonesia.
 
Sebelum tahun 2000, Serbia dan Indonesia dihubungkan terutama hubungan politik, yang dimulai sejak masa Gerakan Non Blok. Pada decade terakhir, sebagaimana disampaikan oleh Duta Besar Indonesia Muhammad Abduh Dalimunthe kepada majalah Ekonom:east, semakin ditekankan pada kerjasama ekonomi. Volume pertukaran dagang, menurut perkataan dia, masih kecil dibandingkan apa yang Indonesia lakukan dengan negara-negara lain seperti Jerman dan Rusia, tetapi hubungan ekonomi terus berkembang. “Menurut data dari Biro Statistik Serbia, di tahun 2006 volume kerjasama bilateral ekonomi antara Serbia dan Indonesia sebesar 25 juta US dollar, di tahun 2007 meningkat menjadi 45 juta, sedangkan di tahun 2008 sebesar 54 juta US dollar. Namun, akibat krisis global ekonomi, pertukaran dagang antara kedua negara kita di tahun 2009 menurun menjadi 38 juta US dollar”, dikatakan Dalimunthe.
 
Tetapi, selama dua tahun krisis, di tahun 2008 dan 2009, lima pengusaha dari Serbia hadir pada Trade Expo di Jakarta, dimana adalah merupakan kesempatan baik untuk pengusaha menjalin kontak langsung dan menyadari peluang di kedua pasaran. “Di lain pihak, sudah lama kita berupaya untuk mendatangkan pengusaha-pengusaha Indonesia ke Serbia, tetapi hal tersebut berjalan sedikit lamban, sebab Serbia secara geografis terletak jauh. Namun kita beruntung, pada bulan Februari sebuah perusahaan dari Jakarta menghadiri Fair Pariwisata di Beograd untuk melakukan survey pasaran dan menurut pendapat saya mereka telah melihat peluang baik untuk bisnis”, Dalimunte optimis. Ia menambahkan, bahwa rata-rata, Indonesia setiap tahun dikunjungi sekitar 2.000 wisatawan dari Serbia, sedangkan di tahun ini diprediksikan akan dating sekitar 1.500.
 
E: Dalam hal hubungan politik, bagi Serbia sangat berarti penting dukungan Indonesia sehubungan dengan status Kosovo. Bagaimana Anda melihat penyelesaian masalah tersebut di masa mendatang, mengingat bahwa Indonesia tidak mengakui Kosovo
 
Muhammad Abduh Dalimunthe: Sikap Indonesia adalah bahwa pernyataan kemerdekaan Kosovo secara sepihak bertentangan dengan hukum internasional, sebab ini adalah keputusan sebuah kelompok etnik yang menyatakan kemerdekaan sebuah negara. Dalam hukum internasional, integritas wilayah negara terjamin. Kami mendukung Serbia dan kami ingin membantu agar dengan jalan damai menyelesaikan permasalahan ini. Indonesia, dalam hal tersebut, di PBB, Gerakan Non Blok dan Organisasi Konperensi Islam telah mendukung dan akan mendukung politik Serbia. Indonesia, seperti juga negara-negara lain, menantikan pernyataan dari Pengadilan Hukum Internasional di Den Haag, yang akan sangat berarti. Posisi kami, tetntunya, tidak akan bertentangan dengan hukum internasional. Kami menilai bahwa apa yang Serbia lakukan adalah sejalan dengan hukum internasional, karena telah memaparkannya di hadapan PBB dan di hadapan Kementerian Luar Negeri dan kami akan terus melanjutkan memberikan dukungan kepada Serbia di hadapan institusi-institusi tersebut.
 
E: Anda telah menekankan mengenai peningkatan dalam kerjasama ekonomi, tetapi juga bahwa ada peluang untuk pengembangannya. Dalam kondisi apa hal itu dapat terjadi
 
Muhammad Abduh Dalimunthe: Menurut saya bahwa inti yang memegang arti penting adalah adanya pengertian antar kalangan pengusaha. Jika hal itu tidak ada, akan sangat sulit untuk menciptakan hubungan dagang atau ekonomi. Perekonomian kedua negara adalah komplementer dan dalam hal itu terdapat potensi untuk kerjasama. Indonesia adalah negara yang sedang berkembang, dimana perekonomiannya mayoritas berdasarkan pada bahan-bahan baku, kekayaan pertambangan. Kita adalah producer minyak kelapa sawit terbesar di dunia, exportir karet yang besar, juga menggali jumlah besar batu bara sekitar 160 juta ton per tahun. Di lain pihak, kami mengimport mesin-mesin, produk-produk kimia, mayoritas dari Jerman, Jepang, Belanda, AS dan Cina. Beberapa produk yang Indonesia import, saya temukan juga di Serbia, seperti misalnya produk-produk kimia, barang-barang tehnik dan perlengkapan medis. Menurut saya untuk produk-produk dari Serbia seperti itu memiliki pasarannya di Indonesia. Kami juga melakukan import “green technology” sebab kewajiban Indonesia sebagai negara yang terletak di lingkaran tropis, untuk melindungi hutan-hutannya agar dapat menjadi “paru-paru planet”. Untuk produksi tenaga listrik Indonesia menggunakan minyak dan bahan baku lainnya. Menjelang pengakhiran masa jabatan di Serbia, saya menemukan disini bahwa terdapat tehnologi untuk produksi biomassa, seperti juga bahan bakar untuk produksi tenaga listrik, yang dapat menjadi menarik untuk Indonesia dimana bahan-bahan baku untuk biomassa masih tetap tidak dipergunakan. Misalnya, setelah pembuatan minyak kelapa sawit, di perkebunan-perkebunan tertinggal jumlah besar buangan-buangan yang tidak tergunakan, dimana menurut para ahli disini, dapat menjadi bahan yang sangat baik untuk pembakaran di generator-generator listrik. Duta Besar berupaya untuk menjadi jembatan dalam penghubungan kalangan pengusaha-pengusaha dari kedua negara dan sebab itu setiap tahun kami menyelenggarakan forum-forum bisnis di Beograd, Novi Sad, Nis, Kragujevac, dimana kami didukung oleh Kamar Dagang Serbia dan pengusaha-pengusaha setempat. Saya harapkan pengganti saya, dan juga Duta Besar Serbia di Jakarta, akan melanjutkan dalam pemberian dukungan terhadap kerjasama bentuk ini antara pengusaha kedua negara, sehingga kerjasama ekonomi akan terus meningkat.
^nbsp;
E: Bagaimana Anda melihat strategi negara Anda selama masa pemulihan dari dampak krisis ekonomi
 
Muhammad Abduh Dalimunthe: Saya percaya sulit untuk memastikan pasti apa persis penyebab krisis di tahun 2008, tetapi kami dapat mengalokasikannya ke pasaran real estate dan aktivitas di bidang keuangan, dimana tidak terlihat produk-produk yang nyata. Beberapa perusahaan telah berupaya untuk menjual derivative kepada Indonesia, tetapi minat sangat sedikit. Saat “balon” meledak, tidak banyak berdampak terhadap perekonomian Indonesia, sedangkan sector perbankan tetap stabil. Export bahan-bahan baku ke Jepang dan Cina tidak terlalu menurun, tetapi permasalahan besar terjadi pada export tekstil, khususnya ke AS, sebab itu adalah pasaran yang besar. Namun, pencarian tetap membaik, dan jika perekonomian AS membaik terdapat peluang untuk AS menjadi pasaran kami yang terbesar. Dalam konteks ini, terdapat peluang dalam beberapa tahun mendatang, perekonomian negara kita mengalami peningkatan hingga 10% per tahun. Di lain pihak, kita harus realistis. Dengan GDP per capita sebesar 2.500 US dollar per tahun, peningkatan GDP diperkirakan akan menjadi sekitar 15%, agar kami dapat mencapai tingkatan yang dimiliki seperti misalnya Serbia. Beberapa segmen pasaran tertentu hingga kini pun cukup berkembang, seperti pasaran mobil. Pada tahun lalu, misalnya, di Indonesia telah terjual sekitar 350.000 mobil dan di tahun ini diprediksikan penjualannya sekitar 400.000. Namun, hingga sekarang, terdapat peluang untuk perusahaan-perusahaan Serbia, sebab Pemerintah Indonesia merencanakan untuk melakukan investasi di bidang perlengkapan medis, pendidikan dan energetika. Selama tahun-tahun terdahulu, negara telah memiliki tujuan untuk membangun industry yang akan memproduksikan sekitar 10.000 MW listrik, sedangkan dalam lima tahun mendatang, hingga tahun 2014, lagi 10.000 MW.
 
E: Telah mendekat pengakhiran jabatan Anda sebagai Duta Besar untuk Serbia. Apa yang dapat Anda pesan kepada teman-teman disini
 
Muhammad Abduh Dalimunthe: Saya yakin telah melakukan pekerjaan saya dengan baik, dengan dukungan dari Kementerian Luar Negeri negara saya dan rekan-rekan kerja di Serbia. Saya percaya dengan adanya dukungan yang sama kami dapat meningkatkan hubungan Indonesia dan Serbia, baik di bidang ekonomi, maupun di bidang politik.
 
Pertukaran mahasiswa
 
Setelah tahun 2000, kerjasama bilateral telah memperoleh satu bentuk dimensi lagi di bidang pendidikan, setelah Indonesia menawarkan beasiswa kepada mahasiswa Serbia untuk satu tahun. “Kini kami memiliki dua atau tiga mahasiswa, tetapi kami terus melakukan perluasan program itu, sehingga bagi yang sukses akan dapat melanjutkan pendidikan hingga tingakatn master. Di tahun yang lalu, sebagai contoh, terdapat delapan mahasiswa dari Serbia”, ditambahkan Dalimunthe.
 
Kerjasama kebudayaan
 
E: Selama masa jabatan Anda, masyarakat di Serbia, khususnya di Beograd telah memiliki kesempatan untuk lebih mengenal kebudayaan Indonesia – film, music, lukisan, tarian tradisional. Sepertinya dimensi kebudayaan telah menjadi factor berarti dalam diplomasi Indonesia
 
Muhamad Abduh Dalimunthe: Hubungan persahabatan yang tulus antara kedua negara harus dikembangkan di semua bidang. Kadang-kadang, dikarenakan keadaan, hal itu lebih menjurus ke politik dan ekonomi, tetapi sekarang, kami berkemungkinan untuk mengembangkan juga bidang ekonomi dan kerjasama di bidang kebudayaan. Bahkan, kadang kala hubungan formal antara dua negara hanyalah merupakan sebagai jembatan, sedangkan jalur utamanya adalah hubungan non formal antar orang, yang dapat lebih kuat sebab pemerintahan terus berganti dan bersamaan dengan itu juga persahabatan politis. Namun, jika di antara manusia terdapat pengertian yang baik, akan lebih sulit untuk mengubah kepercayaan mereka. Dengan kepercayaan seperti demikian itu kami berupaya untuk menerobos ke penduduk di Serbia. Kami beruntung, saat kami memulai dengan proyek perfilman Indonesia di Serbia pada tiga tahun yang lalu, kami memperoleh dukungan yang besar, terutama dari Kinoteka Yugoslavia, tetapi juga dari wakil-wakil pemerintah setempat. Hingga kini di Beograd kami telah menyelenggarakan dua tinjauan film per tahun dan dapat kami katakana berlangsung dengan sukses, sebab selama tujuh malam orang-orang dating untuk menonton. Di tahun yang lalu kami mendapat undangan juga dari kota-kota lain, seperti Zrenjanin dan Kragujevac, dan sekarang kami sedang mempersiapkan minggu film Indonesia yang ketiga di Beograd, mungkin pada bulan Juni. Juga, kami memiliki sekolah tari tradisional Indonesia di Kedutaan Besar, yang dipimpin oleh salah satu penerima beasiswa Serbia di negara kami. Juga, semakin popular juga batik, tehnik melukis di atas kain dari bahan alami, yang oleh UNESCO telah menggolongkannya sebagai warisan kebudayaan dunia.