Perwakilan Lindungi Produk Indonesia di Lebanon

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Selain harga bersaing, kualitas yang terjamin membuat produk asal nusantara mampu membayang-bayangi para pengusaha lokal yang memproduksi barang serupa. Bahkan, furnitur Indonesia di pasar Lebanon juga mengungguli beberapa negara pesaing seperti Turki, China dan negara-negara Eropa Timur. Karenanya sempat terdengar, para pengusaha lokal terutama yang berasal dari Tripoli pernah mengajukan permintaan agar Pemerintahnya membendung arus masuk produk furnitur asal Indonesia. Tripoli, alias Troblus dalam bahasa setempat, merupakan kota kedua terbesar di Lebanon setelah Beirut dengan komunitas lebih dari 500 ribu penduduk. Kota di sebelah utara Lebanon ini terkenal sebagai salah satu pusat produksi furnitur. Gonjang-ganjing pengusaha tersebut yang sempat beredar menarik perhatian Perwakilan Indonesia untuk melakukan pertemuan dengan pihak terkait di Tripoli. Dalam keterangannya kepada KUAI KBRI Beirut, Walikota Tripoli, Mr. Rachid Jamali di ruang kerja walikota (11/5) menjelaskan, “Para pengusaha kami merasa khawatir dengan masuknya produk-produk furnitur Indonesia ke Lebanon. Harga produk Indonesia yang kompetitif dan berkualitas sempat membuat mereka sempoyongan dan menyarankan agar barang-barang Indonesia dikenakan pajak masuk yang lebih tinggi”. “Namun saya jelaskan kepada para pengusaha tersebut bahwa dengan semakin terbukanya sistem perdagangan internasional, Lebanon tidak dapat menghambat masuknya produk-produk asing ke dalam negeri termasuk dari Indonesia,” ungkapnya kepada KUAI KBRI. Senada dengan Walikota, KUAI R.A. Arief juga menekankan bahwa harga dan produk Indonesia yang murah dan berkualitas memberikan peluang besar kepada pengusaha Lebanon untuk membeli dan memasarkan produk furnitur Indonesia di Lebanon dan pasar-pasar di Negara tetangga. “Saya yakin pemerintah dan pengusaha Lebanon sangat menyadari bahwa kedua negara tidak bisa menghindari tren perdagangan bebas dunia saat ini,” terang R.A. Arief bersemangat sambil menambahkan bahwa, Indonesia sangat mengharapkan perdagangan kedua negara dapat ditingkatkan. Salah satu upayanya adalah merealisasikan rencana penandatanganan Perjanjian Perlindungan dan Peningkatan Penanaman Modal (P4M) dan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B). Baik walikota dan KUAI sama-sama optimis bahwa jika kedua dokumen tersebut ditandatangani, maka arus perdagangan dan investasi Indonesia-Lebanon semakin meningkat. Tidak hanya ke walikota, Perwakilan Indonesia juga menemui Kadin dan pengusaha setempat. Salah seorang pengusaha mengatakan bahwa, produk-produk Indonesia sangat berpeluang sukses di pasar Lebanon dalam era persaingan bebas ini. “Sebagian besar kebutuhan hidup kami diimpor dari luar, tentu pihak yang memberikan kualitas terbaik dengan harga kompetitif akan mampu bermain di pasar kami dan saya yakin Indonesia salah satunya,” terang Bader Hassoun, yang sempat berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu. Pengusaha ini menambahkan bahwa tidak hanya furnitur, Indonesia juga terkenal dengan rempahnya. Pemilik perusahaan kosmetik ini juga menandaskan bahwa pihaknya akan mempelopori masuknya aneka rempah Indonesia ke Lebanon. “Khan Al-Saboun, salah satu produsen produk-produk kosmetik di Lebanon tertarik menggali khasiat buah kemiri, pala dan bengkoang asal Indonesia untuk menjadi ramuan utama produk minyak wangi, shampoo dan sabun,” jelas Ary Raharjo, Sek-3 Ekonomi KBRI Beirut yang ikut mendampingi KUAI pada kunjungan ke Tripoli tersebut. Menurut Ary, upaya dialog dengan pihak terkait cukup efektif, tidak hanya untuk mendiskusikan pemecahan masalah yang berkenaan dengan hubungan perdagangan tetapi juga membuka beragam peluang baru yang bisa dikerjakan oleh kedua pihak untuk kepentingan dan keuntungan bersama. Ary melanjutkan, “Meski relatif kecil, namun perdagangan bilateral Indonesia-Lebanon cenderung meningkat setiap tahun dengan surplus di pihak Indonesia. Pada tahun 2009, nilai ekspor Indonesia ke Lebanon sebesar US$ 82,4 juta, sementara nilai ekspor Lebanon ke Indonesia hanya mencapai US$ 1,3 juta, sehingga terdapat surplus bagi Indonesia sebesar US$ 81,1 juta.”