Indonesia Goes to Campus: Angklung Mengalun di Kampus Lebanon

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sejumlah mahasiswa dari berbagai jurusan di kampus Lebanese American University – Lebanon hanyut menyaksikan alunan musik angklung oleh musisi KBRI Beirut yang membawakan lagu-lagu Arab dan Barat terbaru. Selain itu, di hadapan puluhan mahasiswa yang memadati ruang auditorium Fakultas Seni dan Ilmu Pengetahuan - Lebanese American University (LAU), Martine Andraos di sela penampilan musik-musik angklung juga tampil mempresentasikan makalah tentang angklung. Dengan fasih, dara yang baru mengakhiri masa tugasnya sebagai Miss Lebanon pada Agustus 2010 lalu menjelaskan tentang angklung, mulai dari sejarah, definisi dan filosofi, hingga pembuatan angklung dan cara bermain angklung. Sebagai Duta Angklung Nusantara, Martine juga tidak luput menyampaikan perkembangan angklung di Indonesia. Dr. Nahla Nola Bacha, Dekan Fakultas Seni dan Ilmu Pengetahuan yang mewakili pihak universitas menyatakan penghargaan dan terima kasih atas dukungan dan kerjasama KBRI Beirut untuk mengisi materi pada salah satu mata kuliah di LAU tersebut. “Semoga hal ini dapat menjadi awal kedua lembaga membina hubungan dan kerjasama di berbagai bidang,” ujar Dr. Bacha. Sebenarnya, pelatihan tentang angklung kepada sejumlah mahasiswa jurusan seni musik LAU sempat dilaksanakan oleh KBRI Beirut pada tahun 2007 lalu. Kegiatan tersebut sempat terhenti karena situasi politik dan keamanan Lebanon. Program Indonesia ’Goes to Campus’ kali ini, diharapkan dapat kembali menjalin dan meningkatkan kerjasama yang telah terbina antara kedua pihak. Menurut Dr. Yousef Khalife, dosen Mata kuliah seni musik Kontemporer dan Tradisional, mata kuliah ini merupakan mata kuliah pokok yang wajib diambil oleh seluruh mahasiswa dari semua jurusan di Fakultas Seni dan Ilmu Pengetahuan LAU. Pada sesi tanya jawab, narasumber KBRI Beirut juga menjelaskan bahwa Angklung telah didaftarkan ke UNESCO sebagai nominasi warisan budaya ‘tak benda’ (intangible heritage) asli Indonesia pada tanggal 28 Agustus 2009. Saat ini masih menunggu verifikasi UNESCO untuk pembuktian apakah Angklung benar-benar menjadi bagian dan berperan dalam kelangsungan suku bangsa di Indonesia. Secara umum masyarakat Lebanon belum mengenal angklung sebagai alat musik unik yang terbuat dari bambu dan mampu memproduksi suara dengan nada dan melodi yang sama seperti alat-alat musik modern lainnya. “Namun demikian, mahasiswa sangat terkesan dan antusias menyaksikan kami membawakan lagu,” jelas Agus Rustandi, pelatih Musik KBRI seraya menambahkan, bahkan ada mahasiswa yang tidak mau melepaskan angklung ketika masing-masing diberi kesempatan untuk memainkan angklung. Fakultas Seni dan Ilmu Pengetahuan LAU akan kembali menggelar acara khusus konser ARUMBA (Aneka musik yang terbuat dari bambu, antara lain angklung dan kolintang) di auditorium yang sama pada Oktober 2010 mendatang. Konser ini akan melibatkan lebih banyak penonton yang terdiri dari semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah Musik Kontemporer dan Tradisional pada program regular (jumlah mahasiswa 450 – 500 orang). LAU merupakan satu dari dua perguruan tinggi premier di Lebanon (selain AUB / American University of Beirut) dengan jumlah mahasiswa aktif saat ini mencapai 7.800 orang yang tersebar di dua kampus (Beirut dan Byblos). LAU juga telah mendapatkan akreditasi penyesuaian standar yang diberikan oleh New England Association of Schools and Colleges (NEASC); sebuah badan akreditasi internasional Amerika yang bergengsi di bidang pendidikan. Direncanakan, selain musisi KBRI Beirut, konser ini akan melibatkan musisi mahasiswa LAU yang akan memainkan angklung dan kolintang serta jenis musik yang terbuat dari bambu lainnya (Sumber: KBRI Beirut 2010).