Dubes RI dinobatkan sebagai Warga Kehormatan Kontingen Garuda TNI di Lebanon Selatan

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Acara penganugerahan dipimpin langsung oleh Komandan Kontingen Garuda TNI, Kol Inf Restu Widiyantoro dan disaksikan oleh para Komandan Satgas Konga lainnya. Acara tersebut diawali dengan apel kehormatan dan inspeksi pasukan. “Waspadalah, semangat juang kita sebagai bangsa yang besar jangan sampai terkikis dan dikalahkan oleh kebosanan”, tegas Dubes Hapsoro selaku inspektur upacara. “Banyak cara praktis untuk menghilangkan kebosanan ini. Dalam bahasa sederhana, saya mengajak anda semua; Isilah waktu dengan kegiatan bermanfaat; bersosialisasilah dan jangan pernah suka menyendiri”, tutup Dubes pada apel kehormatan tersebut. Dubes RI selanjutnya melakukan pemeriksaan / inspeksi pasukan sebelum kemudian masuk ke ruang utama pertemuan, di mana lebih kurang 800 prajurit TNI telah menunggu. Di dalam ruangan ini para prajurit dan perwira menyaksikan penganugerahan warga kehormatan Konga kepada Dubes Hapsoro. Pria yang juga merangkap Deputi Sekjen ASEAN ini terlihat menunduk guna menerima baret biru, warna kebesaran UNIFIL untuk dipasang di kepalanya. Berbagai atraksi seni dan hiburan musik dipentaskan oleh para prajurit TNI pada acara tersebut. Bakat – bakat terpendam dan ‘gelora’ tentara yang perlu penyegaran ternyata mendapatkan tempatnya pada acara ini. Suasana haru bercampur kegembiraan meluap menjadi satu. Kol Inf Surawahadi selaku perwira tertua Konga menyampaikan bahwa penganugerahan kepada Dubes Bagas Hapsoro sebagai warga kehormatan Konga / UNIFIL berdasarkan beberapa pertimbangan. Selama bertugas menjadi Kepala Perwakilan RI di Lebanon, Dubes senantiasa menujukkan perhatian dan ketulusannya membantu dan memfasilitasi kehadiran pasukan TNI di Lebanon. “Dari hal yang bersifat teknis hingga prinsip dilakoni oleh Dubes RI dan jajarannya”, tegas Kol Inf Surawadi, yang telah bertugas di UNIFIL sebanyak dua kali pada tahun 2006 dan 2010. “Di lapangan, kami sangat menghargai upaya Dubes dan Perwakilan RI yang ikut membantu memecahkan berbagai kendala teknis, mulai dari fasilitasi perizinan, bantuan perbaikan alat-alat Konga, hingga kedekatan dan pengayoman yang diberikan Dubes layaknya seorang bapak kepada anaknya”, lanjut Kol Surawahadi. Di saat yang sama Dubes berkeyakinan, sinergi dan koordinasi antara Perwakilan RI dan pasukan Konga dimanapun berada adalah mutlak. “Tidak ada perbedaan dalam memahami arti dan falsafah perdamaian antara diplomat dan prajurit TNI, jika dikaitkan dengan pelaksanaan politik luar negeri yang bebas dan aktif,” tegas Dubes Hapsoro. Dubes juga menggarisbawahi, pasukan Konga adalah pelaku aktif yang turun ke lapangan dengan membawa perangkat perlengkapan yang memadai. Ditambah dengan hati dan keramahan yang khas. Ini adalah modal ampuh dan ”nilai Plus” untuk mensukseskan misi perdamaian. Sedangkan Diplomat dan perwakilan RI adalah mitra sejati pasukan Konga. Pembuatan aturan yang dirumuskan di perwakilan PBB, termasuk pengaturan jumlah personnel yang dibutuhkan misi perdamaian, diperjuangkan oleh misi perwakilan RI di PBB, New York. “Tugas, pokok dan fungsi Perwakilan RI termasuk KBRI Beirut antara lain adalah memfasilitasi dan membantu pelaksanaan tugas tersebut,” tutup beliau. Jumlah pasukan Kontingen Garuda saat ini mencapai 1.307 personil, yang tersebar di beberapa kesatuan. Indonesia adalah negara ketiga pengirim pasukan terbesar di UNIFIL (United Nations Interim Forces in Lebanon). Sebanyak 29 negara berpartisipasi pada misi perdamaian PBB di Lebanon Selatan ini. Di bawah Panglima UNIFIL Mayjen Alberto Asarta Cuevas (Spanyol) yang baru dilantik pada Januari 2010 lalu, terdapat lebih kurang 12.000 pasukan penjaga perdamaian yang berpatroli di sepanjang kawasan perbatasan Lebanon dan Israel. Peningkatan jumlah tentara multinasional di wilayah Lebanon Selatan terjadi setelah berakhirnya perang 34 hari antara Israel dan milisi Hezbollah pada tahun 2006. Sejak itu, Indonesia telah mengirimkan tiga Kontingen Garuda ke Lebanon Selatan untuk bergabung bersama masyarakat internasional lainnya guna mengimplementasikan resolusi DK PBB nomor 1701. Mandat terbaru UNIFIL saat ini berlaku hingga Agustus 2010 sesuai dengan resolusi DK PBB no 1884 bulan Agustus 2009. Mandat tersebut akan terus diperpanjang jika situasi dan kondisi di daerah perbatasan Lebanon – Israel mengharuskan demikian