Sambutan oleh Duta Besar Imron Cotan Dalam Rangka Resepsi Diplomatik Memperingati 60 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia – RRT Beijing, 21 Juli 2010

7/21/2010

 

Yang Mulia, Bapak Hu Zhengyue, Asisten Menteri Luar Negeri

Yang Mulia, Bapak Chen Haosu, Presiden CPAFFC

Yang Mulia Para Duta Besar ASEAN, Papua Nugini, dan Timor Leste,

Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang saya hormati,

 

 

Merupakan suatu anugerah yang besar bagi saya, menyambut kehadiran Ibu-ibu dan bapak-bapak semua pada resepsi malam ini dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan RRT. Tahun ini, pemimpin kita juga telah mengabadikannya sebagai “Tahun Persahabatan Indonesia-RRT”.

 

Perlu saya sampaikan bahwa acara resepsi ini terselenggara berkat kerjasama yang baik antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing dan the Chinese People’s Association for Friendship with Foreign Countries (CPAFFC). Hal ini memperlihatkan betapa eratnya hubungan kedua negara, termasuk di tingkat akar rumput. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, ijinkan saya untuk menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada CPAFFC yang telah membantu mengupayakan terselenggaranya resepsi diplomatik ini.

 

Yang Mulia,

Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang kami hormati,

 

Sejak Indonesia dan RRT secara resmi menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1950, saya merasa bangga menyaksikan terus berkembangnya hubungan kedua negara. Sejumlah perjanjian kerjasama penting untuk memperkuat hubungan bilateral RI-RRT, telah ditandatangani dan diimplementasikan oleh kedua negara, terutama Kemitraan Strategis yang telah ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Hu Jintao pada tahun 2005. Sebagai Duta Besar Indonesia untuk RRT, saya bertekad untuk memajukan hubungan bilateral RI-RRT menuju masa depan yang lebih cerah yang didasarkan pada kemitraan dan kesetaraan.

Hubungan politik dan sosial budaya antara Indonesia dan RRT sudah lama terjalin sejak awal abad ke-15. Bahkan sejumlah sumber menyebutkan bahwa kedua negara sudah mulai menjalin hubungan sejak abad ke-5.

Namun satu yang sudah pasti, yakni adanya sejarah yang secara jelas mencatat perjalanan Laksamana Zheng He ke Indonesia yang meninggalkan sebuah jejak yang kuat dengan membangun sebuah kuil yang amat terkenal di Semarang di Provinsi Jawa Tengah. Hingga saat ini, kuil tersebut terus digunakan oleh para pengikut berbagai agama dan kepercayaan. Disamping itu, yang menarik, delapan dari sembilan Wali Songo yang menyebarluaskan Islam di Pulau Jawa, diyakini berasal dari keturunan Tionghoa.

Tidak mengherankan jika Indonesia menjadi salah satu negara yang pertama kali mengakui dan menjalin hubungan diplomatik dengan RRT. Sejak saat itu, Indonesia dan RRT selalu bekerjasama untuk membantu membangun tatanan regional dan global, terutama dalam rangka menghapus kolonialisme, yang menjadi salah satu tujuan utama penyelenggaraan Konferensi Asia – Afrika, Bandung, 1955.

Harus diakui bahwa akibat alasan sejarah, hubungan kedua negara sempat dibekukan. Namun, sejak Indonesia dan RRT memutuskan untuk memulihkan kembali hubungan diplomatik mereka pada tahun 1990, hubungan bilateral RI – RRI terus menguat.

Pada bulan April 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono and Presiden Hu Jintao telah menandatangani Deklarasi Bersama mengenai Kemitraan Strategis yang dijadikan sebagai platform bagi peningkatan hubungan bilateral kedua negara.

Kemitraan Strategis antara Indonesia dan RRT memang telah menjadi tonggak baru dalam sejarah hubungan kedua negara. Kemitraan Strategis ini menandai tekad Indonesia dan RRT untuk saling bekerjasama di berbagai bidang, dengan menempatkan kepentingan rakyat di kedua negara sebagai fokus utama kerjasama agar mereka dapat menikmati stabilitas dan kemakmuran, terutama di masa-masa sulit akibat krisis ekonomi dan keuangan global dewasa ini.

 

Disamping itu, Indonesia dan RRT juga telah menandatangani Rencana Aksi guna mengimplementasikan Kemitraan Strategis, yang mencakup pembentukan mekanisme dialog bilateral di bidang-bidang kerjasama teknis bilateral, kerjasama kawasan dan internasional, serta kerangka pendanaan bagi setiap kegiatan yang dilakukan di bawah kerangka Rencana Aksi. Sementara itu, untuk mengevaluasi implementasi Rencana Aksi tersebut dibentuk juga sebuah mekanisme review.

 

Yang Mulia,

Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang kami hormati,

 

Deklarasi Kemitraan Strategis terbukti efektif untuk mendorong hubungan bilateral di berbagai bidang. Volume perdagangan kedua negara terus meningkat. Pada tahun 2009, volume perdagangan dua arah RI – RRT hampir mencapai US$ 30 milyar. Saat ini, kita menargetkan dapat menaikkannya menjadi dua kali lipat pada tahun 2014. Pemberlakuan ASEAN-China Free Trade (ACFTA) pada awal tahun ini, diharapkan juga akan semakin mendorong aktivitas perdagangan kedua negara.

 

Kerjasama investasi juga memberikan trend yang menjanjikan. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas dua digit dan memiliki cadangan devisa sebesar US$ 2.45 trilyun serta didukung oleh kebijakan “go-global”, kita berharap RRT akan meningkatkan investasinya di Indonesia. KBRI Beijing selama ini sangat aktif dalam menyelenggarakan berbagai pertemuan bisnis antara para calon investor potensial RRT dengan mitra mereka dari Indonesia. Umumnya, mereka optimis bahwa langkah-langkah seperti ini akan mendorong RRT untuk menaikkan investasinya di Indonesia, terutama untuk proyek-proyek infrastruktur.

 

Kondisi ini semakin diperkuat oleh berbagai indikator ekonomi Indonesia yang amat menjanjikan. Pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia diharapkan dapat mencapai 6 persen pada akhir tahun ini. Peringkat kredit Indonesia, sebagaimana dilansir oleh The Fitch Rating Agency, juga meningkat hanya satu notch di bawah ‘investment grade’.

Pada saat yang bersamaan, hubungan antar masyarakat kedua negara yang merupakan salah salah pilar utama dari kerjasama bilateral RI-RRT, juga berkembang pesat. Kini semakin banyak mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di berbagai perguruan tinggi ternama di RRT. Dalam waktu dekat, Menteri Pendidikan Nasional Indonesia akan berkunjung ke RRT guna mendongkrak jumlah pelajar Indonesia di RRT. Sebaliknya, jumlah turis RRT yang berkunjung ke Indonesia, juga terus meningkat. Kami berharap pada tahun ini, tidak kurang dari 600.000 wisatawan RRT akan mengunjungi Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pertukaran antar pelajar, akademisi, tokoh masyarakat, dan wisatawan, akan memainkan peran penting dalam membawa hubungan RI-RRT menjadi semakin erat dan dinamis.

Yang Mulia,

Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang kami hormati,

Akhir kata, saya berharap perayaan 60 tahun tahun hubungan diplomatik RI-RRT ini dapat menjadi katalis bagi kedua negara untuk semakin memperdalam dan memperluas hubungan yang selama ini telah terjalin dengan baik.

Sebagai Duta Besar Indonesia di negeri yang indah ini, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membawa hubungan bilateral RI-RRT ke tingkat yang lebih tinggi.

Terima kasih.