Sambutan Duta Besar RI Pada Acara Peringatan 60 Tahun RI-RRT Yang diadakan oleh Federation of Returned Overseas Chinese Beijing

6/12/2010

 

Yang saya hormati Mr. Zhang Weichao, Chairman of Beijing Federation of Indonesian Returned Overseas Chinese,

Yang saya hormati Mr. Linjun, Chairman of All China Federation of Returned Overseas Chinese,

Yang saya hormati, Madam Li Zhaoling, Chairwoman of Federation of Returned Overseas Chinese Beijing,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Selamat pagi,

Shangwu hao,

 

Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk dapat hadir di tengah-tengah saudara-saudara huaqiao dan para tamu undangan dalam perayaan 60 tahun pembukaan hubungan diplomatik RI dan RRT. Pada kesempatan yang membahagiakan ini, meskipun masih 4 hari lagi, saya ingin menyampaikan ucapan selamat hari raya ?i>Duanwu Jie? ?i>Dragon Boat Festival?atau ?ari Raya Makan Bacang? semoga saudara-saudara memperoleh kebahagiaan, keberuntungan dan kesejahteraan.

 

Tahun ini memang tahun yang istimewa. Pada tahun ini kita memperingati 60 tahun pembukaan hubungan diplomatik Republik Indonesia dan Repuplik Rakyat Tiongkok. Tahun ini juga bertepatan dengan 5 tahun penandatanganan Deklarasi Kemitraan Strategis. 2010 juga telah dicanangkan oleh Presiden kedua Negara sebagai Tahun Persahabatan.

 

Bapak Ibu Hadirin sekalian,

 

Hubungan dan persahabatan bangsa Indonesia dan Tiongkok tidak dimulai 60 tahun lalu, atau 5 tahun lalu, tetapi sudah dimulai berabad-abad yang lalu. Nenek moyang kita telah saling bertukar kunjung. Di abad ke-13, Kerajaan Sriwijaya dari Indonesia telah mengirimkan utusan kerajaan ke Tiongkok. Pada waktu yang sama Biksu dari Tiongkok juga telah melakukan perjalanan hingga Indonesia. Pada abad ke-14 sampai dengan 16, kapal-kapal dari Tiongkok mulai banyak berlayar ke kepulauan Indonesia dan perdagangan kedua Negara mulai berkembang pesat. Banyak pelaut dan pedagang yang kemudian menikah dengan orang lokal dan terjadilah asimilasi dan akulturasi budaya dan peradaban. Di Jawa, orang Tiongkok lah yang telah mengajari cara bertanam padi dan teh. Mereka juga mulai mengimpor sayuran dan rempah-rempah dari nusantara.

 

Ekspedisi dari Tiongkok yang paling terkenal adalah pelayaran Laksamana Zheng He di jaman Dinasti Ming. Zheng He berlayar dan menjelajah beberapa pulau di nusantara, salah satunya di Semarang, Jawa Tengah. Dalam ekspedisinya, Zheng He tidak hanya membawa barang dagang, tetapi yang terpenting adalah pesan perdamaian dan ajaran mengenai hidup berdampingan secara harmonis dalam perbedaan dan keberagaman. Untuk memperingati kebesaran Zheng He dan peninggalan ajarannya, di Semarang didirikan sebuah kelenteng. Tahun 2008 telah diadakan peringatan 600 tahun ekpedisi Zheng He di nusantara ditandai dengan pendirian patung di kelenteng Sam-pho-kong (sebutan Zheng He di Indonesia). Kelenteng ini dikunjungi tidak hanya oleh penganut ajaran Konghuchu, tetapi juga Buddha, Hindu dan bahkan Muslim. Nilai-nilai toleransi antarkepercayaan sebagai salah satu legasi Zheng He masih perlu untuk terus dipelihara dan dijaga oleh bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang cinta damai dan toleran, dan juga oleh seluruh umat dunia yang dewasa ini terjebak dalam pertentangan antarkepercayaan dan peradaban. Oleh karena itu, legasi ajaran Zheng He dari ratusan abad lalu tersebut masih sangat relevan di abad ke-21 ini. Antarbangsa perlu saling mengenal dan memahami untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan saling toleran atas segala perbedaan, karena hanya dengan demikian, perdamaian dan kesejahteraan umat dunia dapat diwujudkan.

 

Hadirin sekalian yang terhormat,

 

Saat ini di Indonesia terdapat hampir 8 juta overseas Chinese dan lebih dari 12 juta warga Indonesia keturunan Tiongkok yang tinggal menyebar di kepulauan nusantara. Jumlah ini terbesar di dunia sehingga dapat dikatakan Indonesia adalah rumah kedua bangsa Tiongkok.

 

Dalam konteks perayaan 60 tahun RI-RRT dan Tahun Persahabatan Indonesia-Tiongkok, saya ingin menekankan arti penting untuk mengingat kembali ajaran filosofi bijak nenek moyang kita, ajaran Laksamana Zheng He dan mengadopsinya sebagai dasar bagi cara pandang dan tata perilaku kita dalam menjalin hubungan persahabatan antarbangsa. Tali persahabatan antara kedua bangsa perlu dieratkan simpulnya, didasarkan pada kesamaan akar budaya maupun pada perbedaan dan keragaman yang ada.

 

Hadirin yang berbahagia,

 

Meskipun saya baru 2 bulan di Beijing, tetapi saya telah banyak mengamati dan mendapatkan banyak kesempatan untuk mengenal warga Huaqiao, yang tersebar di Beijing, Shanghai, Nanjing dan tempat-tempat lain. Saya merasa tersentuh dan terharu dengan semangat persaudaraan dari teman-teman Huaqiao ini, seolah-olah bertemu dengan saudara yang telah lama tidak bersua.

 

Saya tahu bahwa warga Huaqiao telah banyak membantu kami, orang Indonesia sebagai warga asing di daratan Tiongkok dan senantiasa aktif mendukung kegiatan dan acara yang diadakan KBRI. Saya juga tahu bahwa Huaqiao, khususnya yang berasal dari Indonesia, masih dan akan?selalu mencintai budaya Indonesia, bahasa Indonesia, makanan Indonesia, dan menganggap kami sebagai sesama saudara dan keluarga.

 

Kami tentunya juga menganggap Huaqiao sebagai bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia di daratan Tiongkok. Dan sebagai bagian dari keluarga, kita selayaknya saling berbagi, saling menyayangi dan terus menjaga kerukunan yang telah terjalin erat ini.

 

Namun kami melihat bahwa kalangan generasi muda Tiongkok masih belum sepenuhnya mengenal Indonesia. Untuk itu, kami mengharapkan Huaqiao, sebagai sahabat dan keluarga, dapat turut menyebarkan semangat persahabatan dan kekeluargaan bangsa Indonesia kepada masyarakat Tiongkok agar mereka lebih mengenal Indonesia?egeri ribuan pulau, dengan suku bangsa yang ramah tamah dan beraneka ragam. Di beberapa daerah, warga Huaqiao tercatat turut mengajarkan bahasa dan budaya Indonesia kepada generasi muda dan kalangan luas, seperti yang dilakukan di Kunming, Nanning, dan Hainan.

 

Saudara-saudara yang saya muliakan,

 

Ada pepatah bijak ?ak kenal maka tak sayang? artinya kalau kita tidak mengenal, tidak mengetahui, maka kita juga tidak menyayangi. Dalam kaitan ini, saya memandang eksistensi warga Huaqiao yang sangat strategis dan memiliki karakteristik yang khas, karena sudah sangat mengenal dan pernah menjadi bagian dari budaya dan bangsa Indonesia. Anda adalah sahabat-sahabat Indonesia, yang diharapkan turut melestarikan tali persahabatan antara Indonesia-Tiongkok.

 

Akhirnya, sekali lagi saya ingin mengajak Saudara-saudara sekalian, masyarakat Indonesia serta teman-teman Huaqiao, untuk menyampaikan salam persahabatan dari Indonesia kepada saudara-saudara di Beijing dan seluruh Tiongkok, di manapun mereka berada. Hanya dengan demikian, kita bisa melangkah bersama-sama dengan penuh kasih sayang menuju kemajuan dan kemakmuran.

 

Terima kasih.

Xiexie?????