Pidato Duta Besar RI Imron Cotan Sebagai Pembina Upacara Peringatan HUT RI Proklamasi Ke-65 tanggal 17 Agustus 2010 di KBRI Beijing

8/19/2010

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Salam sejahtera untuk kita semua,

 

Para undangan yang saya hormati,

 

Kita patut bersyukur kepada Tuhan YME yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk berkumpul merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-65.

 

Peringatan ini selain dimaksudkan sebagai perenungan atas jasa-jasa besar para pahlawan di masa lalu, juga untuk mengkaji kontribusi yang telah dan akan kita berikan kepada bangsa dan negara tercinta, Indonesia di masa mendatang.

 

Sejak diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, oleh Soekarno dan Hatta, bangsa Indonesia telah mengalami liku-liku sejarah yang cukup panjang. Kemerdekaan Indonesia telah menjadi salah-satu katalis bagi pembebasan bangsa-bangsa terjajah di dunia, sehingga telah turut mengubah jalannya sejarah dunia. Memang, kemerdekaan Indonesia telah memberikan inspirasi bagi bangsa-bangsa terjajah lain di dunia, terutama di Asia dan Afrika, untuk memerdekakan diri. Konperensi Asia – Afrika, Bandung (1955) merupakan suatu ‘corner stone’ bagi proses dekolonisasi dunia tersebut.

 

Para undangan yang saya hormati,

 

Selama 65 tahun merdeka, Indonesia telah menoreh berbagai prestasi di berbagai bidang. Reformasi gelombang pertama yang dimulai pada tahun 1997, telah mampu menciptakan Indonesia sebagai negara demokratis ketiga terbesar di dunia. Proses pemilihan umum, baik eksekutif maupun legislatif, di berbagai tingkatan terselenggara secara rutin dan damai; ‘good governance’ telah menjadi jangkar kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Dalam Pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan DPR-RI, 16 Agustus 2010 beliau mengatakan, antara lain: ‘sungguh menakjubkan’ proses perubahan mendasar di Indonesia berjalan secara damai (quiet revolution). Suatu prestasi yang layak kita banggakan bersama.

 

Stabilitas politik yang tercipta telah pula mendorong pembangunan ekonomi. Tahun 2009 yang lalu, sementara negara-negara lain mengalami pertumbuhan ekonomi negatif di tengah-tengah resesi ekonomi dunia, indikator ekonomi makro Indonesia seluruhnya positif, antara lain: pertumbuhan ekonomi hampir 6%; daya beli rakyat meningkat; lapangan pekerjaan bertambah serta angka kemiskinan menurun; laju inflasi tertahan pada kisaran 3% sementara nilai tukar rupiah stabil dan cadangan devisa sekitar US$ 70 milyar, terbesar sepanjang sejarah. Keyakinan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia juga semakin membaik dengan naiknya peringkat Indonesia dari BB menjadi BB+, 1 notch di bawah investment grade. Sunday Morning Post (15/08/2010) bahkan menegaskan, bersama dengan Turki, Indonesia merupakan negara destinasi investasi yang lebih menarik dari negara-negara yang tergabung dalam BRIC (Brazil, Russia, India, dan China)   Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh bangsa Indonesia tersebut selaras dengan tema peringatan HUT Kemerdekaan tahun 2010 ini, yaitu: ‘Dengan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, kita sukseskan reformasi gelombang kedua, untuk terwujudnya kehidupan yang makin sejahtera, makin demokratis dan makin berkeadilan’.

 

Para undangan yang saya hormati,

 

Dalam konteks hubungan bilateral Indonesia – RRT, HUT Kemerdekaan Indonesia tahun ini juga bermakna sangat mendalam, karena pada tahun ini kita merayakan 60 tahun hubungan diplomatik RI – RRT. Tahun 2010, juga telah ditetapkan sebagai ‘Tahun Persahabatan Indonesia – RRT’.

 

Kedua negara telah pula menandatangani Deklarasi Kemitraan Strategis (April 2005) dan Plan of Action (Januari 2010) yang menjadi landasan utama bagi upaya-upaya memperkuat hubungan Indonesia – RRT. Kemitraan Strategis terbukti efektif mendorong tumbuhnya hubungan bilateral di berbagai bidang. Volume perdagangan kedua negara terus meningkat, tahun 2009 mencapai hampir US$ 30 milyar. Saat ini, atas instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia menargetkan volume perdagangan dua arah sebesar US$ 50 milyar pada tahun 2014. Pemberlakuan ASEAN – China Free Trade (ACFTA, 2010), diharapkan semakin mendorong aktivitas perdagangan kedua negara. Dengan meningkatnya perdagangan dengan, dan investasi dari RRT, kita berharap hubungan bilateral kedua negara akan semakin kokoh di masa-masa mendatang. Untuk itu peran dan kinerja seluruh jajaran pimpinan dan staf KBRI Beijing perlu terus ditingkatkan.

Pada saat yang sama, hubungan antar-masyarakat kedua negara pada tingkat akar rumput juga semakin berkembang pesat, terbukti dengan semakin meningkatnya tukar-menukar mahasiswa, tokoh-tokoh agama dan masyarakat, politisi, serta anggota parlemen. Mudah-mudahan pada tahun ini, tidak kurang dari 600.000 wisatawan RRT akan mengunjungi Indonesia. Kita berharap hal yang sama juga berlaku bagi hubungan Indonesia dengan Mongolia.

Para undangan yang saya hormati,

 

Sebagai penutup, marilah kita berdoa Tuhan YME terus melimpahkan rahmat, karunia-Nya kepada pemimpin dan rakyat Indonesia, agar upaya kita mewujudkan Indonesia yang maju, demokratis, berkeadilan, dan bermartabat, berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika berhasil dengan baik.

 

Dirgahayu Republik Indonesia. Terima kasih,

 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.