Pesan Duta Besar Republik Indonesia Untuk RRT Merangkap Mongolia Dalam Rangka Peringatan 60 Tahun Pembukaan Hubungan Diplomatik RI-RRT

4/13/2010

 

Pada hari ini, tanggal 13 April 2010, kita secara resmi merayakan 60 Tahun Pembukaan Hubungan Diplomatik RI-RRT.  Meskipun pernah mengalami pembekuan sementara, namun sejak pembukaan kembali hubungan diplomatik tepatnya pada tanggal 8 Agustus 1990, hubungan bilateral kedua negara telah tumbuh semakin mantap dan kuat. Pada bulan April 2005 di Jakarta, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden RRT Hu Jintao telah menandatangani Deklarasi Bersama Kemitraan Strategis guna menjadi platform dalam meningkatkan kerjasama bilateral yang lebih pragmatis.

Kemitraan Strategis antara RI dan RRT ini merupakan tonggak dalam sejarah hubungan bilateral kedua negara. Dokumen dimaksud menunjukkan komitmen kedua belah pihak untuk saling melengkapi upaya masing-masing dalam mencapai tujuan nasional di samping dalam membangun kerjasama di tingkat regional maupun global.

Sebagai tindak lanjut dari Deklarasi Bersama Kemitraan Strategis, pada tanggal 21 Januari 2010, RI dan RRT sepakat untuk menandatangani dan melaksanakan Rencana Aksi, antara lain meliputi pembuatan mekanisme dialog bilateral, kerjasama teknis, kerjasama internasional dan regional, pengaturan pendanaan untuk setiap kegiatan yang dilaksanakan dalam kerangka Rencana Aksi serta mekanisme pengkajian. Rencana Aksi ini menjadi acuan bagi implementasi kerjasama bilateral di bidang politik, hukum dan keamanan, ekonomi dan pembangunan, sosial budaya, pariwisata serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pemerintah Indonesia terus berupaya untuk memupuk dan memperkuat kemitraan dengan RRT yang didasarkan pada prinsip-prinsip saling menghargai dan memahami. Kerjasama yang telah dilakukan di berbagai bidang akan terus ditingkatkan dan kedua pihak juga akan senantiasa mencari terobosan baru dalam membangun kerjasama demi kepentingan bersama rakyat kedua negara. Kesemua ini berpijak kepada komitmen yang kuat dari Indonesia terhadap kebijakan ‘Satu-Tiongkok’ sejak tahun 1950 serta dari pihak RRT terhadap kebijakan non-intervensi urusan dalam negeri serta penghormatan terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah dan kesatuan bangsa.

Menuju Kemitraan Strategis

Deklarasi Bersama Kemitraan Strategis terbukti efektif dalam meningkatkan hubungan bilateral di berbagai bidang. Pada sektor perekonomian, volume perdagangan kedua negara secara stabil terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009, berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik RI, nilai perdagangan RI-RRT telah mencapai 25,5 miliar dollar AS. Implementasi kesepakatan perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) yang mulai berlaku pada 1 Januari 2010 diharapkan dapat lebih mendorong aktivitas perdagangan lebih jauh. Saat ini, Pemerintah RI telah menetapkan target perdagangan bilateral dapat mencapai 50 miliar dollar AS pada tahun 2015.

Perlu dicatat bahwa berdasarkan data statistik tahun 2009, total investasi RRT ke Indonesia baru mencapai 65,50 juta dollar AS. Sementara dalam kurun waktu setengah tahun pertama pada 2009 saja investasi dari Indonesia ke RRT telah mencapai 65,54 juta dollar AS. Karenanya Indonesia perlu lebih meyakinkan para investor Tiongkok untuk datang dan menanamkan modal di Indonesia. Dengan latar belakang inilah, Perwakilan RI di RRT terus berupaya secara agresif untuk melakukan berbagai program promosi investasi di seluruh wilayah RRT guna menjaring dan mendorong lebih banyak investor Tiongkok untuk mengeksplorasi potensi pasar Indonesia yang besar, utamanya di bidang pembangunan infrastruktur dan transportasi.

Di bidang pariwisata, jumlah turis Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia tahun lalu mencapai 324.887 orang. Seiring dengan kemajuan perekonomian RRT, semakin besar minat penduduk Tiongkok untuk bepergian ke luar negeri. Mencermati peluang ini, Indonesia menargetkan untuk menarik 564.000 wisatawan dari RRT tahun ini.

Peringatan 60 Tahun hubungan diplomatik RI-RRT ini seharusnya dapat menjadi katalis guna memperluas dan memperdalam hubungan persahabatan demi kepentingan rakyat kedua negara. Rencana kunjungan Perdana Menteri RRT Wen Jiabao ke Indonesia pada tanggal 23-24 April 2010 sangat tepat waktu karena kedua negara telah berkomitmen untuk bersama-sama membangun kawasan yang stabil, damai dan sejahtera.

Sebagai Duta Besar Republik Indonesia di RRT, saya berharap untuk dapat memperoleh masukan dari berbagai pihak dalam rangka memajukan kepentingan rakyat kedua negara. Secara pribadi saya juga berharap agar persabahatan dan kerjasama di berbagai bidang yang telah dilakukan selama ini dapat terus ditingkatkan dan diperkuat di masa yang akan datang.