Sekelumit Kisah Pak Slamet dan Sepeda Tuanya

​Bandar Seri Begawan - Semangat bapak berumur 74 tahun ini agaknya tidak pernah luntur. Sebut saja Slamet Sutikno, ditengah hiruk pikuk masyarakat yang terbuai dengan berbagai kendaraan mewah disetiap sudut jalanan kota besar, pak Slamet tetap dengan bangga mengayuh sepeda tuanya dengan semangat. “Supaya orang paham tradisi” jawabnya. Beliau adalah pensiunan pegawai Kotamadya Malang sejak tahun 1998. Beliau memiliki 6 orang anak dan 14 orang cucu, sementara sang istri telah meninggal dunia ditahun 2013 silam.

Setelah  memasuki usia pensiun, pak Slamet baru memulai perjalanan panjangnya. Beliau sudah pernah mengelilingi Surabaya-Malang sebanyak lima kali. Seluruh daerah Jawa Timur telah beliau datangi. Berbekal sepeda onthel tua, pak Slamet berhasil menaklukkan banyak kota di Indonesia. Usut punya usut, ternyata Pak Slamet berkelana kesana kemari tidak sendirian. Terlihat dari sepeda yang beliau gunakan, dikursi penumpang terdapat 2 tiang bendera. Selain Bendera Merah Putih yang dikibarkannya, pak Slamet juga menggandeng bendera Komunitasnya yaitu KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia). Beliau sering mendatangi undangan untuk komunitas di daerah-daerah luar kota seperti acara HUT kota Semarang dan masih banyak lagi.

pak slamet.JPG

Dalam rutenya kali ini, untuk menaklukan negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Brunei dan Timor Leste, pak Slamet telah menghabiskan waktu 6 bulan dengan memulai perjalanan dari Malang lanjut ke Surabaya kemudian Gresik sampai dengan Jakarta dan lanjut terus ke Singapura, Malaysia juga Brunei. Ketika singgah di Jakarta, sempat juga pak Slamet mengikuti sebuah acara gowes bersama komunitasnya. Dengan dukungan komunitasnya itulah, beliau dapat diterima dengan baik oleh masyarakat disepanjang perjalanannya. Tak jarang pula orang-orang menawarkan rumah mereka untuk dijadikan tempat singgah. Karena menyadari usianya yang tidak lagi muda, pak Slamet tidak pernah melakukan perjalanan di malam hari, beliau menggunakan malam hari untuk beristirahat dan seringkali tawaran untuk menginap dari warga sekitar diterima olehnya. Berangkat dari hal tersebut, pak Slamet kini telah memiliki banyak sekali relasi di berbagai pelosok daerah di tanah air. 

Ketika beranjak ke negeri tetangga yaitu Malaysia tepatnya Johor, beliau tinggal dirumah anak keempatnya selama dua minggu. Selebihnya beliau mengunjungi KBRI di negara yang bersangkutan untuk beristirahat ditempat penampungan KBRI. Begitu ditanya cara menyikapi diri ketika sampai di daerah baru dengan kebudayaan yang berbeda sama sekali dengan kebudayaan aslinya di Malang, beliau hanya menjawabnya santai bahwa sama sekali tak ada yang perlu dikhawatirkan. Dari cerita tentang pengalamannya di negeri orang, malahan ada polisi setempat yang mengajaknya selfie.

Sebagai seorang petualang, bapak Slamet ini tergolong orang yang well-prepared sekali. Tidak serta merta bondo nekat atau modal nekat, pak Slamet sudah mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan panjangnya. Bahkan rute perjalanan yang akan beliau tempuh sudah direncanakan secara mantap. Walaupun hanya membawa sepeda tua, persiapannya benar-benar matang mulai dari membawa botol minuman, perlengkapan perbaikan sepeda, topi sampai dokumen penting seperti paspor, visa, surat jalan dari kepolisian beliau miliki.​

Botol minum, jas hujan, peralatan mandi dsb.JPG

Ketika ditanya apa misinya melakukan hal yang terbilang tidak biasa seperti itu, jawabannya akan selalu sama yaitu agar tradisi tetap dijaga dan memiliki banyak relasi. Beliau berpesan kepada kita sebagai generasi muda bahwa Indonesia akan selalu menjadi harga mati. Kalau lupa diri, mulailah mengingat perjuangan masalalu ketika Indonesia tidaklah satu. Senin tanggal 8 Agustus 2016 pagi ini rencananya pak Slamet akan melanjutkan perjalanannya menuju Sabah lalu lanjut ke Nunukan Kalimantan utara, Kalimantan timur, Balikpapan, kemudian menyebrang ke Sulawesi. Cita-cita beliau adalah untuk mengayuh sepedanya mulai dari Sabang sampai ke Merauke, tempat pulau-pulau Negara Republik Indonesia berjajar dari ujung ke ujung. “Pak Slamet, mugi-mugi panjenengan diparingi kesehatan sing katah ya. Aamiin.”

-Candrika Radita- 
(penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang tengah melakukan praktek kerja nyata di KBRI Bandar Seri Begawan)

Foto lebih lengkap klik di sini ​​

Lihat juga artikel terkait: