Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Profil Negara dan Kerjasama

Brunei Darussalam

 

KETERANGAN DASAR

 

1.      UMUM

 

§        Tanggal 1 Januari 1984, menjadi negara merdeka dan berdaulat penuh (bekas jajahan Inggris).

 

§         Kepala Negara / Kepala Pemerintahan: Sultan Haji Hassanal Bolkiah (memerintah sejak tanggal 5 Oktober 1967).

 

§        Nama resmi Sultan: Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah ibni Al-Marhum Sultan Haji Omar ‘Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien, Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam.

 

§        Kepala Negara/Pemerintahan: Sultan Haji Hassanal Bolkiah, yang merangkap jabatan sebagai Perdana Menteri, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Diraja Brunei (ABDB), Menteri Pertahanan, Menteri Keuangan, Kepala Agama Islam Negara, Inspektur Jenderal Polis Diraja Brunei (PDB), Chancellor (Rektor) Universiti Brunei Darussalam (UBD), dan Chancellor Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA).

 

§          Lagu kebangsaan: “Allah Peliharakan Sultan”.

 

 

2.      GEOGRAFIS

 

§          Luas wilayah: 5,765 kilometer persegi.

 

§         Brunei Darussalam terletak di kawasan Asia Tenggara di pantai Barat Laut Kalimantan bagian Utara, antara 114’04” dan 114’23” Bujur Timur serta 4’00” serta 5’05” Lintang Utara, berada 443 kilometer di sebelah utara Equator atau garis khatulistiwa. Panjang pesisir pantai membentang sepanjang 130 kilometer berhadapan langsung dengan Laut China Selatan.

 

 

3.      BATAS WILAYAH DAN TOPOGRAFI

 

§         Wilayah daratan Brunei terpisah menjadi dua bagian, dimana satu bagian di Barat, yang terdiri dari daerah Brunei-Muara, Tutong dan Belait, dan satu bagian lagi di Timur, yang terdiri dari Temburong, yang dipisahkan oleh perairan Teluk Brunei dan wilayah Limbang yang masuk kedalam Negara Bagian Sarawak, Malaysia.

 

§         Batas-batas wilayah: Laut China Selatan di Utara, Negara Bagian Sarawak, Malaysia, yang berbatasan langsung dengan seluruh wilayah darat Brunei.

 

§        Topografi daratan Brunei umumnya terdiri dari bukit-bukit rendah, hutan-hutan payau/rawa dan lembah-lembah.

 

 

4.      PEMERINTAHAN

 

§        Administrasi pemerintahan: Brunei terbagi atas 4 (empat) daerah pemerintahan, yakni Brunei-Muara, Belait, Tutong, dan Temburong, dan 3 (tiga) kota, yakni Bandar Seri Begawan, Tutong, dan Kuala Belait. Tiap daerah terdiri dari mukim-mukim, tiap mukim terdiri dari kampong-kampong.

 

§          Ibukota negara: Bandar Seri Begawan (luas wilayah: 100,36 kilometer persegi), sebelumnya bernama Bandar Brunei (Brunei Town) sampai dengan tanggal 5 Oktober 1970.

 

 

5.      Populasi: 411,000 (data dari Jabatan Perancangan dan Kemajuan Ekonomi/JPKE pada Kantor Perdana Menteri, berdasarkan hasil Sensus Penduduk bulan Juni 2011).

 

6.     Dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara, Brunei merujuk kepada Konstitusi tahun 1959 dan MIB.

 

 

7.      Ideologi/falsafah negara Brunei adalah Melayu Islam Beraja (MIB).

 

§         Melayu: akar budaya bangsa

 

§          Islam: agama negara dan panduan masyarakat Brunei

 

§          Beraja (kerajaan): sistem negara dan pemerintahan di Brunei

 

 

8.      Islam merupakan agama resmi. Mazhab yang dianut adalah mazhab Syafi’i. Ajaran Islam yang dianut adalah ”Ahlussunah wal jama’ah”. Penggunaan huruf Arab Jawi selain huruf Latin di papan nama jalan dan tempat-tempat umum merupakan salah satu wujud implementasi kongkrit ideologi MIB.

 

9.      Sultan Haji Hassanal Bolkiah merupakan Sultan ke-29 dan telah memerintah selama lebih dari 44 tahun sejak tahun 1967. Beliau dinilai rakyatnya berhasil membawa Brunei menikmati kemajuan perekonomian dan stabilitas. Sikapnya yang menonjol dalam memerintah negara adalah kesediaan untuk mendengarkan aspirasi dan masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyatnya.

 

10.    Brunei merupakan salah satu negara produsen minyak bumi dan gas di Asia Tenggara. Komersialisasi temuan sumur minyak pertama kali dilakukan pada tahun 1929 oleh perusahaan minyak Shell (Royal Dutch Shell) dengan ijin Sultan Brunei. Selanjutnya berbagai temuan minyak dan gas di sumur-sumur off-shore, on-shore dan pedalaman wilayah Brunei telah mendorong negara itu maju pesat perekonomiannya. Minyak mentah, produk-produk petroleum dan liquified natural gas (LNG) Brunei diekspor dengan negara-negara tujuan utama Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan negara-negara ASEAN.

 

11.    Dengan komersialisasi temuan minyak pertama tahun 1929, Sultan Brunei mengadakan kerjasama dengan perusahaan Shell dan mendirikan perusahaan patungan bernama Brunei Shell Petroleum Sdn. Bhd. (BSP). Pada tahun 1980-an, Sultan Brunei mengijinkan dibentuknya konsorsium guna memungkinkan perusahaan minyak asing lainnya turut melakukan eksplorasi minyak, yakni Total Fina Elf, yang bermitra dengan perusahaan lokal Brunei, Jasra International Petroleum.

 

PERKEMBANGAN KERJASAMA BILATERAL INDONESIA-BRUNEI DARUSSALAM

 

Politik

Indonesia dan Brunei Darussalam menjalin hubungan diplomatik sejak tanggal 1 Januari 1984, yang segera ditindaklanjuti dengan pembukaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bandar Seri Begawan dan pembukaan Kedutaan Besar Negara Brunei Darussalam di Jakarta.

 

Pada tanggal 27 September 1999, kedua negara sepakat untuk mengadakan Komisi Bersama Indonesia-Brunei dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pembentukan Komisi Bersama kedua negara. Pertemuan Pertama tingkat Menteri Komisi Bersama Indonesia-Brunei berlangsung di Jakarta tanggal 25 Juli 2003, dan pertemuan ke-2 Komisi Bersama kedua negara di Bali tanggal 17-18 Juli 2011. Pertemuan ke-3 Komisi Bersama Indonesia-Brunei disepakati akan diselenggarakan di Brunei pada tahun 2012.

Perkembangan hubungan bilateral Indonesia-Brunei sangat baik, yang ditandai dengan saling kunjungan Kepala Negara/Pemerintahan kedua negara yang intens dalam beberapa tahun terakhir, termasuk kunjungan kenegaraan Presiden Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono ke Brunei pada tanggal 24-25 Februari 2011 dan sejumlah kunjungan Sultan Haji Hassanal Bolkiah ke Indonesia, untuk menjenguk mendiang mantan Presiden Soeharto pada tanggal 14 Januari 2008, menghadiri acara pelantikan Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI pada bulan Oktober 2009, menghadiri KTT ASEAN ke-18 di Jakarta tanggal 7-8 Mei 2011 dan KTT ASEAN ke-19 dan KTT terkait lainnya di Bali tanggal 16-19 Nopember 2011, serta menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia (UI) di bidang kemanusiaan dan peradaban pada tanggal 21 April 2011.

 

Sultan Haji Hassanal Bolkiah merupakan satu-satunya kepala negara/pemerintahan yang selalu hadir pada acara Bali Democracy Forum (BDF) hingga kini, mulai dari BDF I bulan Desember 2008, BDF II bulan Desember 2009, BDF III bulan Desember 2010, dan BDF IV bulan Desember 2011.

 

Setelah sempat vacuum selama sekitar 8 tahun, pertemuan Komisi Bersama Indonesia-Brunei bergulir kembali dengan pelaksanaan pertemuan ke-2 di Bali tanggal 17-18 Juli 2011, yang diakhiri dengan penandatanganan persetujuan tentang notifikasi dan bantuan kekonsuleran atau MCN, dan Memorandum Saling Pengertian (MoU) tentang Kerjasama Pendidikan dan Pelatihan Diplomatik.

 

Pada kunjungan kenegaraan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ke Brunei Darussalam tanggal 24-25 Februari 2011, Indonesia dan Brunei menandatangani Memorandum Saling Pengertian (MoU) di bidang Kerjasama Pertanian dan Surat Pernyataan Berkehendak (Letter of Intent / LoI) untuk menjalin Kerjasama di bidang Kelautan dan Perikanan.

 

Dari kunjungan kenegaraan Sultan Haji Hassanal Bolkiah ke Indonesia pada tanggal 22-23 April 2008, telah ditandatangani MoU on Cultural Cooperation antara Indonesia dengan Brunei. Selain itu Sultan Haji Hassanal Bolkiah menerima Wing Kehormatan Penerbang TNI Angkatan Udara dan  dikukuhkan sebagai Anggota Kehormatan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Korpaskhasau).

 

Hubungan parlemen kedua negara ditandai dengan berlangsungnya kunjungan kerja Ketua Parlemen Brunei Darussalam (Legislative Council / LegCo) dan delapan (8) anggota LegCo ke Indonesia tanggal 28 April – 2 Mei 2008. Kunjungan tersebut merupakan balasan kunjungan muhibah Ketua DPR-RI, Agung Laksono, ke Brunei Darussalam tanggal 28-30 Maret 2006 yang didampingi 7 anggota DPR-RI. Dari kunjungan Ketua Parlemen Brunei Darussalam ke Indonesia, terwujud saling pengertian dan hubungan baik antara Legislative Council (LegCo) Brunei Darussalam dan MPR/DPR RI. Pada tanggal 7 Agustus 2010, rombongan Komisi III DPR RI melakukan kunjungan kerja satu hari ke Brunei. Pada tanggal 13-16 Desember 2010, rombongan Komite IV DPD RI (Bidang Anggaran) melakukan kunjungan kerja ke Brunei untuk studi banding tentang pelaksanaan sistem bagi hasil devisa Brunei dari sektor migas. Pada tanggal 11-12 September 2011, rombongan Wakil Ketua DPD RI, Laode Ida, melakukan kunjungan ke Brunei untuk meningkatkan kerjasama dengan Legislative Council (Parlemen). Selain itu berlangsung pula kunjungan Ketua Komite I DPD RI, H. Dani Anwar, dan anggota-anggota Komite I DPD RI ke Brunei dari tanggal 27 Nopember s/d 3 Desember 2011 untuk melakukan studi referensi tentang regulasi pertanahan di Brunei.

Pada tanggal 26 Nopember 2011, untuk pertama kalinya berlangsung forum Policy Planning Dialogue (PPD) antara Indonesia dan Brunei Darussalam di gedung Kemludag Brunei, Bandar Seri Begawan. PPD telah membahas berbagai isu yang menjadi perhatian atau kepentingan bersama kedua negara, antara lain isu ASEAN Connectivity, BIMP-EAGA, China dan India sebagai kekuatan-kekuatan utama di dunia saat ini.

 

Perkembangan penting lainnya adalah penganugerahan darjah atau bintang kehormatan dari Sultan Haji Hassanal Bolkiah atas jasa-jasa mereka dalam meningkatkan hubungan kerjasama bilateral Indonesia-Brunei di bidang tugas masing-masing. Pemberian bintang kehormatan tersebut dilakukan dalam rangka memperingati “Hari Keputeraan” (hari ulang tahun Sultan Brunei) tanggal 15 Juli. Para pejabat tinggi pemerintah Indonesia tersebut adalah Marsekal TNI Djoko Suyanto, Panglima TNI saat itu, yang dianugerahi bintang kehormatan oleh Sultan Brunei pada Hari Keputeraan ke-60 tanggal 15 Juli 2006, Jenderal TNI Djoko Santoso saat menjabat Panglima TNI, menerima penganugerahan bintang kehormatan oleh Sultan Brunei pada Hari Keputeraan ke-64 tanggal 15 juli 2010, dan Laksamana TNI Agus Suhartono, Panglima TNI saat ini, yang dianugerahi bintang kehormatan oleh Sultan Brunei pada Hari Keputeraan ke-65 tanggal 15 Juli 2011, disaksikan oleh Menteri Pertahanan RI, Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro. Jenderal Pol. Drs. Sutanto yang pernah menjabat Kapolri juga dianugerahi bintang kehormatan oleh Sultan Haji Hassanal Bolkiah dalam rangka Hari Keputeraan ke-61, yang penganugerahannya dilaksanakan pada tanggal 7 April 2008.

 

Ekonomi

 

Hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara cenderung mengalami peningkatan, meskipun neraca perdagangan masih surplus untuk Brunei karena Indonesia mengimpor minyak dari Brunei dalam nilai yang besar.

 

Data statistik perdagangan luar negeri Brunei Darussalam menunjukkan bahwa selama tahun 2010, nilai perdagangan bilateral Indonesia-Brunei sebesar B$ 928.960.000, yang terdiri dari nilai ekspor Brunei ke Indonesia B$ 859.940.000 dan nilai ekspor Indonesia ke Brunei B$ 69.020.000.

 

Pada tahun-tahun sebelumnya, nilai perdagangan bilateral kedua negara tercatat B$ 1.207.360.000 (tahun 2009) dan B$ 3.084.300.000 (tahun 2008). Nilai perdagangan bilateral tahun 2008 tersebut merupakan peningkatan dari nilai perdagangan tahun sebelumnya sebesar B$ 2.885.530.000 (persentase peningkatan sebesar 6.8 %).

 

 

NEGARA

2006

2007

2008

2009

2010

Indonesia

73.770.000

93.090.000

97.120.000

84.230.000

69.020.000

Brunei Darussalam

 

2.405.220.000

 

2.792.440.000

 

2.987.180.000

 

1.123.130.000

 

859.940.000

Total

2.478.990.000

2.885.530.000

3.084.300.000

1.207.360.000

928.960.000

Sumber: Department of Economic Planning and Development at the Prime Minister’s

   Office of Brunei Darussalam

Terjadi penurunan surplus perdagangan untuk Brunei selama 2 tahun berturut-turut hingga tahun 2010, dimana surplus tahun 2008 sebesar B$ 2.890.060.000, tahun 2009 sebesar B$ 1.038.900, dan tahun 2010 menjadi B$ 790.920.000.

 

Komoditi ekspor Indonesia ke Brunei meliputi mie instan, makanan bayi, minuman ringan, jamu tradisional, kosmetik, obat-obatan, alat-alat listrik dan elektronik, tekstil, garmen, furniture, water dispenser, bahan bangunan, peralatan olahraga, rokok, VCD/DVD lagu dan film, produk teknologi perminyakan, kendaraan bermotor dan suku cadangnya, seperti Toyota Kijang, Daihatsu, Mitsubishi, Isuzu, dan lain-lain.

 

Komoditi ekspor Brunei ke Indonesia adalah minyak mentah, transport equipment, cashed head petroleum, dan mesin-mesin.

 

Dalam beberapa tahun terakhir terdapat peningkatan dari jumlah jenis produk Indonesia yang diperdagangkan di pasar Brunei. Pada tahun 2003 tercatat 653 jenis, meningkat menjadi 1,050 jenis pada tahun 2008, dan 1,261 jenis pada tahun 2010.

 

Konsuler

 

Hubungan bilateral Indonesia-Brunei ditandai pula dengan keberadaan sekitar 53,000 tenaga kerja Indonesia di Brunei yang bekerja di sektor formal dan informal,  seperti bekerja sebagai profesional, pelatih olahraga, teknisi, dosen, ustaz/guru agama, pelayan toko dan restoran, serta berwiraswasta. Sebagai konsekuensi keberadaan tenaga kerja Indonesia dalam jumlah yang cukup besar tersebut, muncul masalah-masalah meski persentasenya sangat kecil, yakni sekitar 1 s/d 1,5 %. Dengan eratnya jalinan kerjasama antara aparat terkait di Brunei dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brunei, permasalahan yang timbul pada umumnya dapat diselesaikan dengan baik.

 

KBRI Bandar Seri Begawan telah ditunjuk sebagai salah satu Perwakilan RI pusat pelayanan warga (citizen service) pada tanggal 29 Juli 2007 oleh Menteri Luar Negeri RI. Sebagai konsekuensinya, selain membentuk satuan tugas (satgas) pelayanan warga, KBRI Bandar Seri Begawan telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan pelayanan kekonsuleran dan ketenagakerjaan, sekaligus meningkatkan upaya perlindungan kepada masyarakat Indonesia di Brunei. Pemohon paspor hanya memerlukan waktu kurang dari 24 jam untuk mendapatkan paspor barunya. Dalam kaitan ini KBRI Bandar Seri Begawan juga memberikan pelayanan pembuatan pas foto dan fotocopy tanpa dipungut biaya. Kegiatan pelayanan kekonsuleran dilaksanakan dengan metode ”jemput bola”, dimana KBRI Bandar Seri Begawan mengirimkan tim dan memberikan pelayanan kekonsuleran dan ketenagakerjaan langsung di distrik-distrik yang jauh dari Bandar Seri Begawan sedikitnya 2 kali setahun masing-masing distrik. Sebagai konsekuensi penandatanganan persetujuan kedua negara tentang notifikasi dan bantuan kekonsuleran atau MCN, aparat terkait pemerintah Brunei berkewajiban memberitahukan KBRI Bandar Seri Begawan sekiranya menemukan warganegara Indonesia yang terlantar atau menghadapi masalah, dan demikian pula sebaliknya.

 

Sosial Budaya

 

Hubungan kerjasama Indonesia-Brunei terjalin pula di jalur non-pemerintah, dengan berdirinya Brunei Darussalam-Indonesia Friendship Association atau disingkat BRUDIFA, pada tanggal 6 Januari 2009. Pemberitahuan tertulis dari otoritas Registrar of Society, Polis Diraja Brunei, diterima oleh formatur BRUDIFA pada tanggal 27 Januari 2009. Sebagai formatur sekaligus terpilih sebagai ketua pertama BRUDIFA adalah Pengiran Dato Paduka Haji Jaludin bin Haji Mohd. Limbang, mantan Duta Besar pertama Brunei Darussalam untuk Indonesia (periode tahun 1984-1986). Duta Besar RI di Bandar eri Begawan secara ex-officio merupakan patron (pelindung) organisasi BRUDIFA. Adapun launching BRUDIFA kepada publik telah dilakukan di Rizqun International Hotel, Bandar Seri Begawan, pada tanggal 24 Maret 2009.

 

Sebagai wadah berhimpun masyarakat Indonesia di Brunei, terdapat Persatuan Masyarakat Indonesia atau disingkat PERMAI, sejak tanggal 20 Nopember 1988 dengan nama sebelumnya ”Kerabat Nusantara” atau dikenal dengan singkatan “KN”. PERMAI terdaftar sebagai badan hukum di Brunei pada tanggal 1 Juni 2006. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan oleh PERMAI di bidang sosial, budaya, dan keagamaan, baik dalam rangka mendukung kegiatan KBRI, atau berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat Brunei. 

 

Pertahanan/Keamanan

 

Di bidang pertahanan, angkatan bersenjata kedua negara telah secara berkala melakukan latihan bersama, pimpinan angkatan bersenjata saling melakukan kunjungan, dan saling mengirimkan personel untuk mengikuti kursus atau pelatihan militer.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, perwira-perwira menengah TNI ikut serta dalam kursus pengembangan kepemimpinan nasional ”Executive Development Programme” (EDP) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan Brunei. Seorang perwira menengah lainnya berpartisipasi dalam Staff and Comand College angkatan pertama yang diselenggarakan oleh Angkatan Bersenjata Diraja Brunei (ABDB). Sementara itu, perwira pertama TNI telah mengikuti Junior Staff Course (JSC) yang diselenggarakan oleh Institut Latihan ABDB sejak tahun 2007. Perwira-perwira ABDB telah mengikuti pula pendidikan dan latihan militer di Indonesia, antara lain dengan berpartisipasi dalam pendidikan reguler Sesko TNI AD dan pendidikan militer reguler lainnya di Indonesia.

 

TNI dan ABDB telah pula mengadakan latihan militer bersama, dengan sandi latihan ”Elang Brunesia” untuk latihan bersama antara TNI Angkatan Udara dan Tentara Udara Diraja Brunei (TUDB), dan sandi latihan ”Helang Laut” untuk latihan bersama antara TNI Angkatan Laut dan Tentara Laut Diraja Brunei. Personel-personel Pasukan Gerak Khas (PGK) Tentara Darat Diraja Brunei (TDDB) telah melaksanakan latihan bersama ”Jungle Operation/Welfare” dengan Peleton Intai Tempur (Ton Taipur) Kostrad pada tanggal 1-20 April 2011. Selanjutnya Resimen Pasukan Khas (RPK) ABDB telah mengikuti pula latihan bersama dengan sandi latihan ”Kilat Sakti-1/2011” dengan satuan pasukan Kopassus TNI Angkatan Darat di Markas Pusdik Kopassus, Batujajar, Jawa Barat, dari tanggal 24 Oktober s/d 6 Nopember 2011.

 

Pada tahun 2011, Indonesia telah menerima hibah 2 (dua) kapal kelas ”Waspada” eks bagian armada Tentara Laut Diraja Brunei (TLDB) pada tanggal 15 April 2011, dimana kedua kapal telah berubah nama menjadi KRI Badau dan KRI Salawaku serta menjadi bagian dari armada Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut.

 

Para taruna Akademi TNI telah ikut berpartisipasi menampilkan kemahiran drum band dan memainkan kesenian tradisional daerah Jawa Barat dalam ”Brunei International Tattoo” di Bandar Seri Begawan dari tanggal 31 Mei s/d 2 Juni 2011. Perusahaan-perusahaan produsen peralatan utama sistem senjata (alutsista) dan non-alutsista dari Indonesia, termasuk PT. PINDAD dan PT. Dirgantara Indonesia, berpartisipasi pula dalam event pameran senjata dan peralatan pertahanan berskala internasional yang diadakan sekali dua tahun di Brunei, yakni ”Brunei Darussalam International Defence Exhibition” atau BRIDEX. Indonesia ikut serta pada dua kali penyelenggaraan BRIDEX, yakni pada BRIDEX ke-2 tahun 2009 dan BRIDEX ke-3 tahun 2011.

 

                                                Bandar Seri Begawan, 13 Desember 2011

 



Gedung KBRI

KPU 2014


static3

running1running2running8
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Syarat dan Ketentuan