Pemutaran Film Nusantara Ajak Masyarakat Madagaskar Kenali Indonesia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Untuk memecah kebekuan kerjasama bilateral Indonesia - Madagaskar paska Kudeta 17 Maret 2009 di Madagaskar, KBRI merancang berbagai kegiatan sosial – budaya – kemasyarakatan guna menjangkau berbagai segmen masyarakat Malagasi. Hubungan sejarah dan ikatan afinitas primordial pada ras, bahasa dan budaya, dikapitalisasi dengan optimal dalam upaya merekayasa hubungan bilateral yang lebih strategis dan komprehensif. Tak pelak, fakta alamiah dan ilmiah, memastikan manusia Nusantara (Indonesia) adalah nenek moyang bangsa Malagasi. Civic sentiments yang umum dirasakan oleh bangsa Malagasi adalah, mereka “kurang” Afrika, tapi “lebih” Asia.
 
Upaya yang dilakukan KBRI antara lain mengalihbahasakan sejumlah film nasional Indonesia dari berbagai genre : kepahlawanan, percintaan, komedi – komedi romantis, petualangan, dan lainnya. Setidaknya sudah 7 (tujuh) film nasional yang dialihbahasakan dalam subtitle Bahasa Malagasi (dan Bahasa Perancis), yakni Nagabonar 1 -2, Denias, Heart, Otomatis Romantis, Ungu – Violet, dan Love, dan saat ini direncanakan alihbahasa berbagai film nasional lainnya. Sebagian film tersebut telah ditayangkan, seperti film Nagabonar-1 yang ditayangkan kepada Pengurus Ikatan Alumni Indonesia (IAI), pada tanggal 8 Mei 2009.
 
Anggota IAI terdiri dari sipil, militer dan gendarmerie, baik alumni berbagai pelatihan teknis profesi, seperti dokter hewan, dharmasiswa bahasa dan budaya, dan pendidikan profesi lanjutan (SESKOAD, SESKOAU, SESKOAL, dan SESPIM). “Pesan kejujuran dan kepahlawanan yang tersirat dari film Nagabonar-1 sangat bagus terutama bagi generasi muda Malagasi dalam krisis politik saat ini”, demikian Kol. (Gendarmerie) Rakotobe Abel, Presiden IAI menjelaskan.
Begitupun saat film nasional “Cinta / Love” ditayangkan pada tanggal 27 Agustus 2009, di Amphitheatre-24 – Universitas Antananarivo – Ankatso, kepada para siswa Program Pengajaran Bahasa Indonesia. Dekan Sastra, Dr. Raharinjanahary, dan pemirsa dapat larut dalam drama emosi cinta yang sentimental yang dikisahkan dalam film tersebut.
 
KBRI juga telah membuka Program Pengajaran Bahasa Indonesia di Fakultas Sastra, Universitas Antananarivo – Ankatso, perguruan tinggi ternama di Madagaskar. Pada tahap awal, dibuka 6 kelas Bahasa yang diawaki oleh 6 alumni Program Paskasarjana KNB sebagai “guru dadakan”. Setiap kelas terdiri dari hampir 25 siswa. Kepada para “guru” dibekali dengan Diktat Pengajaran Bahasa Indonesia dalam Bahasa Malagasi, serta Alihbahasa Cerita Rakyat Indonesia kedalam Bahasa Malagasi. Perpustakaan KBRI juga dibuka pada jam kantor.
 
Kepada kalangan rohaniawan lintas agama, KBRI juga membina 7 WNI misionaris dari Ordo SVD (Serikat Sabda Allah/Societas Verbi Divini/Society of the Divine Word), bersilaturrahmi kepada curee Paroki Katedral terbesar di Andohalu (Diosis Antananarivo), juga bekerjasama dengan Universitas Reformasi Madagaskar – Kristen FJKM, guna mengembangkan Pusat Kajian Sejarah Intra-Budaya (PKSI).
 
KBRI juga melakukan kolaborasi kesenian dengan membentuk Band Kolintang yang terdiri dari staf KBRI, Pengurus IAI, Pengurus AMIF (Persahabatan Perempuan Malagasi – Indonesia), dan koreografer musik dari Kelompok Kesenian Tradisional Malagasi, Rakotfrah Jr.. bersama Rakotfrah Jr. juga dikembangkan kolaborasi sintesa tari dan musik tradisional kedua bangsa. KBRI juga telah menghibahkan perangkat wayang kulit kepada Kelompok Kesenian American School of Antananarivo (ASA) guna pementasan wayang dalam Bahasa Perancis dan Inggris.
 
Selain itu, juga dikembangkan dialog intensif dengan Yayasan Melayu Madagaskar (Association Mamelomaso).
 
Saat ini, sedang diupayakan suatu pembentukan komunitas cendekiawan Malagasi dari berbagai disiplin ilmu (epistemic community) guna mengembangkan kerjasama dengan komunitas cendekiawan Indonesia. Diantara alumni Paskasarjana KNB, terdapat seorang alumni yang mengkhususkan studi-nya pada penelitian Biotek-DNA. Yang bersangkutan merencanakan riset doktoral pada persamaan struktur dan kode DNA manusia Nusantara (Indonesia) dan Malagasi (khususnya suku mayoritas Merrina, yang bermukim di ibukota Antananarivo), guna “menguji” afinitas primordial pada ras yang telah diusung melalui kajian ilmu-ilmu sosial, secara Biotek – DNA.
 
Pembentukannya dimaksudkan guna “menghidupkan kembali” afinitas primordial kedua bangsa, dan menjadi “tulang punggung” strategis bagi rekayasa kerjasama bilateral di masa depan.