Mempererat Ikatan Indonesia-Madagaskar melalui Pengajaran Bahasa Indonesia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tak pelak lagi, modalitas terpenting dalam hubungan bilateral Indonesia – Madagaskar, adalah fakta ilmiah dan alamiah bahwa bangsa Indonesia adalah nenek moyang bangsa Malagasi. Hubungan sejarah dan ikatan afinitas primordial tersebut dicirikan dengan persamaan pada ras, bahasa dan budaya. Memaklumi hal tersebut, Madagaskar sesungguhnya merupakan sphere of influence Indonesia di belahan Samudera Indonesia, berdasarkan sejarah pembentukan komunitas Manusia Nusantara Seberang-Lautan (overseas Nusantarian communities).
 
Dengan modalitas itulah, KBRI bekerjasama dengan perguruan tinggi ternama di Madagaskar, yakni Universitas Antananarivo – Ankatso, dengan menyelenggarakan Program Pengajaran Bahasa Indonesia di Fakultas Sastra. Program tersebut dibuka pada tanggal 13 Juli 2009, dan merupakan realisasi dari Perjanjian Bilateral untuk Kerjasama Kebudayaan dan Pariwisata yang dirintis pada tahun 2004.
Yang mengagumkan adalah dalam waktu 2 – 3 hari awal pendaftaran Program, sudah terdata lebih dari 150-an siswa. Dekan Fakultas Sastra, Dr. Solo Raharinjanahary sendiri mengakui hal tersebut, “mengagumkan”, katanya. Dengan mempertimbangkan ketersediaan tenaga pengajar dan pengelolaan administrasi Program, KBRI memutuskan untuk membuka 6 (enam) kelas yang masing-masingnya diikuti oleh sekitar 25 siswa. Para siswa belajar Bahasa Indonesia dalam 3 (tiga) kali pertemuan perminggu, selama 2jam pelajaran per-pertemuan. Lebih mengagumkan, karena diantara para “siswa” tersebut, terdapat seorang Dosen senior bidang Falsafat, Dr. Jacqueline (70 thn), yang sangat antusias dengan Bahasa Indonesia.
 
6 (enam) pengajar disiapkan dari para alumni paskasarjana KNB, yakni Bapak Djorondraza (Alumni Fakultas Syari’ah, UIN Syarif Hidayatullah – Jakarta), Ibu Francine (Alumni Biotek – UGM Yogya), Bapak Isma (alumni Biotek – UGM Yogya), Bapak Andry (Alumni Kimia – UGM Yogya), Ibu Riannala (Alumni Ekonomi Pembangunan – UGM Yogya), dan Bapak Bari (Alumni Geografi – UGM Yogya). Para “guru” sangat bersemangat mendarmabaktikan ilmunya kepada civitas academica Malagasi, namun, tentu KBRI menyadari, para “guru” ini adalah guru “dadakan” dengan kompetensi yang berbeda. KBRI berharap, dapat diadakan ToT (Training-of –Trainers) bagi para alumni ini di Indonesia.
 
Sebagai tahap pertama, Program tersebut masih merupakan Program Non-Gelar, namun Dekan Dr. Raharinjanahary sudah mengindikasikan untuk meningkatkan status Program menjadi Program-Bergelar, selain informasi bahwa Universitas Toliara (+ 800km Barat - Daya Ibukota Antananarivo), sangat tertarik untuk juga membuka Progam ini.
 
Para “guru” dibekali dengan Diktat Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Malagasi, yang merupakan “ramuan” KBRI. Selain itu, telah pula diputarkan film nasional yang dialihbahasakan dengan subtitle Malagasi, berjudul “Cinta” di Amphitheatre-24 – Ankatso. Para siswa larut dalam drama romantika, bahkan ikut meneteskan airmata saat “dinda” meninggal akibat kanker payudara. KBRI juga telah menyiapkan Kompilasi Cerita Rakyat Indonesia Pilihan yang diterjemahkan kedalam Bahasa Malagasi, subtitle Malagasi (dan Perancis)  7 (tujuh) film nasional dari berbagai genre, dan menyediakan perpustakaan KBRI selama jam kantor. Dukungan penuh pusat guna pengembangan Program Pengajaran Bahasa Indonesia, sangat diharapkan oleh KBRI.