Dialog Silaturrahmi di KBRI Rangkul Tokoh Muslim Malagasi

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Untuk pertama kalinya, dalam pelaksanaan diplomasi publik, KBRI menyelenggarakan Dialog Silaturrahmi dengan “menjangkau” (reaching-out) berbagai tokoh dan alim ulama Malagasi dari berbagai komunitas Muslim di KBRI pada hari Senin, 19 Oktober 2009. Dialog Silaturrahmi dimaksudkan menjadi forum saling-kenal antara staf KBRI dan komunitas Muslim Malagasy dalam suasana bulan Syawwal.
 
Sebelumnya, pada bulan Juli 2009, KBRI juga telah membina ketujuh WNI Misionaris dari Ordo SVD = Serikat Sabda Allah/Societas Verbi Divini/Society of the Divine Word, yang melayani di pelosok Kota Mananajary dan Fianarantsoa selama lebih dari 20 tahun. KBRI juga telah berkenalan dengan curee Paroki Katedral Andohalo, Pendeta Julian.
 
Dalam sambutannya, KUAI menginformasikan bahwa sejak dibukanya KBRI Antananarivo pada tahun 1975, Pemerintah Indonesia telah memberikan berbagai bantuan teknis kepada masyarakat Malagasi, terutama dalam bentuk beasiswa, baik pelatihan profesi, dharmasiswa bahasa dan budaya, serta paskasarjana Kemitraan Negara Berkembang (KNB).
 
Dari 55 alumni yang saat ini terhimpun dalam Ikatan Alumni Indonesia (IAI), baru terdapat 4 (empat) siswa penerima beasiswa Malagasi untuk belajar ilmu-ilmu ke-Islaman, yakni Bapak Djorondraza, Ibu Mariata Diny, Ibu Sarah, dan Bapak Salim. Keempatnya belajar di UIN (dulu IAIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat. Jumlah yang kecil ini perlu ditingkatkan.
 
Para tokoh dan alim ulama Malagasi juga menjelaskan mengenai masjid, lembaga pendidikan, dan organisasi yang mereka pimpin. Diantara para tamu undangan, terdapat seorang Muslimah Malagasy yang pernah menjadi Presiden AMIF (Asosiasi Persahabatan Perempuan Malagasy – Indonesia/Amitie Malgaches – Indonesiennes section Femme), yakni Madam Rasyidah.
 
Dari penjelasan dan tukar fikiran, digambarkan situasi Muslim Malagasi yang terkelompok (segmented) pada komunitas masjid dalam mazhab hukum (yurisprudensi) masing-masing: Jama’ah Malagasy keturunan India - Pakistani dalam aliran mazhab Hanafiyyah; Jama’ah asli Malagasy dengan mengikuti aliran mazhab Syafi’iyyah – Hambaliyyah; dan keturunan Comorres dan Utara Afrika/Magribi dengan jama’ah dalam aliran Hambaliyyah.
 
Saat ini, Muslim Malagasi adalah kelompok masyarakat paling miskin. Kemiskinan membatasi akses mereka kepada pendidikan formal. Kemiskinan dan ignorance terhadap ilmu pengetahuan merupakan keadaan yang buruk dan dapat mendorong pemahaman keagamaan yang sempit. Pendidikan usia dini bagi Muslim adalah prioritas di Madagaskar.
 
Menyambut antusiasme para tokoh dan alim ulama atas peneyelenggaraan Dialog Silaturrahmi, KUAI menyampaikan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan negara dengan mayoritas Muslim terbesar, dapat dijadikan mitra utama Muslim Malagasi guna mempelajari kemajuan, nilai demokrasi dan harmoni diantara pemeluk agama-agama.
 
Terakhir, para tokoh dan alim ulama menyerukan dukungan dan bantuan Pemerintah dan Umat Islam Indonesia di sektor pendidikan tersebut. Juga harapan, agar dapat dibangun Masjid Raya oleh Indonesia di ibukota Antananarivo yang dapat menjadi tempat pendidikan bagi semua kelompok Muslim Malagasi.