Madagaskar

​​​Politik
 
Hubungan bilateral Indonesia dengan Madagaskar tergolong unik karena adanya hubungan psikologis-historis antara kedua suku bangsa. Suku terbesar di Madagaskar yaitu suku Imerina yang bermukim di wilayah Antananarivo adalah keturunan dari bangsa Polinesia bagian Indonesia (yang melakukan migrasi ke Madagaskar pada abad ke-5 masehi).
 
Bahasa madagaskar merupakan salah satu rumpun bahasa Melayu Polinesia, bahkan sangat mirip dengan bahasa suku Manyan (salah satu suku dayak di Kalimantan Barat)
Pembukaan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Madagaskar sendiri telah mulai dibicarakan pada pertemuan antara Menlu RI Adam Malik dengan Menlu RM Bemananjara pada berbagai kesempatan pada tahun 1974-1975. Pemri memutuskan untuk sementara tingkat kepala perwakilan di KBRI Antananarivo adalah setingkat Kuasa Usaha Tetap (KUTAP).
 
Pembukaan Kantor KBRI Antananarivo baru terlaksana pada tanggal 25 Juni 1975. Hingga saat ini Madagaskar belum membuka kantor perwakilannya di Indonesia (masih dirangkap dari Kedubes Madagaskar di Tokyo).

Ekonomi
 
Hingga saat ini belum ada perusahaan Indonesia yang melakukan investasi di Madagaskar (ketentuan berinvestasi seperti membuka pabrik atau perusahaan, minimal dengan biaya US$ 150.000). Beberapa perusahaan Indonesia yang telah melakukan kontak dagang secara signifikan, antara lain:
 
  • Perusahaan sabun dan kebutuhan sehari-hari di bawah PT. Sinar Ancol. (Sunlight dan B-29)
  • Perusahaan supplier alat-alat listrik PT UNINDO
  • Perusahaan alat-alat tehnologi pertanian PT Supa Surya Niaga
  • Perusahaan Susu Indomilk (produk Krima)
  • Perusahaan peralatan rumah tangga Miyako
  • Perusahaan Obat Nyamuk dan Sabun ABC dari PT. Tusaman Abadi
  • Ban Mobil dan Aki dari PT Astra
  • PT Sayap Emas untuk sabun dan alat-alat kosmetik
  • PT Sinar Kurnia untuk sabun dan peralatan dapur
  • PT Dolphin untuk coklat, dan kue-kue.

 

Begitu pula sebaliknya, belum tercatat adanya investor dari Madagaskar yang menanamkan investasinya di Indonesia.

Sosial Budaya
 
Secara umum, sifat hubungan sosial-budaya antara Indonesia dan Malagasy dapat dikatakan unik. Literatur ilmiah menyebutkan bangsa Melayu (Rumpun besar Melanesia – Polinesia) sebagai induk nenek moyang bangsa Malagasy. Secara ilmiah dan alamiah, terdapat afinitas primordial diantara bangsa Indonesia dan bangsa Malagasy. Kesamaan ras, bangsa, dan bahasa merupakan elemen utama afinitas primordial dimaksud.

Perlintasan samudera yang tercatat sejak abad 8-SM telah menyebut pelaut Nusantara (khususnya Indonesia) sebagai pelaut komersial handal dari Peradaban Besar Nusantara (The Great Nusantarian World). Letak geo-ekonomi, geo-kultural, dan geo-politik Indonesia dikenal dalam jalur komersial rempah-rempah lintas samudera, Spice Searoute. Perlintasan samudera dilakukan dengan menggunakan perahu komersial dayung ukuran sedang, yang disebut Prahu.

Samudera Pasifik dan Samudera Hindia (Indonesia) merupakan jalur komersial, yang melengkapi jalur perdagangan darat, Jalur Sutera (Silk Road).
Indonesia dan Madagaskar telah menandatangani Joint Declaration on Cultural Cooperation (yang ditandatangani pada tahun 2004), antara lain memuat keinginan bekerjasama di bidang kebudayaan, pariwisata, pendidikan, seni murni, museum, perpustakaan, kepemudaan, olahraga, informasi, archeology, linguistic dan antropology.
 
Indonesia telah memberikan beasiswa pendidikan kepada Madagaskar, baik program Darmasiswa maupun S-2 KNB (Kemitraan antar Negara Berkembang) serta pelatihan teknik lainnya.  Program Darmasiswa mulai ditawarkan ke Madagaskar sejak tahun 2006 sementara Program S-2 KNB telah ditawarkan sejak tahun 2000.  Saat ini telah terdapat sekitar 55 orang alumni penerima beasiswa Indonesia di Madagaskar.  Pada tanggal 17 Agustus 2008, telah diresmikan berdirinya Ikatan Alumni Indonesia (IAI) dengan Kol. Rakotobe Abel Aime (alumni Sesko Polisi, 1998/1999) sebagai Ketuanya.

Perjanjian dan Kesepakatan
Terdapat beberapa perjanjian bilateral yang telah ditandatangani oleh kedua negara, yaitu: 
 
  1. Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik (1996, catatan: perjanjian ini belum diratifikasi oleh Parlemen RM).
  2. Persetujuan Perhubungan Udara (ditandatangani pada 24 Nopember 1992 di Madagaskar, telah diratifikasi oleh kedua negara pada tahun 2000). Penjanjian ini belum bisa efektif mengingat belum adanya kelanjutan bentuk kerjasama dari pihak Garuda Indonesia Airlines dan AirMadagaskar.
  3. Joint Declaration Kerjasama di Bidang Kebudayaan (ditandatangani April 2004 di Jakarta). Perjanjian ini telah mulai dilaksanakan secara konkrit dalam berbagai bentuk kegiatan. 
  4. Nota Kesepahaman kerjasama bilateral RI-RM. Nota Kesepahaman ini ditandatangani saat kunjungan Presiden Madagaskar Marc Ravalomanana ke Indonesia pada 4-7 November 2008.