KBRI Jangkau Cendekiawan Kristen Malagasi melalui Pusat Kajian Sejarah Intra-Budaya – Universitas Reformasi Madagaskar, FJKM

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Membuka hubungan baik kepada cendekiawan Kristen merupakan hal terpenting pertama yang dilakukan dalam pelaksanaan diplomasi publik, khususnya dengan Dekan Sekolah Teologia - Universitas Reformasi Madagaskar, Pendeta Prof. Laurent W. RAMAMBASON, PhD. Memenuhi permintaan, KUAI telah memberikan sambutan pada pembukaan Pusat Kajian Sejarah Intra-Budaya (PKSI) – Universitas Reformasi Madagaskar, pada hari Senin 26 Oktober 2009 di Gereja FJKM - Ambatonakanga. Upacara pembukaan dihadiri oleh sekitar 200 mahasiswa dan cendekiawan Kristen ternama, seperti Prof. RAFOLO (Arkeologi), Prof. Razoarinoro (Dokumen Sejarah/Arsip), Prof. Lucille Rabearimanana (Sejarah Budaya), Prof. Dr. Pendeta Richard Andriamanjato (Antropologi Budaya), Jend. Le’on Raveloarison (Penasehat Politik Mantan Presiden Marc Ravalomanana). KUAI juga memutarkan film dokumentasi VISI INDONESIA 2030, yang disusun oleh Yayasan Indonesia Forum, sekaligus memberikan hibah sejumlah buku referensi hubungan bangsa Indonesia dan Malagasi serta plakat.
Dekan Pendeta Prof. RAMAMBASON Ph.D, menyampaikan sambutan pendahuluan dengan menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas dukungan dan kerjasama yang diberikan KBRI kepada Sekolah Teologia, dimana hal ini adalah yang pertama diantara kedua fihak. Dipaparkan pula sejarah perkembangan lembaga pendidikan Kristen FJKM (Fiangonan’i Jesoa Kristy eto Madagasikara / The Church of Jesus Christ in Madagascar), sebagai lembaga pendidikan Eropa tertua di Madagaskar.
Dijelaskan mengenai PKSI sebagai salah satu dari 9 (sembilan) pusat kajian yang dikembangkan oleh Universitas tersebut, dan mengembangkan pendekatan multidisipliner. PKSI didirikan dengan tujuan membantu siapa saja yang ingin mengenal Madagaskar untuk mengetahui akar budaya dan menghargai identitas masyarakat Malagasi. Program penelitian yang ditawarkan termasuk kajian sejarah dan pengaruh budaya Afrika, Arabia, Asia dan Nusantara (Indonesia) terhadap budaya Malagasi. PKSI juga menawarkan pilihan antara lain Sertifikat dan Diploma dalam Bahasa dan Budaya Indonesia.
KUAI menyambut baik kerjasama KBRI – FJKM dalam upaya outreaching kepada kalangan cendekiawan berbagai agama. Dipaparkan sejarah dan afinitas primordial kedua bangsa selama +1000 tahun dari sejak pelaut Nusantara (The Nusantarian World) menguasai lintas komersial 2 (dua) samudera / Sea – Route, yakni Samudera Pasifik dan Hindia. Diyakini, PKSI dapat menjadi jembatan penting bagi terbangunnya jejaring cendekiawan kedua negara (komunitas epistemik), guna mengembangkan hubungan bilateral yang lebih strategis di masa depan. KUAI juga memaparkan berbagai proyek kerjasama sosial budaya yang telah dilakukan Pemerintah Indonesia sejak pembukaan KBRI pada tahun 1975, khususnya semangat meningkatan jumlah alumni Indonesia di Madagaskar yang hingga kini baru mencapi 55 orang, serta harapan peningkatan mencapai ratusan dimasa yang akan datang.
Upacara ditutup dengan kuliah umum mengenai “Spritualities rootes in pre-Protestant time in Madagascar”, oleh Pendeta Prof. Honore Auguste RATOLOJANAHARY (Kepala PKSI), yang mengkonfirmasi fakta ilmiah dan alamiah bahwa bangsa Indonesia adalah nenek moyang bangsa Malagasi. Upacara juga diisi dengan Doa Syafa’at bagi korban bencana alam Gempa Bumi di Padang – Sumatera Barat, dengan mengutip Johannes-15 dan Markus-11; serta pengumpulan dana solidaritas secara spontan sejumlah 397.700,-Ariary (Rp.1.988.500,-).