KBRI Alger: Geopolitik Indonesia Di Sesko Aljazair

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Pada tgl 24 Februari 2011, Dubes RI di Alger, Yuli Mumpuni Widarso telah menjadi penceramah untuk kurikulum Geopolitik Indonesia di Ecole Superieure de Guerre, Mabes AD Aljazair (setingkat SESKO Bandung) yang diikuti oleh 200 Perwira Menengah Aljazair. Di kampus Sekolah yang berlokasi di Borj El Bahri (25 km dari Alger) tsb berdiri gedung-gedung kelas yang kokoh, bersih dan teratur rapi siap untuk memfasilitasi beragam program kegiatan belajar – mengajar di Sekolah tersebut. Direktur Sekolah, Jend. Khourli Nouredine dan seluruh jajaran staf Akademik dan non-Akademik telah menyambut kedatangan Dubes RI dengan tatacara militer di halaman Sekolah. Dalam briefing selamat datang yang berlangsung di Ruang Tamu, pihak Sekolah telah menyampaikan penghargaan atas kesediaan Dubes RI menerima undangan mengisi kurikulum Geopolitik yang bagi Sekolah kedatangan Dubes RI tsb merupakan peristiwa penting karena baru pertama kalinya Dubes RI memberikan ceramah tentang geopolitik Indonesia. Ceramah umum berlangsung di salah satu gedung kuliah umum yang berbentuk amphitheater dengan kapasitas 200 kursi tsb penuh oleh para siswa Sekolah dan staf Akademik serta hadir pula Direktur Sekolah yang semuanya menyimak dengan penuh perhatian. Dubes RI memulai ceramah dengan memaparkan tentang sejarah Indonesia yang kemerdekaannya diperoleh dari hasil perjuangan dan gerilya seperti yang dilakukan oleh bangsa Aljazair. Dalam masa perjuangan Aljazair pada kurun waktu 1956 hingga kemerdekaan Aljazir tahun 1962, TNI telah membantu para gerilyawan Aljazair, setidaknya dengan “ilmu bergerilya” dari buku klasik karya Jend. AH Nasution yang menjadi buku bacaan wajib di berbagai SESKO di seluruh dunia. Selain itu Indonesia juga memberikan dukungan diplomatik kepada perjuangan kemerdekaan Aljazair pada waktu KAA Bandung 1955 dan Resolusi PBB tentang Dekolonisasi 1960 yang telah mengangkat isyu kolonialisme di Aljazair ke pentas dunia. Para peserta tampak serius mengikuti pemaparan yang mengembangkan peta geopolitik Indonesia paska PD II, perang dingin, runtuhnya tembok Berlin yang diikuti oleh munculnya agenda demokrasi, HAM, korupsi hingga terorisme dan fanatisme agama, yang kesemuanya itu harus ditanggapi oleh Indonesia dengan cerdas, bijak, dan tepat, sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia dan sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif yang meletakkan ASEAN sebagai pilar utamanya. Perhatian para peserta juga tercermin pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan setelah Dubes RI membuka sesi tanya jawab dengan ajakan untuk berdiskusi, seperti mengenai peran apa yang dapat dimainkan oleh Indonesia sebagai anggota ASEAN dan NAM dalam G-20 dan dalam berbagai forum multilateral lainnya untuk menciptakan keseimbangan regional dan internasional; bagaimana politik Pemri dalam menangani soal jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar; dan bagaimana strategi Pemri dalam mengembangkan perekonomiannya sehingga dapat menghindari krisis keuangan global 2008 dan masuk menjadi anggota G-20. Pada akhir ceramah, Dubes RI telah menyampaikan buku berjudul Indonesian Business Guide 2010 – 2011 yang dikeluarkan oleh PT. Independent Research & Advisory Indonesia (IRAI).