Setelah Tampil Di Tlemcen Mewakili Indonesia Dalam Pameran Warisan Budaya Takbenda Dunia Asal Negara-Negara Islam, Saung Angklung Udjo “Goyang” Pusat Perbelanjaan Terbesar Di Alger (No. 06/PR/ALGER/X/2011)

10/31/2011

Sore itu, Jum’at, 28 Oktober 2011 suasana Mall “Bab Ezzouar”, Alger betul-betul berbeda dari hari-hari sebelumnya. Disamping karena hari itu adalah akhir pekan dimana jumlah pengunjung lebih banyak dari biasanya, juga karena kerumunan orang terlihat mengitari sebuah area di lantai 3 gedung pusat perbelanjaan tersebut dimana ditengah-tengahnya telah terpasang sebuah pentas dan diatasnya terpajang alat musik tradisional Indonesia “angklung” yang tersusun rapi. Para pengunjung yang lewat didepan areal terlihat terheran-heran melihat alat musik yang terpajang tersebut. Sebagian memilih melangkahkan kakinya menuju tempat lain karena tidak mengerti apa yang bisa dihasilkan oleh alat musik tersebut, namun sebagian besar memilih menunggu hingga personel grup musik yang akan memainkan alat musik tersebut selesai melakukan “setting” alat dan “check sound” yang cukup memakan waktu.

Akhirnya, setelah keperluan teknis penampilan diselesaikan, anggota grup musik yang berasal dari Saung Angklung Udjo itu pun mengayunkan mulai dengan lincahnya memukul dan menggerakkan instrumen-instrumen bambu tersebut. Begitu mendengar suara yang keluar dari alat-alat musik bambu tersebut, para penonton bertepuk riuh memberikan applause. Mereka gembira karena keheranan mereka akhirnya terjawab setelah mendengar alunan musik yang indah dari alat musik khas Jawa Barat tersebut. Ketika sejumlah lagu nusantara dimainkan secara meddley, terlihat anak-anak muda Aljazair turut bergoyang mengikuti irama musik yang ceria dan gembira. Hingga akhirnya, ketika grup Saung Angklung Udjo memainkan sebuah lagu rakyat yang sangat terkenal di Aljazair “Ya Rayeh”, tepuk riuh dan sorak sorai penonton pun membahana hingga ke lantai dasar pusat perbelanjaan Bab Ezzouar. Mereka sangat terharu dan terpukau menyaksikan kehebatan alat musik Indonesia tersebut yang bisa membawakan dengan persis lagu kesukaan rakyat Aljazair tersebut.

Pemain Saung Angklung Udjo sengaja menampilkan sejumlah lagu khas timur tengah untuk menunjukkan kehebatan alat musik tradisional Indonesia tersebut. Menyelingi lagu-lagu timur tengah, lagu poco-poco ikut dimainkan yang diiringi oleh goyang poco-poco oleh ibu-ibu dan staf KBRI Alger. Penonton yang hadir terpukau melihat keunikan tarian poco-poco tersebut. Sebagian berusaha mencoba, namun usaha mereka terhenti dengan tawa karena geli disaat mereka saling berbenturan satu sama lainnya.

Suasana sore itu di pusat perbelanjaan terbesar di Aljazair tersebut betul-betul heboh. Sebuah lagu dari Mesir “Ya Habibi” pun akhirnya menutup penampilan anak-anak Saung Angklung Udjo yang diiringi tari dan joget anak-anak muda kota Alger yang hadir menyaksikan pertunjukan tersebut. Selesai pertunjukan, para penonton berebut untuk meminta foto bersama dengan para personel Saung Angklung Udjo dan peralatan musik angklung mereka, hingga akhirnya pihak keamanan pun terpaksa turun tangan menertibkan suasana.

“Luar biasa sekali kesenian tradisional Indonesia ini, dan saya sangat terharu menyaksikan saudara-saudara saya yang datang jauh dari Indonesia untuk menghibur kami disini” demikian komentar salah seorang penonton yang dari awal sampai akhir pertunjukan tidak beranjak dari tempatnya tersebut.

Penampilan Grup Saung Angklung Udjo di Mall  “Bab Ezzouar” pada hari Jumat, tanggal 28 Oktober 2011 tersebut terselenggara atas kerjasama KBRI Alger dengan pihak pengelola Mall  “Bab Ezzouar” yang diadakan sehari sebelum kepulangan delegasi seni dan budaya Indonesia tersebut ke Indonesia.

 “Kunjungan Saung Angklung Udjo” ke Aljazair benar-benar membawa kesan tersendiri” ujar Taufik Hidayat, Pimpinan Saung Angklung Udjo selesai pertunjukan musik yang digelar di Mall “Bab Ezzouar” tersebut. Menurut Taufik, “penampilan Saung Angklung Udjo di Aljazair dalam rangka mewakili Indonesia dalam Pameran Warisan Budaya Takbenda Dunia Asal Negara-Negara Islam yang Telah Diakui oleh UNESCO yang diadakan di Tlemcen, tanggal 22 – 26 Oktober 2011, betul-betul mendapat perhatian dan apresiasi luar biasa dari masyarakat Aljazair. Hal itu terlihat di saat penyelenggaraan penampilan sejumlah kesenian dan budaya negara-negara yang di undang dalam kegiatan di kota Tlemcen, dimana kesenian Indonesia merupakan yang paling banyak diminati penonton. Bahkan panitia pun dalam beberapa kali acara terpaksa menjadwalkan pertunjukan grup kesenian Indonesia di urutan terakhir untuk menahan penonton yang hendak meninggalkan ruangan”.

 

         

                     Alger, 30 Oktober 2011