Djibouti

 
Nama Resmi Negara                  :   Republik Djibouti, Republique de Djibouti
Bentuk Negara                           :   Republik
Ibukota                                       :   Djibouti City
Luas Wilayah                              :   23.200 km2 (Indonesia: 1.990.250 km2)
Jumlah Penduduk                      :   846,687 (Juli 2016)
Lagu Kebangsaan                      :   Djibouti
Agama                                       :   Muslim 94%, Kristen 6%
Bahasa                                       :   Perancis (bahasa resmi), Arab (bahasa resmi), Somali, Afar
Mata Uang                                 :   Djiboutin Franc (1 US$ = 178,652 DJF, per 21 Oktober 2016)
Hari Nasional                             :   22 Juni (Hari Kemerdekaan Djibouti)
Etnis/Suku                                 :   Somali 60%, Afar 35%, lainnya 5% (termasuk Perancis, Arab, dan Ethiopia)
Sistem Pemerintahan                :   Republik semi-presidensial
Presiden                                    :   Ismail Omar Guelleh
Perdana Menteri                       :   Abdoulkader Kamil Mohamed
Menteri Luar Negeri                 :   Mahamoud Ali Youssouf
Duta Besar Djibouti Untuk RI
(Residen di Tokyo, Jepang)      :   Ahmed Araita Ali
Duta Besar RI untuk Djibouti
(Residen di Addis Ababa,
Ethiopia)                                   :   Imam Santoso
GDP                                          :   $1.903 Milyar
GDP per kapita                        :   $1.917
Komoditas eksport utama        :   Re-ekspor, kulit hewan, kopi (in transit), scrap metal
Komoditas import utama         :   Bahan makanan, minuman, peralatan transportasi, bahan kimia, produk minyak bumi, pakaian jadi
Keanggotaan di Organisasi
Regional dan Internasional      :   ACP, AfDB, AFESD, AMF, AU, CAEU (kandidat), COMESA, FAO, G-77, IBRD, ICAO, ICCt, ICRM, .                                                    IDA, IDB, IFAD, IFC, IFRCS, IGAD, ILO, IMF, IMO, Interpol, IOC, IOM, IPU, ITU, ITUC (NGOs), .                                                    LAS, MIGA, MINURSO, NAM, OIC, OIF, OPCW, UN, UNCTAD, UNESCO, UNHCR, UNIDO, .                                                    UNWTO, UPU, WCO, WFTU (NGOs), WHO, WIPO, WMO, WTO
 
Bendera Djibouti
 
 
 

Bendera Djibouti terdiri dari dua garis warna sejajar warna biru muda (di bagian atas), warna hijau muda (di bagian bawah) dan garis segitiga dengan latar belakang berwarna putih serta sebuah bintang segi lima berwarna merah di bagian tengah segitiga putih.

Warna biru muda melambangkan langit dan laut serta suku bangsa Issa Somali; warna hijau muda melambangkan bumi dan bangsa Afar; warna putih melambangkan kedamaian; dan bintang segi lima berwarna merah melambangkan perjuangan kemerdekaan dan persatuan rakyat Djibouti.

Etimologi Djibouti

Suku bangsa Afar di Djibouti menyebut wilayahnya sebagai Gabod, secara literasi berarti plato atau dataran tinggi. Oleh sebab itu para pelaut Arab menyebutnya Gabouti, dan beralih menjadi Djibouti ketika menjadi wilayah kolonial Perancis.

Geografi

A.     Letak geografis

Djibouti terletak di Afrika Timur dengan luas wilayah yakni sebesar 23.200 kilometer persegi. Titik koordinat Djibouti adalah 11. 30 Utara, 43. 00 Timur. Djibouti berbatasan langsung dengan Eritrea di sebelah Barat (125 km dari perbatasan), Somalia di sebelah Timur (61 km dari perbatasan), Ethiopia di sebelah Selatan (342 km dari perbatasan), dan Yaman di sebelah Utara (dipisahkan oleh laut merah).

B.     Keadaan/ Rentang Alam

Wilayah Djibouti pada umumnya terdiri dari plato, dataran rendah semi-gurun, dan beberapa wilayah berdataran tinggi. Djibouti memiliki 8 (delapan) pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1000 m, diantaranya ialah pegunungan Mousa Ali yang terletak di perbatasan dengan Eritrea di sebelah Barat Djibouti, dengan ketinggian mencapai 2028m. Titik terendah terdapat di beberapa wilayah gurun di Selatan Djibouti antara lain danau Assal yang berada 150 meter di bawah permukaan laut.

C.     Cuaca 

Cuaca serta iklim di Djibouti relatif kering, terik dan beriklim gurun. Ketika musim panas, suhu udara di beberapa wilayah di Djibouti dapat mencapai lebih dari 50 derajat Celcius (pada bulan April - September) dan ketika musim hujan mencapai 28 derajat Celcius (pada bulan Oktober - Maret).

D.     Pembagian Wilayah Administratif 

Wilayah administratif di Djibouti dibagi menjadi 6 Distrik, yaitu: Ali Sabieh, Arta, Dikhil, Djibouti, Obock, dan Tadjourah. 

E.     Demografis

Jumlah penduduk Djibouti ialah sebesar 846,687 jiwa (data bulan Juli 2016). Etnis/ suku bangsa utama terdiri dari Somali 60%, Afar 35%, lainnya 5% (termasuk French, Arab, Ethiopian, dan Italian). Lebih dari 75% populasi Djibouti tinggal di Djibouti City. Bahasa nasional Djibouti adalah Perancis dan Bahasa Arab, Bahasa Somali dan Afar menjadi bahasa pergaulan yang digunakan sehari-hari.

Dikarenakan letak geografis Djibouti yang strategis, Djibouti saat ini dijadikan sebagai titik transit oleh para imigran dari negara-negara Afrika seperti Ethiopia, Eritrea, dan Somalia. dengan tujuan ke negara-negara teluk.

Politik

Djibouti menganut sistem Republik semi-presidensial. Kepala Pemerintahan Djibouti dipimpin oleh seorang Presiden, dan Presiden menunjuk seorang Perdana Menteri dalam membantu tugasnya.  Sistem Parlemen Djibouti mengadopsi sistem unikameral yang di jalankan oleh the National Assembly of Djibouti, yang terdiri dari 65 anggota parlemen yang terpilih dengan masa kerja selama 5 tahun. Walupun Djibouti mengadopsi sistem unikameral, Undang-undang Djibouti juga memperbolehkan dalam membentuk senat di Parlemen.

Hukum dan praturan perundang-undangan di Djibouti mengadopsi beberapa elemen hukum, yang terdiri dari undang-undang hukum Perancis (French civil law), hukum Syariah (hukum Islam) serta hukum adat suku bangsa Somali dan Afar.

Sejak berlakunya sistem multipartai tahun 1999, Djibouti menjadi salah satu wilayah yang cukup stabil di Afrika. Lokasinya yang sangat strategis menjadikan Djibouti sebagai pilihan markas pangkalan militer asing seperti Amerika Serikat, Perancis, Jepang, Tiongkok dan beberapa negara lainnya. 

Ekonomi

Perekonomian mengandalkan kegiatan jasa yang berkaitan dengan lokasi strategis dan status sebagai zona perdagangan bebas di wilayah Tanduk Afrika. Djibouti menyediakan layanan baik sebagai pelabuhan transit bagi daerah dan pusat pengisian bahan bakar internasional. Impor dan ekspor dari Ethiopia yang tidak mempunyai laut (landlocked country) berkontribusi dalam 70 % aktivitas pelabuhan di terminal peti kemas Djibouti.

Pertumbuhan ekonomi Djibouti meningkat kembali sejak tahun 2012 dan mencapai 4,5%. Pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh dua unsur utama, yaitu aktivitas pelabuhan dan investasi langsung asing (FDI). Pelabuhan di Djibouti mengalami kenaikan volume barang transit, tapi hal tersebut masih di bawah jumlah sebelum terjadinya krisis keuangan dunia pada tahun 2008. Peningkatan FDI adalah sebagian besar dari tambang garam di Danau Assal dan pembangunan kompleks bandara Chabelley.

Hubungan Bilateral dengan Indonesia (Bilateral Relationship with Indonesia)

Bidang Politik

Pembukaan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Djibouti diresmikan pada tahun 1979. Namun baik Indonesia maupun Djibouti tidak mempunyai perwakilan di negara masing-masing. Urusan mengenai Djibouti dilakukan melalui KBRI di Addis Ababa, sementara urusan mengenai Indonesia dilakukan melalui Kedutaan Besar Djibouti di Tokyo, Jepang. Hingga saat ini baru dihasilkan satu dokumen kerjasama bilateral yakni "Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Djibouti mengenai Kerjasama Ekonomi dan Teknik" yang ditandatangani pada tanggal 2 Mei 1997 oleh kedua Menteri Luar Negeri. 

Untuk membantu tugas KBRI Addis Ababa, pada bulan November 2013, Presiden RI telah mengangkat Konsul Kehormatan Indonesia untuk Djibouti, yakni Mr. Liban Houssein Farah, sebagai wakil Pemerintah Indonesia di Djibouti. Konsul Kehormatan RI di Djibouti ditujukan untuk meningkatkan Government to Government Relation (G-to-G), People to People Relation (P-to-P) dan Business to Business Relation (B-to-B). 

Bidang Ekonomi

Secara umum, Indonesia merupakan mitra dagang penting bagi Djibouti. Hingga saat ini, produk asal Indonesia menempati urutan ke-3 terbesar barang yang masuk pelabuhan Djibouti setelah Tiongkok dan Saudi Arabia. Berbagai produk dari Indonesia yang telah memasuki pasaran Djibouti dan cukup diminati adalah produk makanan, minuman, alat transportasi, kimia dan produk perminyakan. Produk sarung dari Indonesia bahkan sudah sangat dikenal dan diminati oleh masyarakat Djibouti.

Pada tahun 2015, KBRI Addis Ababa telah melakukan pendampingan terhadap 20 orang delegasi yang tergabung dalam misi dagang dari Chambre de Commerce de Djibouti (CCD) yang dipimpin oleh Presiden CCD, Youssouf Moussa Dawaleh. Di sela-sela kunjungan ke TEI 2015, delegasi CCD melakukan pertemuan dengan KADIN Indonesia. Delegasi CCD  diterima langsung oleh Ketua Umum KADIN Suryo B. Sulitsto, Ketua Komisi Bilateral dan Multilateral KADIN untuk Afrika, beserta jajarannya.

Pada pertemuan tersebut juga dilangsungkan penandatanganan MoU antara kedua kamar dagang yang pada intinya mendukung peningkatan kerjasama dan fasilitasi kunjungan/misi dagang dari anggota kedua kamar dagang.

Pada tahun 2016, KADIN Djibouti yang dipimpin oleh Youssouf Moussa Dawaleh, kembali memimpin delegasi pengusaha Djibouti yang kini berjumlah 30 orang pada TEI 2016.

Sebagai bagian dari tindak lanjut MoU yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak pada tahun 2015, Youssof Moussa Dawaleh mengadakan pertemuan dengan PT. Pelindo II (Pelabuhan Indonesia II), di sela-sela TEI  bulan Oktober 2016. Hal ini dimaksudkan untuk penjajakan kerjasama sister port antara Port of Djibouti dan PT. Pelindo II.

Berikut Neraca Perdagangan Indonesia dan Djibouti dari tahun 2011 – 2015: 

 

 

Perdagangan kedua negara terjalin cukup erat, berdasarkan data IMF, pada tahun 2015 Indonesia merupakan negara mitra impor ketiga setelah RRT dan Arab Saudi. Jumlah total perdagangan antara bulan Januari - November tahun 2015 adalah US$ 259,4 Juta, meningkat tajam dari US$ 71.399,8 juta pada tahun 2010.

Bidang Sosial Budaya

Di bidang sosial budaya, KBRI Addis Ababa terus mengupayakan pemberian beasiswa dari Pemerintah Indonesia kepada Ethiopia (yaitu Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dan Beasiswa Darmasiswa); dan bantuan kerjasama teknik dari Pemerintah Indonesia kepada Ethiopia.

Bidang Perlindungan WNI/ BHI

Di bidang perlindungan WNI, pada tahun 2015, KBRI Addis Ababa telah membantu evakuasi lebih dari 100 WNI ke Djibouti dan memilangkan mereka ke Indonesia.