Nasi Goreng, Es Cendol dan Sate Padang di Asian Food Fair 2010

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Jam baru menunjukkan pukul 13.00 namun nasi goreng, es cendol dan sate padang yang dijual di stand Indonesia pada Asian Food Fair 2010 telah ludes, padahal acara baru akan ditutup dua jam kemudian. Beberapa orang yang antri nampak kecewa dan terpaksa harus mencari makanan di stand yang lain.

 

Mengulangi sukses penyelenggaraan Indonesian Charity Bazaar and Cultural Performances 3 minggu yang lalu, Indonesia ditunjuk oleh asosiasi para istri Duta Besar negara-negara Asia (Asian Ladies’ Association of Abu Dhabi) sebagai tuan rumah “Asian Food Fair 2010” pada 13 Maret 2010. Asian Food Fair yang baru pertama kali diselenggarakan ini dimulai sejak pukul 11 pagi hingga pukul 3 sore dan diikuti 13 negara yaitu Australia, Bangladesh, Brunei, China, Indonesia, Jepang, Kazakstan, Malaysia, Nepal, Phillipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. Berbagai jenis penganan favorit Asia mulai dari sushi (Jepang) padthai (Thailand) pho (semacam soup dari Vietnam), kue-kue manis dari Kazakstan, Malaysia dan Brunei hingga nasi goreng Indonesia menghiasi 13 tenda-tenda yang berjajar rapi. Harga yang ditawarkan pun sangat murah untuk ukuran Abu Dhabi yaitu Dh.5,- atau sekitar Rp. 12.000,-untuk satu porsi kecil.

 

Kali ini pegunjung semakin bervariasi, bahkan tampak beberapa Duta Besar di luar kawasan Asia dan warga setempat memenuhi halaman KBRI. Antusias pengunjung untuk mencicipi berbagai macam makakan khas Asia benar-benar di luar dugaan panitia. Persis pukul 14.00 hampir semua makanan habis semua diborong, kecuali dari stand China yang tampaknya lebih siap dengan mengambil bahan-bahan tambahan dari Kedutaan Besar mereka. Menurut koordinator stand Indonesia yang juga isteri Dubes RI di Abu Dhabi, Murgiyati Supriyadi, jumlah pengunjung yang mencapai sekitar 1.000 orang ini di luar perkiraan mengingat acara tersebut baru dipersiapkan kurang dari dua bulan, sehingga banyak negara yang awalnya khawatir makanan mereka tidak akan laku. Melihat keberhasilan ini sebagian besar isteri para Dubes Asia mengusulkan agar Asian Food Fair ini dijadikan acara rutin dan meminta Indonesia menjadi tuan rumah karena dinilai paling siap dengan lokasi yang strategis serta didukung peralatan yang memadai.

 

Pengunjung pun dihibur dengan berbagai tarian dan pertunjukan, antara lain dari China, Bangladesh, Malaysia dan Thailand. Sementara Indonesia selaku tuan rumah menampilkan pertunjukan terbanyaknya dengan menghadirkan Tari Gambyong, Yapong, Jaipong dan Kulintang serta ditutup dengan Tari Poco-poco yang diikuti secara meriah oleh para pengunjung.

 

Duta Besar RI untuk Abu Dhabi, PEA, M. Wahid Supriyadi menyatakan kepuasannya atas penyelenggaraan Asian Food Fair ini walaupun dengan persiapan yang sangat singkat. Beruntung KBRI telah memiliki panggung dan tenda yang dirancang secara khusus dan dengan cepat dapat dipasang. Tentang pilihan menu nasi goreng, Dubes bercerita bahwa dalam bazaar bulan lalu, seorang pengunjung asal Jepang protes kenapa Indonesia tidak menampilkan nasi goreng padahal dia dari rumah sudah memimpikan akan membeli makanan yang sudah go international tersebut. Untuk itu dalam acara kali ini KBRI sengaja menyewa seorang chef professional asal Indonesia yang saat ini bekerja di restoran cepat saji yang sangat terkenal “Noodle House” yang ternyata juga memiliki menu “Nasi Goreng Ayam Kampung”. Tidak jelas apakah ayamnya memang benar-benar ayam kampung, lanjut Wahid sambil tersenyum.

 

Asian Food Fair 2010 diliput oleh dua harian berbahasa Inggris terbesar Gulf News dan Khaleej Times yang menurunkan artikel dan gambar nuansa kegiatan pada tanggal 14 Maret ini.