Menjaring Investor Uni Emirat Arab Melalui Business Luncheon

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Presentasi dan pernyataan lugas Kepala BKPM, Gita Wirjawan atas berbagai pertanyaan kritis kalangan investor papan atas Uni Emirat Arab (UEA) telah mengubah paradigma negatif iklim berinvestasi di Indonesia. Tidak kurang perusahaan papan atas seperti MUBADALA, ADNOC, Bouroge, Emal Emirates Aluminium, Abu Dhabi Ship Building, NBAD, Abu Dhabi Development Fund, AD National Hotel, Etisalat, AAA Soverign Group, GEAP International, dll hadir dan menyimak dengan serius presentasi yang dibawakan oleh Kepala BKPM. Tampak hadir juga Chairman Abu Dhabi Chamber of Commerce & Industry (ADCCI), Mohammad Thani Murshed Ghannam Al Rumaithi. Dalam sambutannya, Kepala BKPM mengakui bahwa Indonesia masih kurang dikenal di UEA dibanding negara-negara lain di ASEAN, padahal kenyataannya Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara dengan GDP sebesar USD 720 miliar. Tahun lalu, Indonesia berhasil menarik FDI (Foreign Direct Investment) senilai USD 17 miliar, atau kenaikan sekitar 100% dibanding tahun sebelumnya. Kepala BKPM juga menyinggung tentang UU baru yang lebih “friendly” terhadap para investor, khususnya yang menyangkut tax holiday. Kepala BKPM menambahkan, dengan penduduk sebesar 240 juta yang ditopang dengan sekitar 65% penduduk berusia di bawah 39 tahun, Indonesia akan menjadi tempat menarik untuk berinvestasi. Pemerintah juga melakukan upaya-upaya serius untuk mengatasi korupsi dan kelambanan birokrasi yang selama ini dikeluhkan oleh para investor.

Dubes RI, M. Wahid Supriyadi dalam sambutannya menyatakan “surprised” atas jumlah yang hadir pada acara tersebut. Dubes Wahid sebenarnya hanya menargetkan sekitar 20 calon investor, namun kenyataannya acara tersebut dihadiri lebih dari 30 pengusaha sehingga pihak hotel terpaksa harus menambah kursi. Hal ini tentunya tidak lepas dari kenyataan bahwa Indonesia semakin menarik untuk investasi. Ditambahkan, dengan GDP USD 720 miliar, Indonesia saat ini adalah negara dengan kekuatan ekonomi nomor 17 dunia, dan peringkat 19 negara paling menarik untuk investasi di dunia. Hal ini didukung oleh stabilitas politik dan keamanan. Ditambahkan bahwa dalam Global Peace Index 2010 yang dikeluarkan oleh Institute of Economi and Peace, Indonesia menduduki peringkat 67 negara paling aman, jauh di atas AS (85), India (128), dan Rusia (143). Dubes juga menyambut baik diresmikannya kantor Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) di Abu Dhabi yang secara jelas menunjukkan keseriusan Indonesia untuk menarik investor dari UEA.

Pada kesempatan terpisah, Kepala BKPM didampingi Dubes RI untuk UEA, M. Wahid Supriyadi diterima oleh Managing Director Abu Dhabi Investment Authority (ADIA), Sheikh Hamad bin Zayed Al Nahyan, yang juga adik putra mahkota Abu Dhabi, Sheikh Hamdan bin Zayed Al Nahyan. Dalam pertemuan sepanjang 1,5 jam terjadi dialog yang sangat terbuka dan lugas, bukan saja masalah ekonomi, namun juga masalah politik dunia sampai perkembangan terkini yang menerpa beberapa negara di Timteng. Sheikh Hamad tampak puas dengan diskusi yang menurut staf protokol paling lama selama beliau menerima tamu, dan berjanji untuk segera mengirim stafnya ke Indonesia untuk menjajaki investasi, khususnya di sektor infrastruktur. ADIA adalah lembaga moneter Abu Dhabi yang sebelum krisis disebut-sebut memiliki cadangan dalam bentuk sovereign wealth fund sekitar USD 1 triliun dan terbesar di dunia.