Sambutan Dubes RI dalam rangka HUT RI ke-65

8/26/2010

 
SAMBUTAN DUTA BESAR RI UNTUK PEA

M. WAHID SUPRIYADI

DALAM RANGKA PERINGATAN HUT RI KE-65

ABU DHABI, 17 AGUSTUS 2010

 

 

 

Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang saya hormati,

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

 

 

Segala puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas segala limpahan berkah dan rahmat-Nya kita bisa kembali bersama memperingati Hari Ulang Tahun Ke-65 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di KBRI sore ini. Peringatan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu bersamaan dengan datangnya bulan Ramadhan. Presiden Soekarno membacakan teks proklamasi di kediamannya, Pegangsaan Timur no 56, 65 tahun lalu, tepat pada hari Jum’at, 9 Ramadhan 1364 H., sehingga tidak salah bila dalam pembukaan UUD 1945 tertulis: “Dengan rahmat Allah SWT bangsa Indonesia telah sampai kepada pintu gerbang kemerdekaan”. Sebab, tanpa rahmat Allah SWT, rasanya hampir tidak mungkin bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan pada saat dunia tidak menentu saat itu. Dalam kesempatan yang baik ini pula saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa kepada masyarakat Muslim Indonesia di Persatuan Emirat Arab, semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

 

Saudara-saudara yang saya hormati,

 

Tidak terasa usia kemerdekaan Republik Indonesia sudah menapaki umur ke-65. Bukan usia yang muda lagi. Dalam perjalanan sejarahnya, Republik Indonesia telah mengalami berbagai tantangan dan masa-masa sulit, dari perang kemerdekaan, ancaman komunisme, separatisme sampai pada krisis ekonomi yang sempat membuat kita kurang percaya diri. Alhamdulillah, semua tantangan itu telah berhasil kita lewati. Dalam Pidato Kenegaraan Presiden RI di depan Sidang Bersama DRI RI dan DPD tanggal 16 Agustus kemarin, Presiden antara lain manyatakan bahwa kita telah berhasil melewati Reformasi Gelombang Pertama 1998-2008 dengan selamat dan sekarang telah memasuki Reformasi Gelombang kedua. Pada masa ini, kata Presiden, Indonesia tidak lagi hanya berjalan, namun harus berjalan lebih cepat dan mulai berlari. Sudah saatnya kita bukan menjadi macan kandang, namun menjadi Negara yang memiliki daya saing yang tinggi di pentas global.

 

Kita patut bersyukur, saat ini Indonesia adalah sedikit dari negara-negara di dunia yang berhasil bertahan dan bahkan perekonomiannya tumbuh cukup signifikan di tengah-tengah krisis yang melanda dunia sejak 2008. Dari laporan BPS kita mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua telah mencapai 6,2%, dan sampai akhir tahun ini diperkirakan akan mencapai sekitar 6,5%. Presiden dalam Pidato Kenegaraan kemarin menargetkan pertumbuhan 7,7% tahun 2014. Untuk itu Pemerintah mengalokasikan anggaran infrastruktur sebesar $161 milyar sampai 2014.

 

Lembaga keuangan dan badan internasional seperti World Economic Outlook, Bank Dunia memperkirakan Indonesia akan tumbuh sekitar 6.6 persen pada tahun 2010 dan Moody’s Investors Service telah menaikkan sovereign credit rating dari stable to positive. Demikian juga foreign direct investment (FDI) kita, yang merupakan tolok ukur kepercayaan internasional kepada RI, meningkat 51% pada periode yang sama menjadi US $ 3,7 milyar. Bahkan untuk pertama kalinya, peringkat kepercayaan dunia pada FDI di Indonesia sangat menggembirakan, dengan menempatkan RI pada urutan ke 19 dunia dalam FDI confidence index, seperti yang disampaikan oleh sebuah lembaga survey terkenal, AT Kearney baru-baru ini. Rupiah pun menjadi salah satu best performing currencies di Asia.

 

Kinerja ekspor dalam lima bulan pertama 2010 mencapai US $ 60 miliar, meningkat cukup tajam 47,68% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2009. Dari sisi konsumsi, total penjualan mobil enam bulan pertama 2010, naik 76 persen dibandingkan tahun lalu. Kesemuanya ini tentunya didukung dengan keamanan Indonesia yang semakin baik dan stabilitas politik yang semakin terjaga. Menurut the Economist Intelligent Unit, Indonesia saat ini menduduki peringkat 67 dalam Global Peace Index 2010 artinya Indonesia saat ini merupakan negara paling aman di dunia nomor 63. Peringkat ini lebih baik dari Amerika (84), Thailand (124) dan Rusia (143). Harian “The Khaleej Times” terbitan 7 Agustus lalu menurunkan kembali artikel yang dimuat the International Herald Tribune dengan judul “Taking off to a new horizon”. Antara lain disebutkan bahwa setelah bertahun-tahun dikenal karena ketidakefisien, ketidakstabilan dan korupsinya, Indonesia telah keluar dari krisis ekonomi global dengan sebuah reputasi baru sebagai “the economic golden child”.

 

Harus diakui masih banyak tantangan-tantangan yang masih dihadapi Indonesia. Pemberlakuan pasar bebas antara ASEAN – Cina yang mulai diberlakukan Januari 2010 merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari. Permasalahannya adalah pada bagaimana Indonesia dapat membuat produk lebih murah dengan kualitas yang baik serta mengurangi biaya ekonomi tinggi untuk menandingi produk-produk dari China. Masalah lain yang sering dikeluhkan oleh para calon investor adalah keterbatasan infrastruktur seperti jalan raya dan pasokan listrik. Tahun ini anggaran pemerintah untuk bidang infrastuktur merupakan yang tertinggi kedua setelah anggaran pendidikan.

 

Hadirin yang saya hormati,

 

Hubungan bilateral antara Indonesia – Persatuan Emirat Arab semakin membaik dan bervariasi. Kedua negara ini diharapkan menjadi contoh negara dengan mayortias penduduknya beragama Islam yang cinta damai, mengedepankan kerjasama internasional dan mendorong kehidupan yang demokratis. Di bidang politik kita memiliki banyak kesamaan, yaitu anti penjajahan, non interference dan mendorong penyelesaian masalah secara damai melalui kerjasama internasional. Kita juga mendorong berdirinya sebuah negara Palestina yang merdeka dengan ibu kota Jerusalem. Kedua negara saat ini sedang dalam proses untuk menandatangani Komisi Bilateral Bersama yang merupakan paying dari semua bidang kerjasama bilateral.

 

Di bidang ekonomi, perdagangan dan investasi perkembangannya juga cukup menggembirakan. Setelah mengalami penurunan sekitar 28,82% tahun 2009, nilai perdagangan menunjukkan peningkatan yang berarti, yaitu sekitar 30,77 % pada quartal pertama 2010, dan diharapkan sampai akhir tahun 2010 neraca perdagangan akan kembali pada posisi tahun 2008 sebesar US $ 2,1 milyar. Minat investasi PEA ke Indonesia juga meningkat tajam. Paling tidak selama 2 tahun ini telah ada komitmen investasi sekitar US $ 11 milyar, yang dipimpin oleh beberapa perusahaan besar seperti Dubai Port World, Dubai Drydock World, Etisalat, Mubadala, MEC Holdings dari RAK, Limitless dll.

 

Perwakilan RI di PEA juga selalu aktif dalam mempromosikan produk-produk Indonesia baik melalui berbagai pameran maupun membawa para pengusaha PEA ke Indonesia. Tahun lalu kita telah berhasil membawa 129 pengusaha PEA untuk hadir dalam Pameran Produk Ekspor (TEI), yang merupakan pameran produk terbesar di Indonesia, dan tahun ini ditargetkan sekitar 150 pengusaha akan kembali hadir pada acara yang akan digelar pada tanggal 13-17 Oktober mendatang. Ini membuktikan bahwa minat para pengusaha PEA terhadap produk Indonesia semakin meningkat.

 

Dari segi sosial budaya memang masih ada hambatan psikologis, karena Indonesia dikenal sebagai salah satu pengekspor tenaga kerja informal terbesar. Namun demikian pelan-pelan citra negatif Indonesia mulai berkurang dengan semakin bertambahnya jumlah pekerja Indonesia yang semakin professional. Media setempat pun semakin bervariasi dalam menampilkan berita-berita tentang Indonesia, dari perkembangan ekonominya sampai gaya hidup dan masalah-masalah sosial yang lain.

 

KBRI selama 2 tahun terakhir ini telah berjuang keras untuk merubah citra tersebut dengan menyelenggarakan berbagai acara seperti kesenian, bazaar, food festival, instore promotion bekerjasama dengan Luly Hypermarket, berpartispasi dalam Dubai Global Village dan secara khusus pengenalan batik ke berbagai kalangan di PEA. Kesemuanya ini tentunya tidak lepas dari peran masyarakat Indonesia di Abu Dhabi yang secara bergotong royong mengorbankan waktu dan tenaganya demi suksesnya progam tersebut. Pada bulan Juli lalu, KBRI Abu Dhabi berhasil mengirimkan 10 mahasiswa PEA untuk berpartisipasi pada Summer Program “DREAM 2010” di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bukan suatu hal mudah untuk menawarkan kegiatan serupa pada masyarakat PEA karena masih terdapat stigma bahwa Indonesia adalah negeri para pembantu.

 

Saudara-saudara sekalian,

 

Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh warga negara Indonesia di Persatuan Emirat Arab yang mendukung dan berpartisipasi pada berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia Abu Dhabi. Berbagai kegiatan dan pendekatan-pendekatan yang dilakukan telah mendapatkan apresiasi positif baik dari berbagai kalangan di PEA termasuk pemberitaan positif dari media cetak dan elektronik setempat.

 

Sebagai penutup, sesuai tema tahun ini “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Sukseskan Reformasi Gelombang Kedua, Untuk Terwujudnya Kehidupan Berbangsa Yang Makin Sejahtera, Makin Demokratis Dan Makin Berkeadilan”. Saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia di PEA untuk tetap menampilkan diri sebagai WNI yang memiliki integritas tinggi dalam berperilaku sehingga memberikan kontribusi bagi pencitraan positif Indonesia di luar negeri yang pada gilirannya turut mendukung kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia tercinta

 

 

Dirgahayu Republik Indonesia !

 

 

Terima kasih,

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

 

 

Abu Dhabi, 17 Agustus 2010