Speech Of The Ambassador Of The Republic Of Indonesia On The Occasion Of The 64th Anniversary Of The Indonesian Independence Day

8/17/2009

 
Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang saya hormati,
 
Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,
 
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan berkah yang kita terima sehingga hari ini kita dapat berkumpul bersama memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-64.
 
Memasuki usia ke-64 tahun kemerdekaan, Indonesia telah mengalami berbagai kemajuan dalam pembangunan, namun sebaliknya  juga menghadapi tidak sedikit tantangan dan hambatan. Krisis terbesar setelah 1965 adalah terjadinya krisis ekonomi 1997-1998 yang berakibat pada pengunduran diri Presiden Soeharto. Banyak pengamat asing, bahkan sebagian dari dalam negeri, yang meramalkan Indonesia akan megikuti jejak Uni Soviet dan Yugoslavia. Ternyata ramalan itu tidak benar dan sejarah membuktikan Indonesia dengan cepat dapat mengatasi krisis tersebut dan menyelenggarakan pemilu tahun 1999 dan 2004 dengan aman, terbuka dan demokratis. Beberapa waktu lalu, untuk ketiga kalinya sejak 1999 kita telah berhasil menyelenggarakan Pemilu untuk memilih calon anggota legislatif, Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Dalam sebuah survei yang diselenggarakan oleh Roy Morgan Research pada tangal 30 Juni, 76% orang Indonesia percaya bahwa demokrasi telah berjalan dengan baik di Indonesia.
 
Kita bangga bahwa proses Pemilu baru-baru ini umumnya telah berlangsung secara aman, bebas dan demokratis. Harus diakui, masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan pemilu secara nasional. Tak urung kondisi ini telah menyebabkan ketidakpuasan di kubu yang merasa dirugikan, yang akhirnya menempuh jalan hukum, sesuatu yang dibenarkan dalam UU kita. Terlepas dari hasilnya, cara-cara kita menempuh jalur hukum dan menerima apa pun keputusan oleh Mahkamah Konstitusi telah menunjukkan semakin dewasanya kita dalam berdemokrasi. Saya melihatnya hal ini sebagai proses pembelajaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
 
Melalui kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada PPLN dan KPPSLN KBRI Abu Dhabi, staf KBRI Abu Dhabi, dan para tenaga kerja wanita yang telah meluangkan waktu dan tenaganya dalam menyukseskan rangkaian proses pelaksanaan Pemilu yang berjalan dengan tertib dan lancar.
 
Saudara-saudara yang saya hormati,
 
Di tengah kepercayaan dunia yang semakin meningkat terhadap Indonesia, telah terjadi aksi bom bunuh diri oleh orang-orang tidak bertanggung jawab di dua hotel ternama di Jakarta pada 17 Juli 2009 yang lalu. Aksi keji tersebut telah merusak sarana dan prasarana yang ada dan hilangnya nyawa manusia tidak berdosa. Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk tidak menyerah kepada aksi terorisme dan terus bekerja keras untuk memburu, melakukan investigasi serta membawa para pelaku kejahatan ini ke pengadilan.
 
Patut disyukuri bahwa kepercayaan internasional terhadap Indonesia relatif masih  tinggi. Hal ini terlihat dari pandangan positif berbagai analisis media, lembaga keuangan dan badan internasional. The Economist menyebutkan bahwa aksi pemboman tidak akan berpengaruh pada stabilitas fundamental Indonesia yang telah dibangun selama lima tahun terakhir. Hal yang sama juga ditegaskan oleh analis ekonomi internasional seperti James Mc Mormack, Head of Asian Sovereign Ratings di Fitch Ratings – Hong Kong, yang menyatakan bahwa kejadian tersebut tidak mempresentasikan credit risk di Indonesia. Bahkan hotelier dari Accor grup tetap berencana untuk membangun jaringan hotelnya di 15 lokasi di Indonesia. Indeks harga saham gabungan dan Rupiah pun terus menguat. Bahkan tingkat Consumer Capital Index (CCI) kita saat ini masih yang tertinggi di dunia, dengan 113 point di atas India, Filipina dan Brazil.
 
Sementara dalam Corruption Perception Index (CPI), peringkat Indonesia turun dari 143 menjadi 126 pada tahun ini, dan Indonesia’s Global Competitiveness Index (GCI) yang diterbitkan World Economic Forum 2008-2009, tetap stabil mendudukan Indonesia pada posisi 55 dari 133 negara yang diteliti. Ekonomi Indonesia pada kuartal kedua, walaupun mengalami penurunan, tetap tumbuh 4%, lebih tinggi dari perkiraan Pemerintah yang 3,7%. Secara umum, dalam semester ini ekonomi Indonesia tetap tumbuh 4,2% dan merupakan pertumbuhan tertinggi ketiga di Asia setelah China dan India. Hal tersebut menjadi modal bagi Indonesia untuk memberikan gambaran positif dan peluang bagi peningkatan kerjasama di bidang perdagangan dan investasi dengan negara lain, khususnya dengan Persatuan Emirat Arab.
 
PEA merupakan salah satu negara Teluk yang memiliki kekuatan ekonomi terbesar kedua di kawasan, dengan income per capita sekitar US$ 42.275 dan menduduki peringkat ke-4 negara terkaya di dunia. Sayang sekali, selama ini potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal oleh Indonesia. Walaupun nilai total perdagangan kedua negara tahun lalu naik cukup tinggi sebesar 44% menjadi US$ 2,18 miliyar, namun angka ini masih jauh di bawah Malaysia , Thailand dan Singapura.
 
Sejalan dengan itu, KBRI Abu Dhabi telah merancang rangkaian kegiatan guna meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi kedua negara, a.l. melalui kunjungan bisnis pengusaha PEA ke Indonesia pada Trade Expo Indonesia, roadshow ke beberapa daerah untuk menjajaki peluang investasi, sebagai nara sumber pada pertemuan business forum di PEA dan menyelenggarakan business forum bekerjasama dengan KADIN Abu Dhabi dengan mengundang pengusaha, akademisi, pejabat dari Indonesia sebagai nara sumber. KBRI telah pula bekerjasama dengan ORYX Production House untuk membuat profile pariwisata dan investasi di Bali dan Lombok. Selain itu, dirancang pula kerjasama dengan Abu Dhabi Art and Cultural Heritage untuk menampilkan seni musik dan budaya kedua negara. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan “dignity” kita yang selama ini lebih dikenal sebagai negara pengirim “unskilled labor”.
 
Berdasarkan catatan KBRI, saat ini terdapat 8 perusahaan PEA yang telah menyatakan komitmennya - dan sebagian mulai merealisasikannya - untuk melakukan investasi senilai lebih dari 7 miliyar dolar AS, a.l. di bidang pariwisata lingkungan di Lombok (Emaar), pembangunan galangan kapal terbesar di Asia (Dubai Drydock World dan Fabtech International), pembangunan kawasan bisnis epicentrum di Kuningan (Limitless) dan bidang batubara (RAK Mineral and Metal Investment, RMMI).
 
Saudara-saudara sekalian,
 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato kenegaraan memperingati HUT RI ke-64 di depan Rapat Paripurna DPR tanggal 14 Agustus yang lalu, antara lain telah menyampaikan Visi Indonesia 2025, yang akan mengantarkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun tersebut. Namun untuk itu, bangsa Indonesia harus mampu untuk memperkokoh tiga pilar kehidupan bernegara yaitu, kemandirian, daya saing dan peradaban yang unggul. Memperhatikan keunggulan kita di bidang sumber daya manusia dan sumber daya alam, saya yakin visi tersebut dapat direalisasikan asalkan bangsa Indonesia mampu membangun good governance, yang diimbangi dengan sistem manajemen yang profesional. Inilah mungkin tantangan kita di masa mendatang. Keberhasilan kita menyelenggarakan Pemilu dengan damai, aman dan lancar, fondasi ekonomi yang semakin kokoh merupakan modal kita untuk bersikap optimis menyongsong Indonesia yang lebih baik di masa mendatang. Tentunya peran masyarakat Indonesia di luar negeri dengan berbagai latar belakang tersebut, akan memberikan kontribusi yang positif bagi proses pembangunan Indonesia.
 
Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi atas peran serta aktif masyarakat Indonesia dalam berbagai rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan oleh Perwakilan RI Abu Dhabi. Dengan segala keterbatasannya, KBRI Abu Dhabi tidak akan mampu mengemban tugas yang dibebankan tanpa bantuan serta peran aktif masyarakat Indonesia di PEA. Selama lebih dari satu tahun saya bertugas di Abu Dhabi, saya mulai merasakan bahwa Indonesia mulai diperhitungkan. Berita-berita media setempat tentang Indonesia semakin meningkat dan bervariasi, dan umumnya bernada positif. Perhatian berbagai lembaga /instansi baik pemerintah maupun swasta semakin meningkat. Selama dua bulan terakhir, saya telah diminta untuk berbicara di depan anggota World Trade Club of Dubai dan Rotary Club of Dubai tentang update perekonomian dan kondisi politik di Indonesia. Hal ini mengukuhkan bahwa apa yang kita lakukan selama ini untuk “menjual” Indonesia mulai membawa hasil.
 
Akhir kata, saya ingin mengajak masyarakat Indonesia di PEA untuk mendermabaktikan diri kepada negara sesuai dengan keahlian dan profesi masing-masing. Tak lupa saya ingin mengutip tema peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tahun ini, yaitu: “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kedewasaan Kehidupan Berpolitik dan Berdemokrasi serta Kita Percepat Pemulihan Ekonomi Nasional Menuju Indonesia yang Bersatu, Aman, Adil, Demokratis dan Sejahtera”.
 
Terima kasih,
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
 
Abu Dhabi, 17 Agustus 2009