TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
EXIT BRIEFING KEPADA SELURUH ROMBONGAN
KUNJUNGAN KERJA PRESIDEN RI KE OSLO, NORWEGIA
HOLMENKOLLEN PARK HOTEL RICA, OSLO-NORWEGIA
28 MEI 2010
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahamatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara-saudara,
Alhamdulillah, kita telah mamasuki hari terakhir dalam pelaksanaan tugas kita di Norwegia dan insya Allah akan segera kembali ke tanah air. Oleh karena itu, saya ingin menggunakan kesempatan yang baik ini untuk menyampaikan direktif kepada jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk dilaksanakan. Dan bagi saudara-saudara kita yang mewakili DPR RI dan DPD RI untuk menjadikan periksa, bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah semestinya atas apa yang kita dapatkan dan kita capai dalam kegiatan di Oslo, Norwegia ini, baik yang merupakan capaian kerja sama bilateral maupun kemitraan dan kerja sama yang bersifat multilateral.
Saya ingin langsung fokus kepada langkah tindak kita ke depan ini, agar apa yang telah kita tetapkan sebagai kerja sama bilateral dan nantinya juga kerja sama multilateral dalam memelihara lingkungan kita, utamanya lingkungan di sektor kehutanan dan itu bisa berjalan dengan baik.
Saya ulangi saudara-saudara. Saya ingin mengajak dulu, bagaimana kita membangun mindset atau kerangka berpikir kita di dalam kerja sama, baik bilateral maupun multilateral ini. Fokus sekali lagi pada kerja sama di bidang lingkungan, utamanya pengelolaan hutan.
Yang pertama, partnership dan cooperation antara Republik Indonesia dan Norwegia ini harus kita letakkan sebagai bagian atau salah satu agenda dalam aksi nasional pemeliharaan hutan. Jangan dibalik, jangan rencana aksi nasional kita disubordinasikan, dipas-paskan, dicocok-cocokkan dengan kerja sama RI-Norwegia ini. Sekali lagi, kerja sama RI dan Norwegia harus menjadi bagian utuh dari aksi nasional kita ke depan di dalam pemeliharaan lingkungan, utamanya pengelolaan hutan. Itu mindset yang pertama.
Mindset yang kedua, ketika kita menetapkan sasaran pengurangan emisi gas rumah kaca dari partnership kita dengan Norwegia ini, maka angka itu harus menjadi bagian dari target pengurangan 26% sampai 41% sebelum tahun 2020. Kalau menggunakan sumber daya sendiri, kita telah menetapkan target pengurangan 26%. Jika ada bantuan internasional, salah satunya dari Norwegia ini, harapan kita adalah nanti kontribusi dari pihak-pihak lain, negara-negara lain bisa mencapai 41%. Mari kita letakkan di situ.
Kalkulasikan nanti, apabila kerja sama ini berjalan mulus, baik, maka perolehan yang kita dapatkan harus dihitung sebagai bagian 26% to 41% reduction yang akan kita lakukan sampai dengan 2020. Itu mindset yang kedua.
Mindset yang ketiga. Meskipun tadi kerja sama kedua negara ini hanya menjadi salah satu bagian dari aksi nasional begitu, dan prosentase pengurangan emisi karbondioksida juga bagian dari total 26 sampai 41%, tetapi mindsetyang ketiga ini bagaimanapun partnership RI-Norwegia ini harus berhasil, harus berhasil. Mengapa? Karena ini sesungguhnya kelanjutan atau implementasi dari pertemuan di Kopenhagen, lebih khusus lagi apa yang tertera dalam Copenhagen Accord.
Dan ingat chapter yang menyangkut kerja sama pengurangan emisi gas rumah kaca dari hutan ini disumbang oleh Indonesia, oleh kita semua. Malu, kalau ini, chapter yang kita sumbangkan diadopsi oleh dunia begitu dan kita menjalankan, kok kita tidak berhasil.
Yang kedua, Norwegia juga mengembangkan kerja sama serupa dengan negara lain, disebut-sebut Brazil. Oleh karena itu, harus berhasil, yang berhasil jangan hanya Brazil, bahkan kalau perlu hasil kita lebih baik dibandingkan kerja sama Norwegia dengan Brazil ataupun dengan negara-negara lain.
Alasan yang ketiga, mengapa harus berhasil kerja sama ini. Oleh dunia, Indonesia sekarang ini dinilai sebagai salah satu leader dalam urusan climate change. Saudara mendampingi saya pertemuan dengan Steiner, dengan Helen Clark. Mereka me-recognize, mengapresiasi peran kita sebagai salah satu leader. Oleh karena itu, ya ini memberikan tanggung jawab kepada kita untuk benar-benar ya kita sebagai leader.
Alasan yang lain, selama ini proyek-proyek berskala nasional yang kita jalankan dalam kaitan dengan mengatasi perubahan iklim, belum dapat dikatakan 100% berhasil. Sekaranglah saatnya untuk membuktikan bahwa kita bisa 100% berhasil dari sasaran.
Dan alasan yang kelima, mengapa harus berhasil. Kalau ini berhasil, kerja sama yang sama atau serupa akan dapat kita lakukan dengan negara-negara lain. Sudah ada yang dengan serius menyampaikan niatnya untuk bekerja sama dengan Indonesia, yang mirip dengan kerja sama kita dengan Norwegia ini. Lima alasan itulah yang akhirnya, marilah kita tekadkan agar kemitraan kedua negara ini berhasil. Failure is not an option.
Saya ingin mengangkat dan menyampaikan pada saudara, faktor-faktor yang bisa membuat kerja sama semacam ini gagal. Kalau tahu faktor-faktor yang bisa menyebabkan kegagalan ya kita cegah, kalau muncul segera kita atasi. Pertama, pengorganisasian yang tidak tepat. Disinggung-singgung dalam pertemuan saya dengan Perdana Menteri Stoltenberg misalnya, dan juga kemarin dalam pertemuan dalam multilateral itu. Unsur pengorganisasian yang harus tepat.
Yang kedua, yang bisa bikin gagal, tidak dilibatkan dan diperankannya segenap pemangku kepentingan pusat-daerah, pemerintah-non pemerintah. Salah satu saja yang harusnya ikut bersama-sama kita tidak kita ikutkan bisa mengganggu dan membikin proyek ini tidak berhasil. Faktor yang yang ketiga, rencana aksi yang tidak workable. Bagus sih bagus, tetapi tidak bisa dijalankan dan mencapai sasaran yang ditetapkan.
Yang keempat, andaikata rencana aksinya baik, tapi bisa gagal juga apabila implementasinya tidak all out untuk mencapai target. Faktor yang kelima, pendanaan yang tidak memadai. Kurang, kurang jauh gitu dan juga tidak tepat waktu. Yang keenam, sistem atau institusi dari monitoring, reporting, and verification system. Sistem dan institusi dari MRV yang tidak kredibel dan tidak efektif. Kalau tidak kredibel, ya tidak dapat bantuan pendanaan itu, mesti kredibel.
Yang ketujuh, bisa gagal manakala masyarakat lokal merasa tidak mendapat apa-apa dari kerja sama ini. Mereka tidak boleh menebang pohon seenaknya, mereka tidak boleh membakar-bakar semaunya, mereka tidak boleh ini, tidak boleh itu, tapi tidak dapat kompensasi apa-apa. Tidak dapat sumber untuk kehidupannya yang relatif layak, pasti tidak akan berhasil.
Faktor yang lain, yang kedelapan, kepemimpinan. Jadi leadership ini betul-betul saya garis bawahi, terutama di tingkat pelaksana yang paling depan, para bupati misalnya, dengan jajarannya, dengan camat, kepala dinas, semua di situ. Merekalah sebetulnya pemimpin yang paling depan. Kalau mereka bertanggung jawab, tentu di bawah supervisi gubernur, gubernur di bawah supervisi kabinet, tentu akan jauh lebih baik.
Yang kesembilan, yang bisa juga menyebabkan kegagalan, manakala pemberitaan pers dan statement dari LSM itu negatif. Negatifnya karena kurang sinergisnya, kurang komunikasinya, aturan komunikasi antara kita dengan teman-teman LSM atau pers dan kemudian pemberitaan itu dibesar-besarkan, sehingga akhirnya ditangkap oleh mitra kita, Norwegia kalau begitu, kok seperti tidak berhasil dan seterusnya.
Poin saya bukan kita menghalang-halangi pernyataan dari NGO atau pemberitaan dari pers. Lakukan komunikasi, konsultasi, kerja sama sebaik-baiknya, sehingga yang diberitakan itu fakta begitu. Kalau ada kritik, ya kita terima, kita cek, betul tidak. Kalau ternyata betul, malah terima kasih kepada LSM dan kepada pers. Tetapi kalau completely tidak benar misalkan atau sangat dilebih-lebihkan, tentu akan mengganggu.
Yang terakhir adalah pengawasan, termasuk reward and punishment. Ini betul-betul harus baik, harus efektif manakala tidak ya ini penyumbang dari kegagalan. Kalau saya sebutkan 10 faktor yang bisa menyebabkan kegagalan, maka tugas dan kewajiban kita cegah, jangan sampai itu terjadi. Kalau memang ada muncul faktor-faktor yang bisa menggagalkan kerja sama ini segera, sekali lagi segera kita atasi.
Saudara-saudara,
Dengan tiga mindset yang saya sampaikan tadi dan sepuluh faktor yang bisa mengakibatkan kemitraan dan kerja sama ini tidak berhasil, maka saya ingin sekarang menyampaikan apa aksi atau langkah-langkah yang harus kita lakukan, mulai hari ini ke depan.
Pertama, kita harus segera menyusun dan membentuk badan pelaksana, namanya belum perlu saya sampaikan sekarang. Nanti kita pilih nama yang tepat, tapi badan pelaksana, seperti Badan Pelaksana Rekonstruksi Dan Rehabilitasi Aceh dan Nias dulu.
Yang kedua, pembentukan institusi dan sistem MRV, monitoring, reporting and verification yang credible, yanginternationally accepted atau recognized, dan tentu menggunakan information communication technology yang kita miliki.
Langkah yang ketiga adalah segera kita susun peran, rencana aksi nasional 2010-2014. Fase satu, capacity building atau preparation. Fase kedua sekitar 3 tahun, itu adalah implementation, pilot project di beberapa provinsi. Kemudian mulai 2014 atau 2013 akhir itu sudah nation wide implementation dari kerja sama ini.
Yang keempat, segera kita tetapkan kebijakan moratorium untuk pemberian izin baru selama 2 tahun. Jangan tanpa konsep, jangan tanpa kebijakan, jangan tanpa penjelasan kepada semua, jangan tanpa persiapan. Dan jangan begini, kemarin saya ditanya oleh Perdana Menteri Stoltenberg, “Bisa enggak dicegah misalnya, karena tahu akan ada moratorium mulai 2011 Januari, lantas 6 bulan ini keluarkan banyak-banyakan gitu, ini sama dengan bohong?”
Saya katakan we will control, karena kalau sudah urusan hutan itu bukan hanya pemerintah daerah, tapi untuk the central government juga memiliki tanggung jawab dan kewenangan. Saya katakan karena itu bagian dari komitmen dan apa yang harus kita lakukan, ya akan kita kontrol gitu. Ini terutama untuk Menteri Kehutanan dan juga para gubernur yang ada di sini.
Langkah yang kelima, pengiriman tim untuk studi banding ke Brazil. Studi banding ini harus agak awal, supaya dengan membandingkan apa yang dilakukan oleh Brazil, kita bisa memastikan bahwa organisasi, mekanisme, sistem apa pun yang kita lakukan itu tepat, tidak kalah, bahkan lebih bagus.
Yang keenam, segera lakukan pada saatnya nanti sosialisasi atau komunikasi dengan dunia usaha, semua, usaha pertambangan, usaha kehutanan, usaha yang connected to sektor kehutanan.
Yang ketujuh, konsultasi dan barangkali ya perlu sinergi tindakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pemerintah pusat, pemerintah daerah tidak berhenti pada provinsi, tapi harus sampai pada tingkat kabupaten dan kota, karena pejabat-pejabat itulah yang lebih mengelola atau memimpin permasalahan di tempat, di tingkat yang paling depan.
Yang kedelapan, konsultasi dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan komunitas adat, yang tentu ada kaitannya dengan proyek ini. Saya kira saudara-saudara, para menteri, para gubernur tahu mana LSM yang kritis, kritis dalam arti memberikan koreksi kepada pemerintah, kepada kita, tetapi sesungguhnya part of the solution. Itu yang kita harapkan, part of the solution. Kritis dengan niat semangat untuk bikin kebaikan negaranya, pemerintahnya, rakyatnya, ya Indonesianya gitu.
Yang kesembilan, menetapkan lembaga keuangan yang nanti akan mengurus pendanaan. Jadi kalau memang disepakati not always international financial institution, tapi bisa juga yang sifatnya national, as far as itu kredibel dan itu ya internationally recognized.
Sembilan tindakan itu harus kita rampungkan di tahun 2010 ini. Jadi kita punya waktu sekitar 6 bulan, tidak lama, tetapi cukup kalau kita gunakan dengan baik. Dan saudara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, saya tugasi untuk mengkoordinasikan semuanya ini nanti, tentu dibantu oleh menteri-menteri dan jajaran kabinet terkait.
Yang terakhir, saya nanti akan aktif paling tidak dua hal, monitoring pelaksanaan pada tingkat lapangan, sekaligusmonitoring keadaan di lapangan itu sendiri.
Yang kedua, saya juga akan meminta laporan secara berkala dari badan pengelola nantinya. Dengan demikian, saya juga tahu progress dan kalau ada apa-apa benar-benar bisa kita atasi. Karena ini kehormatan, jangan sampai kita dianggap lalai atau tidak konsekuen, tidak konsisten dan sebagainya. Simply, karena ini untuk rakyat kita, untuk negara kita, dan tentu untuk dunia kita juga, sehingga kita punya kehormatan, kita punya tekad, kita punya tanggung jawab untuk menyukseskan semuanya ini.
Dan yang ketiga, menyangkut apa yang akan saya lakukan, saya akan berkunjung nanti. Begitu ditetapkan provinsi A, yang akan menjadi bagian dari kerja sama ini, kabupaten X dengan luasan wilayah hutan sekian hektar misalnya. Saya akan langsung meninjau di lapangan, bisa dengan sarana udara, helikopter, bisa dengan jalan darat ataupun jalan air. Yang penting saya harus melihat langsung daerah, tempat kita untuk menjalin kerja sama ini atau upaya-upaya untuk mengurangi remisi gas rumah kaca ini.
Meskipun teknologi memungkinkan. Ada googles, tetapi saya juga, tapi rasanya kalau saya juga dengan saudara-saudara kita langsung ke depan ke lapangan, sehari, dua hari di situ. Maka pada saat kita memantau lewat googlesitu, cepat membayangkannya, oh iya daerah itu, oh sungai ini, bukit ini, oh tanah yang gundul itu, hutan yang masih perawan itu dan sebagainya. Jadi saya langsung melihat ke sana.
Itulah saudara-saudara, apa-apa yang akan kita laksanakan di Indonesia nanti, di tanah air. Dan dalam Sidang Kabinet Paripurna nanti, setelah cukup persiapannya, tolong dipresentasikan karena memerlukan juga keterpaduan dari semua jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Kepada saudara-saudara yang berasal dari DPR RI dan DPD RI, kita berharap bisa bekerja sama dengan baik. Saudara ikut betul dalam diplomasi ini, dalam perjuangan ini, mari kita sukseskan bersama-sama. Pak rektor juga. Nanti saya ingin melibatkan perguruan tinggi, antara lain Universitas Andalas, Institut Pertanian Bogor dan mungkin satu, dua lagi mana yang betul-betul juga bisa ikut menyukseskan program besar ini.
Kepada gubernur jelas, tanggung jawab kita semua untuk kita sukseskan. Para wartawan yang besama-sama kita ini juga, marilah kita sukseskan ini semua. Manakala ada kekurangan, ada hal-hal yang belum pas, let me know, bagus, sambil memberitakan kepada publik, ini yang kurang, ini yang belum rapih, saya juga senang untuk perbaikan. Tapi manakala ada achievement, ada progress, ya tulislah begitu, dengan demikian dunia akan trustkepada kita, bahwa Indonesia ini tidak ada kata main-main dan benar-benar ingin melaksanakan pemeliharaan lingkungan dengan penuh tanggung jawab.
Kira-kira itu saudara-saudara dan karena untuk pers kemarin sudah dua kali ikut konferensi pers sebetulnya, baik waktu saya dengan Perdana Menteri Norwegia, yang bilateral. Kemudian saudara-saudara juga ikut lagi konferensi pers yang multilateral kemarin, belum ada yang baru lagi, saudara sudah ketahui semua. Dan justru pertemuan sekarang inilah yang menjadi penting untuk disampaikan ke publik, karena langkah, tindakan yang akan dilakukan oleh kita semua pasca pertemuan di Oslo ini.
Itulah saudara-saudara dan perjalanan masih panjang. Kalau ada penjelasan lain, nanti bisa saya sampaikan di perjalanan, di atas pesawat atau di Dubai. Kita lihat nanti perkembangannya, jika ada. Kalau tidak ada yang lain, saya akhiri pertemuan kita ini.
Terima kasih atas kebersamaan kita.
Wassalamu’alalaikum warahamatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan