Terjemahan Tidak Resmi
Pidato
Y.M. Dr. R.M. Marty M. Natalegawa
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia
pada Pertemuan Tingkat Menteri
Biro Koordinasi Gerakan Non-Blok
Sharm El Sheikh, Mesir, 9 Mei 2012
Yang Mulia Tuan Mohamed Kamel Amr, Menteri Luar Negeri Republik Arab Mesir, Ketua Gerakan Non Blok,
Yang Mulia Para Menteri dan Ketua Delegasi,
Para Peserta dan Hadirin yang terhormat,
Pertama-tama, perkenankanlah saya untuk menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan kepada Republik Arab Mesir yang telah menyelenggarakan kegiatan yang penting ini, Pertemuan Tingkat Menteri dari Biro Koordinasi Gerakan Non-Blok serta atas keramahtamahan yang diberikan kepada seluruh delegasi. Kami juga menyampaikan penghargaan yang tinggi atas persiapan yang luar biasa baik hingga terselenggaranya Pertemuan ini.
Tahun lalu di Bali, Indonesia, dalam peringatan 50 tahun Gerakan Non-Blok, kita telah merumuskan visi bersama bagi Gerakan kita. Gerakan Non-Blok sebagai net contributor bagi perdamaian dan keamanan global; net contributor bagi perkembangan politik dan demokrasi; serta net contributor bagi kemakmuran global.
Hari ini, di Sharm-el-Sheikh, Mesir, kita memiliki sebuah kesempatan untuk mewujudkan visi ini.
Dalam kesempatan ini, perkenankanlah saya untuk berbagi bersama hadirin sekalian beberapa pemikiran bagaimana kita dapat mewujudkan seluruh visi tersebut.
Pertama-tama, dalam usaha kita untuk mewujudkan perdamaian dan keamanan global, kita harus terus memastikan bahwa diplomasi dan upaya penyelesaian sengketa secara damai tetap dikedepankan. Kita harus terus mengupayakan perdamaian.
Di kawasan Asia Tenggara, kami telah secara konsisten melakukan pendekatan ini dan mencapai suatu kemajuan. Menghasilkan dividen dari perdamaian.
Secara umum, kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik telah mengalami perdamaian selama beberapa dekade dan dapat dikatakan hampir tidak mengalami gangguan, dan dengan demikian memungkinkan negara-negara di kawasan dapat memanfaatkan seluruh potensi yang ada bagi upaya-upaya pembangunan.
Tentu saja, kawasan Asia Pasifik tidak sepenuhnya bebas dari tekanan-tekanan dan potensi-potensi konflik. Namun demikian, dalam praktiknya, kita melihat bukti-bukti adanya upaya-upaya diplomatis yang kuat untuk mencegah, mengelola atau bahkan menyelesaikan konflik-konflik tersebut. Melalui kerja sama dengan mitra-mitranya di ASEAN, Indonesia telah berupaya untuk memperluas cakupan upaya tersebut melalui pembangunan arsitektur kawasan yang dipimpin oleh ASEAN. Contohnya, negara-negara anggota ASEAN dan semua negara peserta East Asia Summit (EAS) telah meletakkan prinsip-prinsip hubungan damai dan saling menguntungkan antara negara-negara di kawasan. Prinsip ini kemudian dikenal sebagai Bali Principle.
Prinsip yang sama juga mendasari terbentuknya Dasasila Bandung pada tahun 1955, ketika Gerakan Non-Blok pertama kalinya dibentuk.
Dengan semangat ini, Indonesia mendorong semua semua anggota GNB untuk melanjutkan upaya-upaya meningkatkan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran diantara negara-negara tersebut.
Sebagai contoh, kita harus tetap memastikan bahwa Gerakan Non-Blok dapat menjawab tantangan-tantangan berat yang dihadapi masyarakat dunia saat ini. Baik isu keamanan tradisional dan non-tradisional.
Terlebih, kita juga harus siap untuk melakukan tindakan yang nyata dalam dukungan kita terhadap perjuangan Palestina. Oleh karena itu, marilah kita melaksanakan Bali Road Map yang telah kita sepakati bersama tahun lalu- menuju pengakuan universal terhadap Negara Palestina berdasarkan batas wilayah tahun 1976 dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.
Kita harus membantu Palestina dalam upayanya untuk mendapat keanggotaan penuh di PBB dan organisasi - organisasi internasional lainnya. Kita harus bersama-sama mendorong Israel untuk menghentikan pembangunan pemukiman ilegal. Dan kemudian, dapat kembali melakukan negosiasi yang berujung pada terbentuknya negara Palestina.
Kedua, kita harus menegaskan kembali komitmen kita terhadap demokrasi, hak asasi manusia dan tata kelola pemerintahan yang baik.
Sejak pertemuan kita tahun lalu, negara negara di Timur Tengah dan Afrika Utara terus melanjutkan transformasi politik mereka yang bersejarah.
Kami juga senang terhadap transformasi di Myanmar yang berjalan dengan damai.
Dan pada saat kita menangani tuntutan akan tata kelola pemerintahan yang baik pada tingkat nasional, kita juga harus dapat turut membahasnya secara bersama-sama sebagai sebuah Gerakan.
Kita harus tetap mengupayakan penerimaan yang universal terhadap nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, keadilan dan kesetaraan.
Indonesia mengerti, secara langsung, bahwa proses reformasi dan transformasi politik merupakan proses yang tidak mudah, dan bukan merupakan sebuah peristiwa. Hal tersebut merupakan sesuatu yang perlu dipupuk dan diperkuat secara terus menerus.
Kita juga harus melihat bahwa pemerintahan global juga harus dikelola secara demokratis dan akuntabel. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan upaya kita untuk melakukan reformasi pada sistem PBB, termasuk Dewan Keamanan, dan membuatnya lebih mencerminkan keadaan hubungan internasional yang kontemporer.
Yang ketiga, kita harus melihat bahwa kemajuan ekonomi dan kemakmuran merupakan hal yang inklusif.
Dan globalisasi memberikan manfaat bagi semuanya.
Kami merasa sangat bahagia bahwasanya secara keseluruhan, prospek ekonomi negara-negara anggota GNB sangat menjanjikan.
Bahkan, negara-negara berkembang dengan kekuatan ekonominya saat ini telah menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi global. Negara-negara tersebut memainkan peranan yang semakin penting dalam pengelolaan perekonomian dunia.
Gerakan kita, dengan jumlah anggota yang besar, harus tetap menjadi kekuatan utama dalam mengatasi tantangan-tantangan seperti pencapaian Millennium Development Goals, perubahan iklim, ketahanan pangan dan energi, serta reformasi arsitektur finansial internasional.
Kita harus tetap fokus dalam mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
Kita harus bekerja bersama-sama melalui PBB dan forum multilateral lainnya, sehingga komitmen internasional terhadap agenda pembangunan global terus dilanjutkan pasca 2015. Serta memastikan tidak akan adanya kesenjangan antara komitmen dan implementasi.
Kita harus memastikan bahwa masyarakat internasional terus menciptakan kemajuan dalam pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kesehatan, pendidikan, serta ketahanan pangan dan energi – isu-isu yang sangat penting dalam pembangunan.
Konferensi Rio+20 mendatang harus memajukan agenda pembangunan berkelanjutan global. Agenda tersebut harus memperhitungkan kepentingan serta kebutuhan negara-negara berkembang. Agenda tersebut juga harus mencakup dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan.
Yang Mulia,
Hadirin yang terhormat,
Terinspirasi oleh Dasasila Bandung, serta disegarkan kembali dengan Bali Vision, Gerakan kita telah mampu mencapai banyak hal.
Mari kita terus tambahkan capaian-capaian yang membanggakan tersebut, dan tetap maju bersama agar Gerakan ini dapat terus mengatasi tantangan-tantangan dan meraih segala kesempatan baik yang ada pada saat ini dan pada masa yang akan datang.
Terima kasih.