Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Berita Terkini

Strategi Pemerintah RI dalam Mempertahankan Pertumbuhan Ekonomi Nasional Terkait Krisis Ekonomi Global

Senin, 10 September 2012

Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Kajian Mandiri, Pusat P2K2 Amerop telah menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Strategi Pemerintah RI Dalam Mempertahankan Pertumbuhan Ekonomi Nasional Terkait Krisis Ekonomi Global” di Hotel Akmani, Jakarta, pada tanggal 7 September 2012.

FGD menghadirkan tiga narasumber, yaitu Duta Besar Suprapto Martosoetomo (Staf Ahli Menlu Bidang Hubungan Kelembagaan), Ibu Dewi M. Kusumaastuti (Direktur Kerja Sama Intra-Kawasan Amerika dan Eropa, Kemlu) dan Ibu Amalia Adininggar Widyasanti, ST, MSi, M.Eng. Ph.D (Direktur Perdagangan, Investasi, dan Kerjasama Ekonomi Internasional, BAPPENAS). FGD dihadiri oleh perwakilan dari Bappenas, Kemenko Perekonomian, BKPM dan unit terkait Kemlu.

FGD diawali dengan laporan kegiatan oleh Kepala Pusat P2K2 Amerika dan Eropa dan kemudian dilanjutkan dengan pembukaan oleh Sekretaris BPPK.

Dalam laporannya, Kepala Pusat P2K2 Amerika dan Eropa menyampaikan bahwa FGD dilaksanakan dengan tujuan untuk dapat mengidentifikasi strategi yang diterapkan oleh Pemerintah RI dalam rangka mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional dalam kaitannya dengan krisis ekonomi dan finansial global yang berpengaruh terhadap kinerja perekonomian mitra-mitra kerjasama ekonomi Indonesia.

Selain itu, FGD juga diharapkan dapat menghasilkan ide dan gagasan dalam upaya meningkatkan hubungan perdagangan Indonesia, khususnya peningkatan ekspor RI di kawasan Amerika dan Eropa.

Selanjutnya Direktur KSI Amerop yang bertindak sebagai pembicara pertama menyampaikan tentang latar belakang krisis Euro Zone yang diawali oleh runtuhnya perekonomian Yunani akibat permasalahan finansial yang melanda negara tersebut yang kemudian diikuti oleh negara-negara lain seperti Italia, Spanyol, Portugal dan Irlandia.

Krisis di negara tersebut diakibatkan oleh defisit anggaran yang terlalu besar, ekonomi yang tidak kompetitif, tingginya angka pengangguran, serta hutang terhadap GDP yang terlampau besar, melebihi angka 60% yang merupakan batas maksimum hutang pemerintah terhadap PDB yang tercantum pada Traktat Maastricht 1992.

Secara umum, dampak krisis Euro Zone tidak berdampak langsung terhadap perdagangan RI-EU, karena ekspor RI ke UE hanya sebesar 12% dari total nilai ekspor secara keseluruhan. Namun demikian, pertumbuhan ekspor Indonesia hingga kuartal pertama tahun 2012 menurun menjadi 7,8% dibandingkan periode yang sama tahun 2011 sebesar 13,6%.

Direktur  Perdagangan, Investasi, dan Kerjasama Ekonomi Internasional, Bappenas dalam presentasinya menjelaskan mengenai kebijakan pemerintah RI dalam menghadapi krisis global.

Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan perlunya mendorong sektor riil seperti meningkatkan iklim investasi, revitalisasi industri, pemberdayaan UKM, menjaga pertumbuhan konsumsi kelas menengah dan menjaga daya beli masyarakat kelas bawah. Selain itu perlu dilakukan peningkatan sistem logistik nasional dan pengamanan pasar dalam negeri.

Meskipun krisis ekonomi global tidak secara langsung berdampak terhadap Indonesia, namun efek krisis tersebut dapat terlihat dari kinerja ekspor Indonesia yang mengalami perlambatan pertumbuhan.

Ekspor Indonesia per Januari-Juni 2012 mengalami penurunan sebesar US$ 2 miliar dibandingkan periode yang sama tahun 2011.

Sebagai pembicara terakhir, Staf Ahli Menlu Bidang Hubungan Kelembagaan dalam paparannya menjelaskan mengenai strategi diplomasi ekonomi RI dalam menghadapi krisis ekonomi global.

Langkah-langkah tersebut antara lain dilakukan dengan identifikasi potensi dan peluang pasar, diversifikasi pasar, promosi berkelanjutan, pemberian fasilitas bagi para pengusaha, revitalisasi mekanisme kerjasama, penguatan dan pelaksanaan payung hukum kerjasama, mengembangkan kemitraan strategis, memaksimalkan peluang di negara yang menjadi pasar non-tradisional seperti Amerika Latin dan Eropa Tengah dan Timur, serta memperkuat kerjasama bilateral dan multilateral seperti G-20, APEC, EAS. (Sumber: P3K2 Amerop)








AksesPPTM 2013Majalah QuAsDiplomasi Indonesia 2010Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. Natalegawa
ASEAN Selayang PandangLPSEPedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali Alatas
Ayo Kita Kenal ASEANPusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Proses dan Tata CaraMarket Info dan Info Pasar
Perpustakaan Hukum Kementerian Luar NegeriSekretariat Kabinet Museum Konferensi Asia AfrikaTDRMCFealac Indonesia
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan