Indonesia mengundang pengusaha RRT untuk menggarap sejumlah proyek infrastruktur di tanah air. Terdapat sekitar 7-8 proyek yang dapat digarap pada 2012-2014 meliputi pembangunan jalan, jembatan, bendungan dan sumber daya air, jalur kereta api dan sarana perhubungan lain, pembangkit listrik dan sejumlah proyek infrastruktur lainnya.
Hal ini disampaikan Deputi Bidang Infrastruktur Bappenas Dedy Supriatna, dalam “Indonesian Infrastructure Investment Forum” yang diselenggarakan oleh China International Contractors Association (CHINCA) di Beijing, (30/07).
Menurut Dedy, untuk membiayai proyek-proyek tersebut, pada tanggal 29 Mei 2012 telah ditandatangani kesepakatan pendanaan sebesar US$ 1 milyar antara Bank Ekspor Impor RRT dan Kementerian Keuangan RI.
“Proyek-proyek tersebut adalah program MP3EI 2011-2025 yang akan memanfaatkan prefential loan yang ditawarkan Pemerintah RRT atau melalui Public Private Partnership (PPP)”.
“Sejumlah proyek yang akan digiatkan ini akan mampu mendorong pembangunan dan percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia”, pungkas Dubes RI untuk RRT Imron Cotan dalam forum yang juga dihadiri sekitar 100 orang wakil dari Kementerian Perdagangan dan BUMN RRT serta perusahaan konstruksi anggota CHINCA.
Pada tataran teknis dalam penyediaan lingkungan yang kondusif bagi pelaksanaan PPP, Pemerintah RI juga menyiapkan serangkaian langkah-langkah strategis.
Hal tersebut antara lain, meningkatkan dukungan pemerintah melalui perpajakan, kemudahaan mendapatkan lahan, mengupayakan berbagai kemungkinan pendanaan, membentuk Indonesia Infrastructure Guarantee Fund dan Indonesia Infrastructure Financing Facility serta Pusat Investasi Pemerintah di bawah Kementerian Keuangan RI.
“Sekarang merupakan momen yang sangat tepat untuk berinvestasi di Indonesia. Penilaian sejumlah lembaga internasional seperti The Fitch, The Moody’s dan Japan Rating Credit Agency yang memasukkan Indonesia ke dalam ‘Investment Grade’ memperlihatkan bahwa Indonesia memang layak sebagai tujuan investasi.” Ujar Dubes Imron.
Gubernur Provinsi Sulawesi Barat Anwar Adnan yang hadir turut menawarkan sejumlah proyek potensial bagi pengembangan daerahnya.
Tidak tanggung-tanggung 16 proyek disodorkan sekaligus kepada pihak RRT yang meliputi pembangunan jalan raya multi akses di Mamuju, pelabuhan kontainer dan kawasan ekonomi khusus Belang-Belang, Bandar udara di Mamasa dan Mamuju Utara, pengilangan minyak dan gas di Mamuju Utara dan Majene, pembangkit listrik tenaga hidro di Karama, jalur kereta rute barat Sulawesi, perluasan jalan provinsi dan jembatan.
“Dari proyek-proyek yang ditawarkan tersebut, beberapa diantaranya telah memiliki master plan, hasil studi kelayakan dan studi kelayakan pendahuluan sehingga dapat segera ditindaklanjuti” ucap Anwar.
Indonesian Infrastructure Investment Forum 2012 ini merupakan forum kedua yang diselenggarakan CHINCA di Beijing, setelah forum serupa pada tahun 2011.
Penyelenggaraan Forum yang didukung China Ministry of National Development Planning dan sejumlah BUMN dan Perusahaan RRT seperti China Railways Construction Company, Sino Hydro Group Limited, China Gezhouba Group International Company, dan China Machinery Industry Construction Group Inc. dimaksudkan untuk mempertemukan sejumlah pengusaha Indonesia dan RRT yang bergerak di bidang konstruksi.
Melalui pertemuan semacam ini diharapkan dapat dihasilkan sejumlah kesepakatan konkrit yang antara lain ditandai dengan adanya penandatangan kesepakatan proyek kerjasama antar pemerintah ataupun kalangan dunia usaha di bidang konstruksi.
Delegasi Indonesia pada pertemuan kali ini dipimpin oleh Dubes Imron Cotan sendiri dan 37 orang wakil dari Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). (KBRI Beijing/Ed.PY)