Persahabatan Indonesia-Namibia yang telah berlangsung lama, bahkan jauh sebelum Namibia merdeka dan peran Indonesia membantu kemerdekaan Namibia, menjadi pertimbangan utama bagi pemerintah Namibia untuk membuka kedutaan besarnya di Indonesia.
Demikian dikatakan mantan Presiden Namibia, sekaligus Founding Father, Dr. Sam Nujoma, menanggapi kemungkinan dibukanya Kedutaan Besar Namibia di Indonesia ketika bertemu Duta Besar RI untuk Namibia Agustinus Sumartono di ruang kerjanya, Kamis (29/3).
Pembukaan Kedutaan Besar Namibia di Indonesia akan dapat membantu meningkatkan hubungan bilateral dan dikenalnya Namibia oleh masyarakat Indonesia serta mendorong people-to-people contact, ujar Dubes RI Sumartono.
Dengan semakin dikenalnya Namibia di Indonesia, akan semakin banyak pengusaha Indonesia yang tertarik memanfaatkan potensi Namibia sebagai pasar, sekaligus entry point masuk ke Southern African Development Community yang beranggotakan 15 negara, dengan pangsa pasar sekitar 240 juta orang.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, Dr. Nujoma menceritakan secara singkat mengenai sejarah hubungan Indonesia-Namibia dan pengalamannya berkunjung ke Indonesia.
Dr. Nujoma juga menyampaikan penghargaan atas jasa Indonesia sebagai salah satu pelopor KAA 1955 di Bandung. Konperensi yang telah menginspirasi negara-negara di Afrika, termasuk Namibia, untuk memerdekakan diri dari belenggu kolonialisme.
Menurutnya Namibia dan Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Oleh karena itu, diharapkan kedua negara dapat melakukan kerja sama yang lebih konkrit, diantaranya melalui capacity building termasuk peningkatan SDM di berbagai bidang.
Di bidang perdagangan, kedua negara dapat saling memperkenalkan produk unggulannya. Namibia dalam hal ini sangat tertarik memasarkan produk daging sapi yang tergolong terbaik di dunia.
Indonesia diharapkan dapat mempertimbangkan untuk mengimpor daging Namibia yang telah sukses merambah pasar Eropa, China dan Timur Tengah.
Lebih jauh beliau menekankan pentingnya Indonesia dan Namibia untuk bersatu melawan berbagai bentuk imperialisme, yang berupaya menguasai sumber daya alam. Kerjasama kedua negara merupakan senjata yang ampuh untuk melawan berbagai bentuk imperialisme tersebut (Sumber: KBRI Windhoek/Toary Worang)