Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Berita Utama

Menlu: Transformasi, Buahkan Profil Politik Luar Negeri RI Yang Baru

Jumat, 30 Maret 2012

Transformasi yang berlangsung selama 1 dekade terakhir buahkan profil politik luar negeri RI yang mampu secara aktif turut selesaikan berbagai permasalahan dunia. Ini tidak terlepas dari terus berkembangnya nilai-nilai demokrasi dan HAM dalam politik luar negeri RI.

Menlu Marty M. Natalegawa menuturkan hal tersebut kepada 18 mahasiswa pasca sarjana Stanford University-AS di Gedung Pancasila, siang ini (30/03/2012).

Dalam diskusi yang berlangsung selama 1 jam itu, Marty memaparkan bagaimana transformasi tersebut memberikan ruang yang terbuka bagi para pemangku kepentingan dalam proses pengambilan kebijakan luar negeri RI. Demikian pula bagaimana transformasi itu memungkinkan peran Indonesia yang lebih besar di kawasan dan di tingkat global. 

Dicontohkan Marty, peningkatan postur demokrasi dan penghormatan terhadap nilai-nilai HAM di kawasan tidak terlepas dari peran Indonesia. “Indonesia mampu mentransformasikan hal yang dulunya asing di ASEAN, seperti demokrasi dan HAM, menjadi salah satu agenda penting di kawasan,” tuturnya.

Saat menjadi Ketua ASEAN 2011, Indonesia juga mampu merubah paradigma keamanan dan stabilitas di Asia Pasifik dengan mengikutsertakan AS dan Rusia di dalam forum East Asia Summit (EAS).

“Keamanan, stabilitas dan kemakmuran bersama dapat dicapai melalui suatu keseimbangan yang dinamis (dynamic equilibrium), dimana tidak ada satu kekuatan yang mendominasi di Kawasan Asia Pasifik,” Marty memaparkan keyakinannya.

Sedangkan di tingkat global, dengan semakin kompleks dan saling terkaitnya satu isu dengan lainnya, Indonesia meyakini pentingnya kerjasama dan kemitraan antar negara.

Menanggapi beberapa pertanyaan mengenai peranan Indonesia di dalam konflik Laut China Selatan, Marty menyampaikan bahwa banyak hal yang telah dicapai pada saat ini. Salah satunya adalah disepakatinya Guidelines of the DOC antara ASEAN dan RRT pada Keketuaan Indonesia 2011.

“Pendekatan akan Laut China Selatan telah banyak berubah dan Indonesia tidak boleh diam. Jika kita tidak berbuat sesuatu, maka pemain lain akan datang dan berbuat sesuatu dalam perspektif mereka sendiri” tambah Menlu Marty.

Perubahan positif yang terjadi di Myanmar juga sempat dikemukakan di dalam diskusi. Marty menyampaikan bahwa negara yang akan menyelenggarakan Pemilu Sela pada awal April ini, telah melalui berbagi perubahan yang signifikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa keketuaan Myanmar untuk ASEAN pada tahun 2014 merupakan katalis perubahan. Hal tersebut juga diharapkan dapat membuka peluang bagi ramainya investasi di Myanmar, tambahnya.

Usai pertemuan dengan Menlu, Professor Donald K. Emmerson, Faculty Advisor sekaligus ketua rombongan, menjelaskan bahwa program ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh Stanford University. Selama di Indonesia ia bersama para mahasiswa melakukan studi lapangan dan mengunjungi sejumlah tempat di Batam, Sumbawa dan Jakarta.


Di Jakarta, selain bertemu dengan Menlu, pihaknya juga mengunjungi sejumlah lembaga think tank dan lembaga pemerintahan terkait. Donald berharap bahwa hal ini akan dapat terus dilanjutkan di masa mendatang. (sumber: Dit. Infomed/PY/ed.Yo2k)








AksesPPTM 2013Majalah QuAsDiplomasi Indonesia 2010Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. Natalegawa
ASEAN Selayang PandangLPSEPedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali Alatas
Ayo Kita Kenal ASEANPusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Proses dan Tata CaraMarket Info dan Info Pasar
MDGs ReviewPerpustakaan Hukum Kementerian Luar NegeriSekretariat Kabinet Museum Konferensi Asia AfrikaTDRMC
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan