Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Berita Utama

RI Punya Peran Kunci Dalam Pendanaan Program Pembangunan PBB

Jumat, 30 Maret 2012

Sebagai Wakil Presiden ECOSOC yang akan memimpin Operational Activities Segment pada Sidang High Level Segment ECOSOC bulan Juli 2012, Indonesia memegang peran kunci dalam negosiasi Quadrennial Comprehensive Policy Review (QCPR) yang akan dimulai pada Sidang Majelis Umum PBB ke-67 bulan Oktober 2012 mendatang.
 
Hal tersebut disampaikan Wakil Tetap RI untuk PBB, Duta Besar Desra Percaya, ketika membuka Seminar tentang “Funding of UN Operational Activities for Development: What is Meant by “Critical Mass” of Core Resource?” yang diselenggarakan Indonesia bersama Presiden Majelis Umum PBB, United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN-DESA) dan Friedrich-Ebert-Stiftung, pada hari Kamis (29/03/2012) di New York.
 
“Peranan Indonesia dalam proses QCPR menjadi semakin penting mengingat Indonesia juga adalah Wakil Presiden Badan Eksekutif UNDP, UNFPA dan UNOPS, yang merupakan badan pendanaan dan program PBB terbesar”, lanjut Dubes Desra Percaya.
 
QCPR merupakan mekanisme bagi negara-negara anggota PBB untuk  menilai efekftivitas, efisiensi, koherensi dan dampak kegiatan-kegiatan operasional PBB bagi pembangunan empat tahun mendatang (2013-2016). QCPR juga diharapkan dapat mengarahkan “system-wide policy” bagi kerjasama pembangunan dan modalitas tingkat nasional dari sistem PBB dalam menghadapi lingkungan kerjasama pembangunan internasional yang terus berubah.
 
Seminar yang diadakan untuk persiapan  proses QCPR 2012 dalam menyusun laporan analisis komprehensif dari implementasi resolusi Majelis Umum PBB no. 62/208 tentang “Triennial Comprehensive Policy Review (TCPR) ini dihadiri oleh Presiden Majelis Umum PBB, Dubes Nassir Abdulaziz Al-Nasser; Direktur Eksekutif UN Women, Michelle Bachelet; Associate Adminstrator UNDP, Rebeca Grynspan; serta para Duta Besar/wakil negara-negara anggota PBB dan badan-badan PBB seperti UN-DESA, UNDG, UNDP, UN Women dan UNICEF.
 
Pada kesempatan tersebut Presiden Majelis Umum PBB menekankan bahwa sejalan dengan mandat resolusi MU PBB no. 64/289 tentang System-Wide Coherence, sudah saatnya program dan pendanaan PBB memulai dialog mengenai critical mass, guna mencari sumber-sumber pendanaan yang dapat dimanfaatkan secara maksimal.
 
Sementara Michelle Bachelet dan Rebeca Grynspan, mewakili badan program dan pendanaan PBB, menyatakan bahwa pendanaan merupakan isu sentral dalam proses QCPR. Melalui proses ini badan-badan pembangunan PBB memperoleh pendanaan pembangunan yang bersifat pasti dan berkelanjutan.
 
“Melalui kegiatan Seminar ini diharapkan negara-negara anggota PBB dapat lebih mempersiapkan diri  dalam menghadapi negosiasi resolusi QCPR, serta memperoleh temuan dan rekomendasi terkait analisis tentang country programme document, UN Resident Coordinators, funding, result-based strategic planning and management, gender equality and empowerment of women dan dukungan bagi negara-negara yang sedang dalam transisi dari relief to development,” Duta Besar Desra Percaya menutup pembicaraan. (sumber: PTRI New York)







AksesPPTM 2013Majalah QuAsDiplomasi Indonesia 2010Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. Natalegawa
ASEAN Selayang PandangLPSEPedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali Alatas
Ayo Kita Kenal ASEANPusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Proses dan Tata CaraMarket Info dan Info Pasar
MDGs ReviewPerpustakaan Hukum Kementerian Luar NegeriSekretariat Kabinet Museum Konferensi Asia AfrikaTDRMC
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan