“Saya sangat kagum dengan peran aktif dan dedikasi KBRI Windhoek untuk membantu para nelayan tangguh di Walvis Bay”, demikian disampaikan Happy Urip Waskito, WNI yang telah bekerja selama 32 tahun sebagai ABK, saat menghadiri acara temu muka dengan Dubes RI dan keluarga besar KBRI Windhoek, Sabtu (15/9) pekan lalu, di Lagoon Chalet and Caravan Park, Walvis Bay, Namibia. Dirinya mengaku sangat terharu hingga ingin meneteskan air mata, melihat begitu besarnya perhatian dan bantuan yang diberikan KBRI Windhoek selama ini dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi ABK/WNI di Walvis Bay.
Selain Happy dari kapal penangkap ikan FV. Northern Warior, hadir dalam acara ini 28 ABK/WNI yang berasal dari 5 kapal, yaitu: Castro 668, De Mersal 5, Auster, Polaris dan Costa San Jorge. Para nelayan tangguh tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, diantaranya Tegal, Brebes, Bandung dan Manado.
Dalam acara itu, Dubes RI Agustinus Sumartono menyampaikan tugas utama KBRI, yaitu untuk melindungi, membantu dan memperjuangkan hak-hak WNI di luar negeri sesuai dengan peraturan dan hukum yang berlaku. Untuk itu para ABK/WNI dihimbau untuk melapor diri ketika kapal berlabuh di Walvis Bay. Apabila mereka mengalami masalah, diminta untuk secepatnya melaporkan kepada KBRI agar dapat ditindaklanjuti penyelesaiannya dengan pihak terkait, seperti agen di Walvis Bay dan Indonesia, kapten maupun pemilik kapal.
ABK/WNI diminta bersikap dan bertingkah laku baik, sopan dan bekerja keras sebagai cerminan budaya bangsa Indonesia. Senantiasa memperhatikan keselamatan dalam bekerja, menjaga kekompakkan dan solidaritas antar sesama ABK/WNI. Mereka juga diingatkan untuk selalu memegang paspor, buku pelaut dan Perjanjian Kerja Laut (PKL), setidaknya copy dari dokumen dimaksud untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
Mengingat banyaknya kasus terkait agen di Indonesia yang tutup atau berganti nama saat mengalami masalah, ABK/WNI diharapkan selektif dalam memilih agen perekrut di Indonesia, memanfaatkan informasi dari sesama ABK dan atau organisasi pelaut di Indonesia. Mereka juga diminta membaca PKL dengan seksama, sebelum ditandatangani untuk mengetahui hak dan kewajiban sebagai ABK/WNI.
Temu muka ini, sekaligus dimanfaatkan untuk penanganan kekonsuleran kasus ABK/WNI yang kapalnya sedang berlabuh di Walvis Bay.
Dalam sesi diskusi, beberapa ABK/WNI menyampaikan keluh kesah dan masalah yang dihadapi, diantaranya tentang prosedur pergantian paspor karena habis masa berlakunya, masalah pembayaran gaji yang tertunda serta masalah kepemilikan Perjanjian Kerja Laut (PKL).
Pada kesempatan ini, ABK/WNI disuguhi makanan khas Lebaran seperti empal, rendang dan opor ayam sebagai obat rindu akan tanah air yang disiapkan oleh Dharma Wanita Persatuan KBRI Windhoek. Para ABK/WNI menyambut antusias ketika digelar karaoke bersama (Sumber: Made Santi Ratnasari, Fungsi Pensosbud KBRI Windhoek).