Profil Islam Indonesia yang moderat dan wasatiyyah Islam - Islam jalan tengah - terbuka, toleran serta hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama-agama lain mengemuka pada acara ADAB: Expressions of Indonesian Culture di Fei & Milton Wong Theatre, Simon Fraser University (SFU), Vancouver, Kanada, tanggal 17 Juli 2012.
Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra (Dekan Fakultas Pasca Sarjana, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta) dalam presentasinya yang mengangkat tema "Indonesian Islam: Politics of Multiculturalism".
Acara yang ditujukan untuk merayakan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Kanada ini diselenggarakan atas kerja sama Centre for the Comparative Study of Muslim Societies and Cultures, Simon Fraser University (SFU) dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Vancouver.
Di hadapan hadirin yang berjumlah sekitar 250 orang, diantaranya anggota Parlemen Provinsi British Columbia (BC) Dave Hayer, Korps Konsuler di Vancouver serta para pakar dan pemerhati budaya Islam, Prof. Azyumardi Azra menekankan peran penting dasar negara Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika serta keberadaan organisasi massa berbasis Islam moderat, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai faktor kunci keberhasilan penerimaan konsep multikulturalisme di Indonesia dan promosi nilai-nilai Islam yang damai dan transformatif, khususnya dalam konteks reformasi dan demokratisasi Indonesia pada tahun 1998.
Sementara itu, Dr. Derryl MacLean, Direktur Centre for the Comparative Study of Muslim Societies and Cultures SFU, pada awal acara menjelaskan pengertian adab yang terkait dengan kesopanan, kebaikan, kehalusan budi pekerti, serta keluhuran akhlak yang telah menyatu dalam budaya Indonesia. Hal inilah yang melandasi watak Islam Indonesia yang toleran terhadap perbedaan dan ini pula yang menjadi alasan utama pemilihan tema ADAB: Expressions of Indonesian Culture untuk mencerminkan multikulturalisme di Indonesia.
Pada kesempatan ini Dave Hayer telah membacakan pesan dari Menteri Multikulturalisme BC John Yap yang antara lain menyampaikan bahwa penyelenggaraan acara budaya dan presentasi oleh pembicara kunci Dr. Azyumardi Azra merupakan cara yang tepat untuk merayakan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Kanada. Untuk itu, John Yap mengucapkan terima kasih kepada SFU dan KJRI Vancouver atas upaya menampilkan budaya Indonesia melalui musik, seni dan makanan.
Konsul Jenderal RI Vancouver Bambang Hiendrasto dalam sambutannya antara lain menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada SFU, khususnya Dr. Derryl MacLean serta jajarannya, atas kerja samanya dalam penyelenggaraan acara budaya ini serta perhatiannya terhadap Islam dan multikulturalisme di Indonesia.
Disampaikannya pula, acara ini diharapkan dapat menjadi sumbangan bagi upaya peningkatan hubungan bilateral Indonesia dan Kanada, yang tidak hanya pada tingkat pemerintah namun juga melalui hubungan dan kerja sama antarmasyarakat (people to people contacts).
Sebelum pagelaran kesenian telah dilakukan acara pemotongan tumpeng nasi kuning oleh Konjen RI yang dimaksudkan sebagai "selamatan" dalam rangka perayaan HUT ke-60 Hubungan Diplomatik Indonesia dan Kanada serta menyerahkan tumpeng pertama kepada Bapak dan Ibu Chris Dagg yang telah lama menjadi ‘friends of Indonesia’ serta merupakan salah satu inisiator acara ini.
Pagelaran seni budaya diisi dengan pertunjukan gamelan, tari, dan wayang kulit oleh The Busy Island Gamelan Orchestra, kelompok gamelan Jawa di kota Victoria, BC, dibawah pimpinan Sutrisno Hartana, kandidat doktor pada University of Victoria, dengan bintang tamu Djoko Walujo Wimboprasetyo, instruktur gamelan di California Insitute of Arts dan Universitas California di Los Angeles.
Pagelaran ini dimaksudkan untuk menunjukkan adanya toleransi antarumat beragama dan kekayaan budaya Indonesia dimana wayang kulit dan seni gamelan dijadikan media dakwah dan penyebaran agama Islam walaupun kemunculan wayang dan gamelan dipengaruhi budaya Hindu dan Budha.
Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia terus menjadi perhatian masyarakat internasional, termasuk di Kanada, terutama karena Indonesia dinilai berhasil membumikan nilai-nilai Islam dan demokrasi. Hal inilah yang mendasari SFU untuk mendedikasikan “Indonesia Day” pada tanggal 17 Juli 2012 di tengah penyelenggaraan “2012 International Summer Programme (ISP): Expressions of Diversity, An Introduction to Muslim Cultures” di Kampus SFU.