Angklung Eindhoven dibawah pimpinan Desiree Abdurrachim bersama 18 pemain angklungnya untuk pertama kali melakukan konser instrumen tradisional Indonesia di gedung pertunjukan musik Frits Philips Eindhoven dengan tema “van Verdelen tot Heden – from past to present” Sabtu lalu (9/06).
Yaitu Ade Gunawan; Airlangga Adi Hermawan; Alia Deidranita; Belinda Febrianie; Bernadeth Juami Sutedjo; Burhannudin Sutisna; Choirunnisa Hapsari; Cintya Maylisa Teunisse; Daniel Dimitri Denny Damara; Elva Fitriani; Friso Wieringa; james Panjaitan; Josephine Chrisiani; Nabil Ishak; Ni Nyoman Ayu Ariani-Wolff; Rizki Armanto mangkkuto; dan Xuchen Wang, serta pemain cello Arnaud Setio, pemain bass Joz Bruggeman dan Reyhan Zanis, cymbal Sisdarmanto Adinandra, dan keybord (Yohanes Siem) yang dipandu oleh derigen Ida Soesanti, berhasil memukau 200 penonton dengan lagu klasik, lagu tradisional Indonesia, lagu populer Belanda dan lagu Internasional lainnya.
Turut mendukung konser tersebut adalah soloist Dody Soetanto (bariton) dan Willem de Beer (bariton), keduanya dari konservatori musik Utrecht serta the Ladies Choir.
Lagu klasik yang dipersembahkan yaitu Minuet in G–BWV 114 karya Johann Sebastian Bach; An der Schonen Blauen Donau karya Johann Strauss; Swan Lake, karya Pyotr Illyich Tchaikovsky; Avant de Quitter ces Lieux karya Charles Gounod; Va Pensiero karya Guiseppe Verdi; Funiculi Funicula karya Luigi Denza.
Lagu Indonesia yang disajikan dalam konser tersebut adalah Lalayaran; Nona Manis; Ayo Mama; Rasa Sayange; Yamko Rambe Yamko; dan Janger yang disertai dengan tarian Janger Bali oleh 3 orang penari.
Sementara lagu pop Belanda dan internasional yang dialunkan yaitu Any Dream Will Do karya Andrew Lloyd Webber and Tim Rice; I Have A Dream karya Benny Andersson and Bjorn Ulvaeus; We Are the Champion karya Verdy Mercury; Brabant karya Guus Meeuwis and Jan Willem Rozenboom; Tulpen Uit Amsterdam karya Ralf Arnie; dan New York New York karya John Kander and Fred Ebb.
Derigen Ida Susanti adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan master degree di bidang International Management of Information System dan telah mencapai grade 8 di bidang seni suara dari Royal School of Music. Sejak tahun 2010, Ida telah berperan sebagai derigen dan instruktur paduan suara serta berhasil memenangkan beberapa kompetisi paduan suara internasional.
Pertunjukan berlangsung meriah dan mendapatkan sambutan yang hangat dari para pemerhati musik Indonesia baik dari masyarakat Belanda maupun masyarakat umum lainnya. (KBRI Den Haag/Ed. PY)